Buka konten ini

Kepala BSKAP Kemendikdasmen; Guru Besar Universitas Padjadjaran
DI tengah upaya besar meningkatkan kualitas pendidikan nasional, perhatian publik sering terfokus pada aspek teknis seperti kurikulum, asesmen, atau inovasi teknologi. Padahal, ada pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu dijawab terlebih dahulu: apakah setiap anak datang ke sekolah dalam kondisi siap untuk belajar? Pendidikan bermutu tidak dapat berdiri di atas fondasi yang rapuh. Ia memerlukan ekosistem yang memastikan peserta didik hadir dengan kondisi fisik, mental, dan sosial yang mendukung proses belajar secara optimal.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kesiapan belajar bukan hanya soal motivasi atau kemampuan akademik, tetapi juga berkaitan erat dengan kebutuhan dasar yang terpenuhi. Sulit membayangkan pembelajaran mendalam terjadi ketika sebagian siswa datang dalam keadaan lapar atau kekurangan asupan gizi. Dengan demikian, kualitas pendidikan tidak semata ditentukan oleh apa yang diajarkan di kelas, tetapi juga oleh kondisi biologis yang memungkinkan siswa fokus, memahami, dan berpartisipasi secara aktif.
Dalam konteks inilah program makan bergizi gratis (MBG) menjadi relevan sebagai intervensi strategis yang menjembatani kebijakan sosial dan peningkatan mutu pembelajaran. MBG menghadirkan perubahan paradigma penting: bahwa kesejahteraan dan kesiapan biologis siswa bukan isu tambahan, melainkan fondasi utama bagi terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua.
Nutrisi dan Fokus Belajar
Kualitas pembelajaran selama ini sering diukur dari capaian akademik, tetapi jarang dikaitkan dengan kondisi fisik peserta didik. Padahal, penelitian pendidikan modern menunjukkan bahwa konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir kritis sangat dipengaruhi oleh nutrisi.
Kajian implementasi MBG menunjukkan bahwa hampir separuh murid sebelumnya jarang atau tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Kondisi itu berdampak pada stamina belajar dan kemampuan fokus. Ketika siswa belajar dalam keadaan lapar, potensi pembelajaran mendalam menjadi sulit tercapai.
Seiring dengan implementasi MBG, perubahan mulai terlihat. Siswa lebih bertenaga, lebih siap mengikuti pelajaran, dan menunjukkan partisipasi belajar yang lebih aktif. Guru pun merasakan suasana kelas yang lebih kondusif karena siswa hadir dengan kesiapan fisik yang lebih baik.
Temuan itu menegaskan bahwa mutu pendidikan tidak hanya bergantung pada desain kurikulum atau strategi mengajar, tetapi juga pada kebijakan yang memastikan kebutuhan dasar siswa terpenuhi. Pendekatan ekosistemik menjadi penting: kesehatan, kesejahteraan, dan pedagogi harus berjalan dalam satu kerangka kebijakan yang saling menguatkan.
Budaya Sekolah
MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah. Praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan di antara siswa.
Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna.
Dalam konteks pendidikan abad ke-21, pengalaman sosial seperti ini menjadi penting untuk membangun empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif.
Lebih jauh, MBG berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen nonformal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis. Interaksi semacam itu memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi fondasi penting bagi pembelajaran mendalam. Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar.
Selain itu, MBG dapat menjadi titik masuk untuk membangun budaya sekolah yang lebih holistik, di mana kesehatan, karakter, dan akademik tidak dipisahkan sebagai agenda yang terpisah. Sekolah memiliki kesempatan untuk mengintegrasikan edukasi gizi, kebiasaan hidup sehat, serta nilai tanggung jawab sosial ke dalam praktik keseharian. Dengan demikian, MBG tidak hanya memperbaiki asupan nutrisi, tetapi juga membentuk ekosistem pembelajaran yang selaras dengan visi pendidikan bermutu yang menempatkan siswa sebagai manusia seutuhnya.
Namun, implementasi MBG memerlukan tata kelola yang baik. Ketepatan waktu distribusi dan integrasi dengan jadwal belajar menjadi faktor penting agar program tersebut benar-benar memperkuat kualitas pembelajaran, tidak justru menjadi beban tambahan bagi sekolah.
Transformasi Pendidikan
Dalam perspektif kebijakan nasional, MBG memiliki potensi strategis untuk memperkuat agenda pendidikan bermutu untuk semua. Program itu membantu mengurangi hambatan struktural yang selama ini memengaruhi kesiapan belajar, terutama bagi siswa dari kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah.
Dukungan kuat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan bagian dari strategi besar transformasi pendidikan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya melihat peserta didik secara utuh, bukan hanya sebagai objek akademik, melainkan sebagai individu dengan kebutuhan fisik, mental, dan sosial yang saling terhubung.
Di bawah kepemimpinan Abdul Mu’ti, dukungan terhadap program MBG merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Abdul Mu’ti memandang MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan gizi, melainkan langkah strategis untuk memastikan setiap peserta didik memiliki kesiapan belajar yang setara. Dukungan itu mencerminkan komitmen bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari keberpihakan pada kebutuhan dasar siswa sehingga tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena faktor non-akademik yang seharusnya dapat diatasi melalui kebijakan negara.
Lebih jauh, keberhasilan MBG sangat bergantung pada integritas dan tanggung jawab para panitia serta penyedia makanan bergizi. Amanah negara yang diberikan kepada mereka bukan sekadar tugas administratif, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas generasi masa depan. Setiap proses, mulai pemilihan bahan makanan, pengolahan, hingga distribusi, harus dilaksanakan dengan standar terbaik, transparansi, dan komitmen terhadap kepentingan bangsa.
Ketika amanah itu dipegang teguh, MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi hari ini, tetapi menjadi investasi strategis bagi daya saing Indonesia di masa depan.
Pendidikan bermutu pada akhirnya adalah tentang keberanian menata ulang cara kita melihat pembelajaran. MBG mengajarkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dibangun melalui kebijakan akademik, tetapi juga melalui keberpihakan nyata pada kebutuhan dasar peserta didik. Dari piring makan di sekolah, kita tidak sekadar memberi makanan, tetapi sedang menanam fondasi masa depan Indonesia, generasi yang sehat, siap belajar, dan mampu membawa bangsa ini melangkah lebih jauh. (*)