Buka konten ini

BATAM (BP) – Ramadan tahun ini di Taman Dang Anom, Batam Center, terasa berbeda. Di tengah semarak tenant kuliner dan deretan takjil yang menggoda, ada wajah lain dari perhelatan Batam Wonderfood & Art Ramadan (BWR) ke-7, yakni ruang terbuka yang disulap menjadi taman bermain, tempat belajar, hingga panggung komunitas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menegaskan konsep tahun ini tidak hanya berfokus pada bazar kuliner, melainkan menghadirkan ruang publik yang ramah keluarga.
“Konsepnya itu ruang terbuka untuk bermain. Jadi bukan hanya beli takjil lalu pulang,” ujarnya.
Di dalam kawasan Dang Anom, anak-anak tak sekadar diajak berjalan-jalan. Mereka bisa menggambar, bermain aneka permainan, hingga mengikuti aktivitas kreatif yang disiapkan panitia.
Ada sudut-sudut kecil yang dirancang sebagai tempat diskusi ringan, termasuk ruang bagi komunitas literasi dan membaca.
“Di situ ada tempat menggambar, ada ruang diskusi karena konsepnya taman. Ada tumbuhan, ada mini taman edukasi. Jadi keluarga bisa datang, buka puasa, lalu anak-anak punya ruang bermain,” jelasnya.
Di kota yang ruang terbukanya kian terbatas, Dang Anom menjadi alternatif selain pusat perbelanjaan. Jika biasanya keluarga menghabiskan waktu di mal, kini mereka bisa berkumpul di ruang terbuka, bersilaturahmi, sekaligus menikmati suasana Ramadan.
Tak hanya itu, BWR ke-7 juga membuka ruang kolaborasi sosial.
Perusahaan-perusahaan yang ingin menggelar buka puasa bersama anak yatim dapat membeli voucher senilai Rp100 ribu. Dari jumlah tersebut, Rp50 ribu menjadi voucher belanja bagi anak-anak di area bazar, sementara sisanya berupa paket kegiatan dan konsumsi.
“Bukan tiap hari kita undang, tapi kita menyediakan. Perusahaan bisa ikut berbagi dengan membeli voucher di situ,” kata Ardiwinata.
Panggung utama di Dang Anom pun tak sepi. Selama Ramadan, panggung diisi beragam komunitas, mulai dari forum mahasiswa hingga komunitas seni dan literasi. Tercatat tujuh kampus di Batam turut ambil bagian dalam kompetisi dan pertunjukan yang digelar.
“Ada forum mahasiswa, ada tujuh kampus se-Batam yang ikut. Panggung itu banyak diisi komunitas,” ujarnya.
Selain itu, sejumlah mitra seperti maskapai AirAsia juga ikut meramaikan kegiatan dengan aktivitas interaktif bersama pengunjung. Konsep ini memperluas makna festival, dari sekadar transaksi kuliner menjadi perayaan kolaborasi lintas komunitas.
BWR yang kini memasuki tahun ketujuh bukan hanya agenda tahunan, tetapi telah menjadi ruang temu warga. Tahun ini, sisi edukasi dan ruang bermain menjadi penekanan baru, sebagai upaya menjadikan Ramadan bukan sekadar momen berbuka, melainkan momen membangun kebersamaan.
Di Dang Anom, orang datang bukan hanya membawa pulang makanan. Mereka juga membawa pulang pengalaman: anak-anak yang tertawa di ruang terbuka. (***)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : PUTUT ARIYO