Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Drakor terbaru The Art of Sarah masih bertengger di peringkat pertama Netflix di Indonesia dan berada di posisi ketiga secara global. Serial thriller kriminal tersebut bercerita tentang Sarah Kim (Shin Hye Sun), sosok misterius yang tiba-tiba namanya masuk dalam lingkaran elite Seoul.
Lewat Boudoir, luxury brand yang dia perkenalkan, Sarah Kim berhasil diterima di kalangan old money kota tersebut.
Boudoir kemudian diperkenalkan sebagai salah satu elemen cerita sentral dalam serial delapan episode ini. Oleh Sarah Kim, Boudoir diklaim sebagai luxury brand yang memproduksi tas mewah edisi superterbatas dan hanya melayani 0,1 persen orang terkaya.
Saat diinterogasi detektif Park Mu Gyeong (Lee Jun-hyuk) terkait temuan sesosok mayat misterius, perlahan terungkap bagaimana Sarah Kim membangun brand miliknya.
Dalam interogasi tersebut, Sarah Kim juga disangka melakukan penipuan melalui Boudoir. Di Seoul, ia mengaku sebagai kepala cabang merek tersebut. Namun Sarah membantah seluruh tuduhan. Menurut Sarah, apa yang dia lakukan hanyalah praktik umum dalam industri barang mewah.
Berikut pernyataan Sarah Kim kepada Park Mu Gyeong tentang bagaimana ia membangun Boudoir:
1. Menciptakan Merek
Menurut Sarah, langkah pertama adalah menciptakan merek yang mampu diterima kalangan elite. Ia berusaha membuat konsumen merasa sangat ingin memiliki produk Boudoir karena diyakini dapat meningkatkan status sosial mereka.
2. Harga Tidak Selalu Berkaitan dengan Biaya Produksi
Detektif Park Mu Gyeong menuduh Sarah menipu karena biaya produksi tas hanya sekitar 180.000 won atau sekitar Rp2 juta, tetapi dijual hingga puluhan juta won atau ratusan juta rupiah.
Sarah menegaskan bahwa dalam industri luxury brand, harga tidak ditentukan oleh biaya produksi. Nilai utama justru terletak pada citra dan kekuatan merek.
3. Produksi Lokal dengan Sentuhan Global
Sarah juga dituduh menipu karena mengklaim Boudoir sebagai produk Inggris, padahal dibuat di Korea Selatan.Menurut Sarah, produknya memang diproduksi secara lokal.
Namun, bagian-bagian tas dipisahkan dan dikirim ke Inggris untuk dirakit serta dikemas ulang sebelum kembali dipasarkan di Korea.
Ia menilai praktik tersebut tidak ilegal dan mengklaim banyak brand besar melakukan metode serupa. “Kalau yang lain bukan penipu, saya juga bukan penipu,” kata Sarah Kim.
4. Menciptakan Barang Palsu
Menurut Sarah Kim, sebuah luxury brand justru naik kelas ketika memiliki produk tiruan di pasar. Menyadari hal itu, ia bahkan sengaja membanjiri pasar dengan barang palsu versi Boudoir untuk memperkuat eksklusivitas mereknya.
5. Promosi Mulut ke Mulut di Kalangan Old Money
Detektif Park Mu Gyeong juga menuduh Sarah melakukan penipuan lewat narasi promosi Boudoir sebagai merek yang dibuat untuk kerajaan Eropa sejak 100 tahun lalu dan memiliki sertifikat kerajaan Inggris. Sarah menolak menyebutnya sebagai iklan.
Menurutnya, klaim tersebut berkembang secara alami melalui promosi dari mulut ke mulut.
Dalam serial tersebut diceritakan rumor tentang Boudoir disebarkan melalui pria muda penghibur perempuan kalangan old money. Di pertemuan eksklusif itu, nama Boudoir dihembuskan sebagai simbol status sosial baru bagi kalangan superkaya.
“Dari reputasi lahir kepercayaan. Kepercayaan membesar, lalu lahirlah keyakinan,” kata Sarah Kim. Ia juga menegaskan tidak ada pembeli yang dirugikan, berapa pun harga yang mereka bayarkan.
The Art of Sarah (2026) bukan sekadar thriller kriminal. Serial ini mengungkap misteri sesosok mayat perempuan yang ditemukan di gorong-gorong.
Dari tas dan tato di kaki korban, awalnya mayat tersebut diduga Sarah Kim. Namun penyelidikan menjadi semakin rumit karena identitas korban tidak pernah tercatat resmi semasa hidupnya. Fakta Sarah Kim pernah berganti-ganti identitas membuat kasus pembunuhan tersebut semakin sulit dipecahkan.
Pada akhirnya, The Art of Sarah bukan hanya sebuah serial thriller kriminalitas, tetapi juga potret tentang bagaimana sebuah luxury brand dapat membentuk persepsi, status sosial. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI