Buka konten ini

KEPALA Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, memaparkan target tim Indonesia jelang All England 2026. Federasi menaruh harapan terbesar pada sektor ganda putra untuk meraih gelar, sementara sektor lain diharapkan menunjukkan perkembangan signifikan dan memberi kejutan.
Tim bulu tangkis Indonesia akan tampil pada ajang All England 2026 yang digelar 3–8 Maret 2026 di Utilita Arena Birmingham, Inggris. Turnamen level BWF World Tour Super 1000 itu akan diikuti 24 atlet Pelatnas PBSI.
Sektor ganda putra menjadi andalan dengan jumlah wakil terbanyak, yakni lima pasangan: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Rahmat Hidayat/Muhammad Rian Ardianto, serta Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani. Empat pasangan pertama merupakan ganda binaan Pelatnas dan diproyeksikan memenuhi target gelar.
“Kalau melihat kualitas dan kapasitas atlet yang kita miliki, harapan terbesar memang ada di ganda putra,” ujar Eng Hian saat ditemui di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (23/2).
Meski demikian, PBSI tetap memberi perhatian pada sektor tunggal putra, tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Fokus utama empat sektor tersebut adalah peningkatan performa secara bertahap menuju Los Angeles 2028 Summer Olympics.
Menurut pria yang akrab disapa Didi itu, peluang meraih gelar di luar ganda putra memang belum sebesar sektor andalan tersebut. Namun, kemajuan performa di level elite menjadi indikator penting dalam memetakan peluang medali Olimpiade.
Ia berharap sektor-sektor tersebut mulai melangkah lebih jauh dari sekadar perempat final dan mampu bersaing di fase krusial turnamen level 1000. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan apabila target tidak tercapai.
“Tidak semua sektor harus langsung ditargetkan juara. Kita jalani bertahap. Sektor yang peluangnya besar harus dimaksimalkan, sementara yang lain kita dorong progresnya dan lakukan evaluasi bila belum sesuai harapan,” tegasnya.
Saat ini, PBSI memfokuskan program aklimatisasi sebagai bagian utama persiapan para pemain menghadapi All England Open Badminton Championships 2026 di Utilita Arena Birmingham, Inggris, pada 3-8 Maret.
Eng Hian mengatakan, adaptasi terhadap cuaca, zona waktu, dan kondisi arena menjadi perhatian khusus mengingat turnamen ini berada pada level tertinggi BWF World Tour Super 1000.
“Aklimatisasi menjadi faktor krusial. Tim akan menjalani program aklimatisasi pada 24-28 Februari 2026 di Milton Keynes. Selanjutnya, pada 1 Maret, tim akan berpindah ke kota Birmingham agar para atlet memiliki waktu adaptasi yang optimal dengan venue pertandingan,” ujar Eng Hian dalam keterangan resmi, Senin.
Milton Keynes dipilih karena memiliki fasilitas latihan yang memadai serta lingkungan yang dinilai kondusif untuk membangun kembali ritme latihan setelah perjalanan panjang dari Indonesia ke Eropa.
Menurut Eng Hian, ini dilakukan agar para atlet tidak lagi disibukkan dengan proses penyesuaian saat memasuki hari-hari awal pertandingan.
“Bertanding di level Super 1000 adalah ujian kualitas dan mental. Kami ingin mereka berani menghadapi tekanan, belajar dari sebuah pertandingan besar, dan menunjukkan permainan terbaiknya,” ujar Eng Hian.
Sebanyak 24 atlet Indonesia dijadwalkan tampil pada turnamen tersebut, termasuk sejumlah pemain yang akan menjalani debut di All England 2026. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO