Buka konten ini
NONGSA (BP) – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan kepada warga di Kelurahan Sambau dan Batubesar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menuai keluhan karena dinilai monoton, minim variasi, dan belum memenuhi kebutuhan gizi anak, khususnya balita.
Sejumlah penerima manfaat menyampaikan kekecewaan atas menu yang dibagikan melalui kader posyandu pada Senin (23/2) untuk konsumsi selama tiga hari hingga Rabu (25/2). Warga menilai komposisi makanan yang diterima terkesan asal-asalan dan tidak disusun berdasarkan standar gizi yang jelas.
Pada hari pertama, paket MBG berisi jeruk, serundeng kelapa, dan puding agar-agar. Hari kedua terdiri atas telur rebus, pisang, dan kue. Sementara pada hari ketiga, paket kembali berisi telur, apel, dan kue. Menu tersebut dinilai tidak seimbang serta kurang mengandung unsur protein, karbohidrat, dan sayuran yang memadai untuk tumbuh kembang anak.
Di salah satu sekolah swasta di Batubesar, sejumlah anak TK diberikan menu MBG seperti sebutir telur rebus, satu bungkus roti, sebuah jeruk, dan sebungkus keripik tempei yang isinya hanya tiga keping keripik.
Tak hanya soal komposisi, warga juga menyoroti cara pengemasan. Paket MBG dibungkus menggunakan kantong plastik kresek. Dalam satu paket terdapat dua kantong yang masing-masing berisi tiga item menu untuk hari berbeda. Sedangkan di Batubesar berisi empat menu. Pengemasan itu dianggap kurang layak untuk program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin dengan kualitas makanan yang diterima. Menurutnya, nilai menu per hari terlihat sangat minim dan terkesan sekadar formalitas.
“Kalau dilihat-lihat, menu per harinya sekitar Rp6 ribuan. Seperti asal ada saja. Tidak kelihatan perhitungan gizinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, menu yang disalurkan seolah tidak dirancang sesuai kebutuhan gizi balita. Warga juga mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan, namun belum ada perubahan berarti.
“Sudah lelah dengan menu seperti ini. Sudah protes, tapi tidak ada perbaikan,” katanya.
Bahkan, sebelum Ramadan, ia mengaku pernah menerima lauk tahu yang masih mentah. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kurangnya pengawasan dalam proses pengolahan makanan.
“Terasa sekali tidak matangnya. Harusnya dicoba dulu. Kalau langsung dimakan anak-anak, kasihan,” tuturnya.
Keluhan serupa juga disampaikan penerima manfaat lainnya. Ia menilai, jika kualitas menu tetap seperti saat ini, program MBG sebaiknya dievaluasi secara menyeluruh.
“Kalau menunya seperti itu, lebih baik tidak disalurkan. Jelas tidak memenuhi gizi yang baik untuk anak,” ujarnya.
Warga menjelaskan, pada hari biasa penyaluran MBG dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. Dalam satu kali penyaluran, paket diberikan untuk konsumsi beberapa hari. Biasanya, hari pertama disertai menu siap santap yang juga dinilai kurang menarik, sedangkan hari berikutnya berupa menu kering dengan pola yang hampir sama setiap pekan.
Masyarakat berharap pihak terkait melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, pengemasan, hingga komposisi gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan balita dan anak-anak. Mereka khawatir tujuan program untuk meningkatkan asupan gizi justru tidak tercapai apabila kualitas menu terus dibiarkan seperti sekarang.
“Kalau seperti ini, terlihat hanya mencari untung saja,” tegas salah seorang warga. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO