Buka konten ini

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk pelajar di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, kembali disalurkan setelah sempat terhenti pascalibur Imlek dan Ramadan 2025.
Penyaluran MBG akan dimulai kembali secara serentak pada Senin (23/2). Namun, selama Ramadan 1447 Hijriah, menu yang diberikan kepada pelajar akan disesuaikan.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Tanjungpinang, Retno, mengatakan selama Ramadan menu MBG diganti dengan makanan kering kemasan. Meski demikian, kandungan gizi tetap menjadi perhatian utama.
“Kemungkinan makanan kering kemasan yang sehat. Tanggal 23 disalurkan secara serentak di Tanjungpinang,” ujar Retno, Minggu (22/2).
Ia menjelaskan, penyesuaian menu dilakukan agar makanan dapat dibawa pulang oleh siswa dan dikonsumsi saat berbuka puasa.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menegaskan program MBG tetap berjalan selama Ramadan sesuai arahan Badan Gizi Nasional.
“Sesuai arahan dari Badan Gizi Nasional, MBG selama Ramadan tetap jalan,” katanya.
Ia menyebut, hingga saat ini capaian penerima manfaat MBG di Kepri telah mencapai sekitar 80 persen. Dari total 638 ribu sasaran, sebanyak 503 ribu orang telah dipastikan menerima manfaat program tersebut.
Selain itu, saat ini terdapat 199 titik SPPG yang tersebar di wilayah Kepri untuk mendukung pelaksanaan program.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan kepala PPG wilayah Sumbar, Riau, dan Kepri untuk peningkatan pemenuhan penerima manfaat,” pungkasnya.
Sementara itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bintan tetap berjalan selama Ramadan dengan penyesuaian menu dan mekanisme distribusi. Para penerima manfaat akan mendapatkan paket makanan kering yang tahan lama.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Bintan, Pina Deli, menjelaskan selama Ramadan menu yang diberikan kepada siswa berupa paket makanan sehat yang dapat disimpan hingga waktu berbuka puasa.
“Yang tahan lama seperti abon sapi, abon ayam, telur puyuh, kemudian roti,” ujar Pina, Minggu (22/2).
Ia menegaskan, MBG yang disalurkan bukan makanan ringan kemasan instan. Menu tersebut merupakan produk olahan pelaku UMKM yang telah diproses dengan standar tertentu dan memiliki daya simpan lebih lama.
“Bukan makanan ringan. Kami mencari produk UMKM yang sudah diolah dan tahan lama,” tambahnya.
Untuk sekolah dengan mayoritas siswa nonmuslim, menu MBG akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Penentuan jenis menu mempertimbangkan komposisi serta kebutuhan siswa.
Sementara itu, mekanisme pembagian tetap dilakukan setiap hari bagi sekolah yang masih aktif belajar selama Ramadan.
“Untuk sekolah mayoritas nonmuslim, tetap diberikan makanan seperti biasa, yakni makanan basah. Kalau mayoritas muslim, menunya kami sesuaikan,” pungkasnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY