Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengkritisi besarnya pengaruh Amerika Serikat dalam Board of Peace (BoP) untuk Gaza, terutama peran Presiden AS, Donald Trump.
Ia menilai arah kebijakan BoP saat ini terlalu didominasi Washington dan belum sepenuhnya mencerminkan kepekaan terhadap tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Gaza.
Dalam catatan yang diunggah melalui akun X pribadinya, Dino menyebut bahwa meskipun aspek keamanan mulai bergerak—ditandai dengan pembentukan Palestinian Security Force dan International Stabilization Force—fondasi politik serta moral dari proses tersebut masih belum kokoh.
Menurutnya, tantangan di lapangan, khususnya terkait agenda demiliterisasi, tidaklah ringan.
Namun, perhatian utamanya tertuju pada nada pidato perwakilan Amerika dalam berbagai forum internasional, termasuk di PBB. Ia menilai pernyataan-pernyataan tersebut belum menunjukkan empati yang memadai terhadap korban jiwa dan penderitaan rakyat Gaza selama dua tahun konflik berlangsung.
“Saya tidak merasakan empati dari pidato-pidato pihak Amerika terhadap korban jiwa dan penderitaan warga Gaza,” ujarnya.
Dino juga menyoroti pernyataan salah satu anggota eksekutif BoP yang menyinggung potensi nilai properti Gaza hingga USD150 miliar. Ia mengingatkan bahwa pendekatan yang terlalu menonjolkan aspek bisnis dan investasi berisiko mengabaikan luka batin masyarakat Palestina yang masih diselimuti trauma dan kehilangan.
Baginya, upaya rekonstruksi Gaza semestinya tidak diperlakukan semata sebagai proyek pembangunan atau peluang ekonomi, melainkan harus bertumpu pada prinsip keadilan politik dan kemanusiaan.
Ia menambahkan, dominasi Amerika berpotensi memengaruhi arah BoP yang idealnya bersifat inklusif dan dipimpin oleh Palestina sendiri (Palestine-led). Menurutnya, hingga kini proses tersebut belum benar-benar berada di bawah kepemimpinan rakyat Palestina.
Selain itu, meski negara-negara mayoritas Muslim di BoP terlihat solid, Dino mengingatkan adanya potensi perbedaan kepentingan di antara para anggota, termasuk antara Trump dan Perdana Menteri Israel, yang dapat memicu ketegangan baru.
Ia memperingatkan bahwa tanpa kejelasan arah politik dan komitmen yang sejalan, BoP berisiko mengalami kebuntuan, bahkan kegagalan.
Dalam pandangannya, kritik terhadap dominasi Amerika bukan sekadar persoalan politik, melainkan pengingat bahwa forum internasional seperti BoP harus peka terhadap dimensi kemanusiaan serta aspirasi kemerdekaan Palestina, bukan hanya berfokus pada stabilitas keamanan atau perhitungan ekonomi.
BoP, tegasnya, tidak boleh menjadi ruang yang mereduksi aspirasi politik Palestina. Tanpa kejelasan status kenegaraan, perdamaian yang dibangun dikhawatirkan kehilangan makna bagi rakyat Gaza. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO