Buka konten ini

BATAM (BP) – Sepekan menjelang Ramadan, suasana jalan menuju TPU Sei Temiang, Sekupang, tampak lebih hidup dari biasanya. Deretan lapak sederhana berdiri di bawah rindang pepohonan, menjadi penanda musim ziarah kubur telah tiba.
Meja kayu, peti bekas, hingga payung merah menyala berjejer di tepi jalan menuju TPU Sei Temiang. Para pedagang menjajakan kembang tabur dan air mineral untuk peziarah yang datang mendoakan keluarga mereka.
Tradisi ziarah kubur sebelum memasuki bulan suci telah mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim Kepulauan Riau. Di Batam, TPU Sei Temiang menjadi salah satu lokasi favorit untuk mendoakan orang tua, pasangan, hingga kerabat yang telah berpulang.
Hasnah, penjual kembang tabur yang hampir 10 tahun berjualan di kawasan tersebut, merasakan betul denyut tradisi ini setiap tahun. Sejak dua minggu sebelum puasa, dagangannya mulai diburu peziarah.
“Ada yang dari luar Batam, seperti Karimun, Tanjungpinang, dan Bintan juga,” ujarnya sembari merapikan plastik berisi campuran bunga warna-warni, Rabu (18/2).
Menurutnya, peziarah dari luar kota biasanya datang lebih awal untuk menghindari kepadatan. Mereka sekaligus memanfaatkan momen pulang kampung atau kunjungan keluarga menjelang Ramadan. “Kalau warga Batam biasanya ramai satu minggu terakhir. Tiga hari kemarin paling ramai. Sekarang sudah mulai sepi,” katanya.
Saat puncak keramaian, Hasnah mengaku bisa menjual puluhan bungkus kembang tabur dalam sehari. Momentum jelang Ramadan menjadi salah satu waktu paling dinanti.
“Alhamdulillah, bisa tambah-tambah untuk kebutuhan rumah. Tapi ya hanya ramai saat-saat begini saja,” tuturnya.
Tak jauh dari lapaknya, pedagang lain juga sibuk melayani pembeli yang singgah sebelum memasuki area pemakaman. Beberapa peziarah memilih duduk sejenak, menyiapkan bunga dan membaca doa sebelum melangkah ke pusara keluarga.
Tian (45), warga Sekupang, mengaku rutin berziarah setiap menjelang Ramadan. Tahun ini ia datang bersama istri dan anaknya untuk mendoakan orang tuanya yang telah wafat. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : PUTUT ARIYO