Buka konten ini

SAKHIR (BP) – Kejuaraan Formula 1 2026 memang belum dimulai. Artinya, regulasi baru juga belum secara resmi diterapkan. Namun, karakter mobil baru generasi terbaru 2026 sudah lebih dulu memicu perdebatan serius. Hal itu tampak setelah seluruh tim menjalani tes pramusim di Sirkuit Internasional Bahrain pada 11-13 Februari.
Max Verstappen jadi pembalap paling keras melontarkan kritik. Pembalap Red Bull itu menilai mobil generasi baru rasanya tidak lagi seperti F1 yang dia kenal.
“Saya ingin realistis sebagai seorang pembalap, sensasinya tidak terlalu mirip F1. Rasanya lebih seperti Formula E dengan steroid,” kata Verstappen dikutip dari GPBlog usai menjalani tes hari kedua, Kamis (12/2).
Dominasi Tenaga Listrik
Kritik Verstappen cukup beralasan. Regulasi power unit F1 2026 membuat kontribusi tenaga elektrik semakin membesar, sehingga pengelolaan baterai menjadi krusial.
Pembalap tidak lagi sekadar memacu mobil sepanjang balapan, tetapi harus menentukan kapan melepas energi dan kapan menyimpannya.
Satu pola baru kemudian tampak selama tes di Bahrain. Pembalap bisa sengaja melambat di tikungan. Tujuannya, agar memiliki cadangan energi lebih besar untuk dimaksimalkan di lintasan lurus. Kehilangan waktu 0,2 detik di tikungan disebut dapat ditebus dengan keuntungan sekitar 0,3 detik di lintasan lurus.
Nah, situasi itu menggeser makna balapan. Dari murni duel kecepatan, jadi pertarungan manajemen energi super kompleks. “Aturannya sama untuk semua, jadi saya harus menghadapinya, dan itu juga bukan masalah saya, karena saya mendukung itu. Tetapi sebagai pembalap sejati, saya menikmati mengemudi dengan kecepatan penuh, dan saat ini, saya tidak bisa mengemudi seperti itu,” kata Verstappen.
Norris Sindir Verstappen
Meski begitu, tidak semua pembalap melihatnya sebagai masalah. Pembalap McLaren, Lando Norris menyebut perubahan itu sebagai bagian alamiah dari evolusi F1. Juara dunia F1 tahun lalu itu bahkan merespons pernyataan Verstappen dengan tegas.
“Sangat menyenangkan. Saya sangat menikmatinya. Jika dia (Verstappen) ingin pensiun, dia bisa pensiun. Formula 1 selalu berubah,” tegasnya seperti dikutip dari GPBlog. “Kami dibayar dengan upah sangat besar untuk balapan, jadi pada akhirnya kami tidak bisa benar-benar mengeluh.”
Kebetulan, Norris tampil cukup solid selama tes di Bahrain. Pada hari kedua dia menyelesaikan 149 lap, terbanyak dibanding pembalap lain. Pembalap 26 tahun itu juga konsisten berada di posisi atas catatan waktu tercepat.
“Setiap pembalap bisa pergi (dari F1) dan mencari pekerjaan lain. Bukan berarti dia harus berada di sini, atau pembalap mana pun harus berada di sini, tetapi ini adalah tantangan. Ini adalah tantangan yang bagus dan menyenangkan bagi para teknisi dan pembalap,” tutur Norris. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO