Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau Tahun Kuda Api di Kabupaten Kepulauan Anambas berlangsung meriah dan penuh kebersamaan, Senin (16/2) malam. Momen pergantian tahun itu tidak hanya dirasakan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi pengalaman tak terlupakan bagi belasan pelajar asal Denmark.
Sejak sore, warga mulai memadati Vihara Gunung Dewa Siantan di Desa Sri Tanjung, Kecamatan Siantan. Lampion merah menghiasi area vihara, sementara lilin-lilin besar menyala menerangi halaman tempat ibadah tersebut.
Puncak perayaan dipusatkan di vihara tersebut pada malam hari. Ratusan warga dari berbagai latar belakang hadir mengikuti rangkaian ibadah sekaligus menyaksikan pertunjukan budaya yang disiapkan panitia.
Suasana semakin semarak saat dentuman tambur barongsai menggema. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias menyaksikan atraksi barongsai yang meliuk mengikuti irama musik tradisional Tionghoa.
Yang membuat perayaan tahun ini terasa berbeda adalah kehadiran 15 pelajar asal Denmark. Mereka berbaur dengan masyarakat, ikut menari bersama, bahkan mencoba memainkan barongsai di halaman vihara.
Dengan wajah penuh antusias, para pelajar itu tak canggung mengikuti setiap rangkaian acara. Mereka belajar langsung gerakan barongsai dari pemain lokal, sesekali disambut tepuk tangan warga.
Salah seorang pelajar, Rasmus, mengaku terkesan dengan suasana Imlek di Anambas. Ia menyebut pengalaman tersebut menjadi momen berharga selama berada di Indonesia.
“Saya sangat senang bisa menikmati pergantian tahun Imlek ini. Di Denmark tidak ada perayaan seperti ini. Suasananya hangat, semua orang berkumpul dan berbagi kebahagiaan,” ujarnya.
Ia menilai keberagaman budaya di Indonesia sangat unik. Masyarakat dari berbagai suku dan agama dapat hidup berdampingan tanpa saling membeda-bedakan.
“Di sini saya melihat orang-orang saling menghormati. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau menjatuhkan yang lain. Semua berbaur dan itu sangat menginspirasi bagi kami,” tambahnya.
Rasmus dan rekan-rekannya diketahui menetap di Anambas selama tiga bulan. Mereka menyewa Pulau Nongkat sebagai tempat tinggal sementara untuk mempelajari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat secara langsung.
Menurutnya, kesempatan tinggal di pulau kecil dan berinteraksi dengan warga menjadi pengalaman yang tak didapatkan di negaranya.
Ia berharap dapat menceritakan pengalaman tersebut kepada keluarga dan teman-temannya saat kembali ke Denmark.
Sementara itu, tokoh Tionghoa Anambas, Ahak, menilai perayaan Imlek tahun ini terasa istimewa. Kehadiran pelajar dari Denmark dinilai menambah warna dan semangat kebersamaan.
“Kami terbuka kepada siapa saja yang ingin belajar budaya Tionghoa. Ini menjadi kebanggaan karena budaya di Anambas bisa dikenal hingga luar negeri,” ujarnya.
Ahak meyakini para pelajar tersebut akan membawa cerita positif tentang Anambas. Ia berharap hal itu dapat mendorong minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung.
Perayaan Imlek 2577 di Anambas menjadi bukti bahwa keberagaman budaya mampu menyatukan perbedaan, bahkan melintasi batas negara, dalam suasana penuh sukacita dan persaudaraan. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY