Buka konten ini

WAKIL Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak melakukan aksi sweeping menjelang maupun selama bulan Ramadan.
Sweeping yang dimaksud adalah tindakan razia atau penertiban secara sepihak oleh kelompok masyarakat terhadap rumah makan, tempat usaha, atau aktivitas lain yang dinilai melanggar norma selama Ramadan.
Anwar Abbas menekankan pentingnya menjaga sikap saling menghormati antarumat beragama demi menciptakan suasana yang aman, tertib, dan kondusif selama umat Islam menjalankan ibadah puasa.
“Kita berharap tidak perlu ada sweeping-sweeping-an, karena sebelum puasa pemerintah sudah seharusnya menyosialisasikan dan memberi pengertian kepada masyarakat luas tentang pentingnya sikap saling menghormati agama, kepercayaan, dan ibadah masing-masing,” kata Anwar Abbas dalam keterangannya, Senin (16/2).
Pernyataan tersebut disampaikan Anwar Abbas menanggapi kebijakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang melarang aksi sweeping terhadap rumah makan selama Ramadan.
Menurut Anwar, umat Islam tidak perlu melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik sosial di tengah masyarakat.
“Beberapa hari lagi umat Islam akan berpuasa selama satu bulan penuh dalam Ramadan. Karena itu, umat Islam tidak perlu melakukan sweeping dan tindakan-tindakan lain yang justru dapat mengganggu ketenangan beribadah,” tegasnya.
Di sisi lain, Anwar Abbas meminta pemerintah daerah berperan aktif dalam menciptakan suasana saling menghormati di wilayah masing-masing. Ia berharap pemda, termasuk Pemerintah Provinsi Jakarta, dapat mengatur dan menertibkan aktivitas para pedagang.
“Kita berharap kepada pemerintah, termasuk Gubernur Jakarta, agar dapat mengatur dan menertibkan para pedagang sehingga aktivitas mereka tidak mengganggu ibadah umat Islam yang sedang berpuasa,” ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya menjaga ketertiban dan toleransi selama Ramadan. Ia menyatakan tidak mengizinkan siapa pun, termasuk organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, melakukan razia atau sweeping terhadap rumah makan.
“Saya sebagai gubernur bertanggung jawab menjaga ketertiban itu, dan saya tidak mengizinkan adanya sweeping,” ujar Pramono di Jakarta Pusat, Sabtu (14/2).
Menurut Pramono, suasana Ramadan harus menjadi momentum memperkuat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama. Ia juga mengingatkan bahwa Jakarta masih berada dalam suasana perayaan Imlek sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
“Setelah perayaan Imlek selesai, Jakarta akan sepenuhnya memasuki suasana Ramadan dan menyambut Idulfitri,” pungkasnya. (***)
LAPORAN: JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK