Buka konten ini
BATAM (BP) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam menggelar rukyatul hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah. Pengamatan bulan sabit muda itu dipusatkan di menara Masjid Agung Sultan Mahmud Riayat Syah, Tanjung Uncang, Batuaji, Selasa (17/2).
Kepala Kantor Kemenag Batam, Budi Dermawan, mengatakan pemantauan hilal tersebut merupakan bagian dari rangkaian verifikasi nasional yang dikoordinasikan Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Data hasil pengamatan dari Batam akan dikirim langsung ke pusat di Jakarta sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat,” kata Budi.
Menurut dia, rukyatul hilal tidak hanya berfungsi sebagai proses ilmiah penentuan awal bulan Hijriah, tetapi juga menjadi momentum spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Untuk memastikan keabsahan hasil pengamatan, Kemenag Batam melibatkan sejumlah unsur teknis dan otoritas keagamaan. Tim teknis terdiri atas BMKG wilayah Batam, Pengadilan Agama Batam, serta perwakilan Pemerintah Kota Batam.
Selain itu, unsur ulama dan organisasi kemasyarakatan Islam turut diundang, antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Washliyah, PERTI, LDII, serta Badan Hisab Rukyat Kota Batam.
Pemilihan menara masjid sebagai lokasi pemantauan menandai perubahan pola pengamatan di Batam dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebelumnya, Kemenag kerap menggunakan lokasi alam terbuka seperti Bukit Dangas dan Tanjung Pinggir yang dinilai memiliki sudut pandang ufuk barat lebih terbuka,” kata Budi.
Namun sejak 2025, menara masjid dinilai lebih representatif karena didukung fasilitas yang memadai, akses yang lebih mudah, serta ketinggian yang menunjang observasi astronomi.
Secara nasional, Kementerian Agama melakukan pemantauan hilal di 96 titik di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Kepulauan Riau, selain Batam, lokasi pemantauan juga dilakukan di Pantai Tanjung Setumu, Tanjungpinang, dan Pantai Pelawan, Karimun.
Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak menjelang Ramadan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.
Saat matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Sementara itu, sudut elongasi berada pada kisaran 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.
Data tersebut menunjukkan bahwa hilal secara teoritis belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan, termasuk kriteria MABIMS.
Untuk melengkapi data hisab tersebut, Kemenag tetap melaksanakan rukyatul hilal di 96 lokasi. Pengamatan dilakukan oleh kantor wilayah Kemenag provinsi serta kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan pengadilan agama, organisasi kemasyarakatan Islam, dan instansi terkait lainnya.
“Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam Sidang Isbat,” tegas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad.
Pemerintah mengimbau masyarakat menunggu pengumuman resmi penetapan awal Ramadan melalui Sidang Isbat nasional yang digelar pada malam hari, setelah seluruh laporan rukyatul hilal dihimpun dan diverifikasi.
Muhammadiyah Ajak Sikapi Perbedaan dengan Tasamuh
Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2) ini. Menyikapi potensi perbedaan awal puasa, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak masyarakat bersikap cerdas dan tasamuh.
“Perbedaan awal puasa adalah ruang ijtihad. Tidak perlu saling menyalahkan dan tidak merasa paling benar sendiri,” ujar Haedar, Selasa (17/2).
Menurutnya, perbedaan tersebut perlu disikapi secara arif dan bijaksana, dengan tetap menjadikan puasa sebagai sarana meningkatkan ketakwaan serta memperkuat relasi sosial di tengah masyarakat.
“Ramadan seharusnya menjadi kanopi sosial kita, yang menahan emosi, amarah, dan hasrat yang merusak kehidupan bersama,” pungkasnya. (*)
Reporter : AZIS MAULANA, JP GROUP
Editor : Ratna Irtatik