Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Di tengah kemarau panjang yang membuat debit waduk terus menyusut, Pemerintah Kota (Pemko) Batam bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam masih mengandalkan langkah-langkah sementara untuk menjaga pasokan air bersih bagi warga.
Kepala BP Batam yang juga Ex Officio Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengakui hingga kini solusi utama masih bersifat jangka pendek. Saat ditanya mengenai alternatif selain menunggu hujan, ia menyebut pihaknya fokus pada langkah optimalisasi kapasitas waduk melalui pelebaran dan pembersihan saluran air.
“Untuk sementara kami maksimalkan daya tampung air yang ada dengan pelebaran dan pembersihan saluran serta waduk,” ujar Amsakar kepada Batam Pos, Rabu (11/2).
Selain itu, perbaikan sistem distribusi menjadi perhatian utama tahun ini. BP Batam dan Pemko menjalankan sembilan kegiatan penanganan distribusi air. Dari total 18 kawasan yang masuk kategori stress area, sembilan di antaranya telah tertangani.
“Ada 18 stress area, tapi sekarang baru sembilan yang teratasi. Masih ada sembilan area yang kesulitan mengalir air bersih. Kami bersama Ibu Wakil baru mampu menganggarkan segitu,” katanya.
Ia mengakui kondisi tersebut belum sepenuhnya ideal. Namun, Pemko Batam berkomitmen melanjutkan perbaikan secara bertahap. “Tahun depan kami akan memperbaiki lagi,” tambahnya.
Untuk jangka pendek, Pemko bersama BP Batam menyiapkan distribusi air menggunakan armada truk tangki ke wilayah yang alirannya terganggu. Skema ini telah dibahas dalam rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam.
“Kalau tidak salah di rapat terakhir ada 21 armada, sementara kebutuhannya 34 armada. Sekarang sudah ada. Pokoknya kita sewakan semua walaupun armada air ini terbatas,” jelas Amsakar.
Karena keterbatasan armada, pemerintah melakukan modifikasi dengan memasang tandon di atas truk tangki. Saat ini tersedia 34 armada yang digunakan untuk mengisi sekitar 100 tandon per hari di 18 titik stress area.
Langkah tersebut diambil agar kebutuhan air warga tetap terpenuhi, terutama menjelang bulan suci Ramadan dan perayaan Imlek.
“Saya minta memasuki Ramadan dan Imlek jangan lagi ada gangguan kebutuhan air terhadap warga,” tegasnya.
Meski demikian, Amsakar menyadari distribusi menggunakan tangki hanya solusi konvensional dan belum tentu mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan yang terus meningkat.
“Misalnya kita antar tiga, tetapi mintanya empat. Nanti sudah kita penuhi empat, bisa jadi ke depan karena kebutuhan air makin tinggi mintanya lima,” ungkapnya.
Ia berharap upaya sementara ini setidaknya mampu menjaga kebutuhan dasar masyarakat sembari menunggu pembenahan jangka panjang yang lebih permanen. “Mudah-mudahan ibadah kita terlaksana dengan baik,” tutupnya. (*)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO