Buka konten ini

Kabar kepindahan pabrik Teh Prendjak dari Tanjungpinang ke Kendal, Jawa Tengah, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pecinta teh lokal. Warga khawatir aroma khas, rasa, dan harga yang sudah akrab akan berubah, meski perusahaan menegaskan identitas dan kualitas teh tetap terjaga.
PAGI itu, aroma hangat Teh Prendjak masih menyelimuti warung kopi kecil di Tanjungpinang. Sebuah cangkir teh pekat diseruput perlahan, diiringi suara tukang roti yang menata dagangan. Bagi Sri, 55, dan warga setempat, Teh Prendjak bukan sekadar minuman—ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, pengikat obrolan pagi dan sambutan hangat untuk tamu.
“Kami sudah minum Teh Prendjak sejak lama. Wanginya itu, khas dan bikin rindu,” kata Sri, sambil tersenyum mengenang pagi-pagi bersama secangkir teh.
Namun, kabar kepindahan pabrik Teh Prendjak dari Tanjungpinang ke Kendal, Jawa Tengah, membuat hati para pecinta teh di kota ini bergetar. Langkah itu dipandang sebagai kehilangan aroma yang telah melekat di ingatan mereka selama puluhan tahun.
Bagi sebagian warga, Teh Prendjak bukan sekadar produk lokal. Ia adalah ritual pagi, teman obrolan, dan identitas rasa yang tak bisa digantikan. Kekhawatiran terbesar adalah, apakah aroma dan harga yang sudah akrab itu akan tetap sama jika produksi berpindah jauh dari akar asalnya.
Di sisi perusahaan, langkah relokasi dianggap strategis. Regional Manager PT Panca Rasa Pratama, Mustardi, menjelaskan, pemindahan pabrik dimaksudkan untuk mendekatkan proses produksi ke sumber bahan baku utama serta pasar besar di Pulau Jawa.
“Relokasi ini untuk efisiensi, sekaligus memperkuat distribusi ke Jawa, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Sebagian besar bahan baku kami memang berasal dari Jawa,” ujarnya, Senin (2/2).
Meski begitu, Mustardi menegaskan, identitas Teh Prendjak sebagai produk asli Tanjungpinang tetap dijaga. “Kami ingin rasa dan kualitasnya tetap sama. Sejarah panjang Teh Prendjak tidak akan hilang,” tambahnya.
Di pelosok Kepulauan Anambas, Teh Prendjak juga sudah menjadi teman setia. Yolana, 27, penikmat setia dari Tarempa, mengaku sudah menyesap teh itu sejak kecil. Varian serbuk menjadi favorit keluarganya. Setiap pagi, aroma teh yang baru diseduh menyelimuti dapur mereka, memberi semangat baru untuk memulai hari.
“Kalau teh ini hilang atau rasanya berubah, rasanya seperti kehilangan sebagian dari rumah sendiri,” ungkap Yolana. Ia pun berharap kepindahan pabrik tidak memengaruhi harga, terutama di daerah terluar seperti Anambas.
Selain serbuk dan celup, Teh Prendjak juga hadir dalam varian Matcha, Teh Tarik, Teh Hijau, dan Lemon Tea. Semua tetap bisa dinikmati di pasar lokal, tapi ada kekhawatiran bahwa identitas asli teh dari Tanjungpinang perlahan akan tersamar.
Di balik rasa dan aroma, Teh Prendjak adalah cerita tentang tanah, sejarah, dan kenangan yang melekat di lidah warga. Kepindahan pabrik mungkin efisien bagi bisnis, tapi bagi masyarakat, aroma yang dirindukan itu kini terancam menjauh. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL – IHSAN IMADUDDIN
Editor : RATNA IRTATIK