Buka konten ini

KARIMUN (BP) – PT BEST (Bakti Energi Sejahtera) YPK PLN merupakan Anak Perusahaan YPK PLN yang kegiatan usaha utamanya adalah produksi dan pemasok biomassa untuk mendukung program cofiring PLTU PLN dalam rangka penurunan emisi karbon dan sekaligus mengembangkan green energy atau energi hijau melalui penyediaan biomassa.
Cofiring PLTU PLN merupakan substitusi/penggantian sebagian bahan bakar fosil (batu bara) yang digunakan PLTU dengan bahan bakar lain yang lebih ramah lingkungan (biomassa).

Menurut Direktur Utama PT BEST YPK PLN, Lutfi Nazi, perusahaannya (PT BEST, red) sejak tahun 2022 sebagai implementor atau pelaksana produksi dan pasokan biomassa ke sebagian besar PLTU PLN di Indonesia. Sehingga, pihaknya senantiasa all out mendukung substitusi program pengembangan biomassa dalam rangka penurunan pemakaian energi fosil pembangkit listrik PLN.
Saat ini, PT BEST sudah memasok biomass wood chip dan sawdust di 17 PLTU PLN di Indonesia. Salah satunya pasokan biomassa di PLTU Tanjungbalai Karimun dengan jumlah pasokan per tahun 6 ribu ton. Di tahun 2026 ini, PT BEST YPK PLN berharap bisa berkontribusi sebanyak +/- 1 juta ton pasokan biomassa di program cofiring-nya PLN yang dilaksanakan melalui PT PLN Energi Primer Indonesia (PL EPI) yang dikomandani oleh Direktur Bioenergi, Pak Hokkop Situngkir,” papar Lutfi.
Sambung Lutfi, program PLN EPI penyediaan biomassa di tahun itu 2026 adalah ini sebesar 3.650.000 ton, dan PT BEST YPK PLN akan berkontribusi di atas 25 persen atau hampir 30 persen.
Mewujudkan target ini tentunya harus dengan komitmen yang kuat. Termasuk upaya di lapangan yang serius dan teguh, dengan melibatkan masyarakat luas terkait penyediaan ketahanan energi, transportasi hingga terpenuhinya produk biomassa yang siap diterima di PLTU PLN.
“Program biomassa sekaligus menjadi circle untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sehingga, melalui program ini keterlibatan masyarakat secara luas untuk memberikan dukungan. Yakni, mulai dari penanaman hulu tanaman energi dan kayu sejenisnya yang bisa dalam waktu relatif pendek sudah bisa dipanen ulang. Dan juga replanting tanaman-tanaman keras yang sudah tidak produktif dapat untuk dijadikan biomassa. Sehingga, selanjutnya, ketersediaan bahan baku tanaman itu bisa berkelanjutan dan menjadi dukungan target pemenuhan biomassa 1 juta ton di tahun 2026 itu,” ungkapnya.
Dikatakan Lutfi, PLTU Tanjungbalai Karimun sudah menggunakan wood chip sejak 2024. PLTU Tanjungbalai Karimun bisa disubstitusi dengan biomassa, PLTU yang ada di sini (Tanjungbalai Karimun) itu jenis stoker 2 x 5 MW sehingga cukup mudah dalam implementasi cofiring biomassa secara bertahap 5 hingga 100 persen.
“Kalau untuk pasokan di Tanjungbalai Karimun sendiri kami menarget di atas 6 ribu ton. Sehingga, nanti bisa mendukung program nasional. Dengan 6 ribu ton biomass yang digunakan PLTU tersebut sudah mencapai sekitar 8 persen cofiring,” ujarnya.
Sambung Lutfi, saat ini PLTU Tanjungbalai Karimun tidak hanya menggunakan bahan bakar fosil atau jenis batu bara itu. Tapi, juga menggunakan biomass yang dipasok oleh PT BEST YPK PLN. Dengan menggunakan biomassa tentu saja mengurangi pencemaran atau emisi dari hasil pembakaran.
“Presentasi volume pemakaian biomassa ini akan dilakukan bertahap dan juga butuh dukungan dari masyarakat luas, khususnya masyarakat yang ada di kawasan sekitar kepulauan Tanjung Balai Karimun untuk dukungan kayu bahan bakunya,” ungkapnya.
Direktur Biomassa PT PLN EPI, Hokkop Situngkir dalam kunjungannya ke Tanjungbalai Karimun pada hari Senin 9 Februari 2026 malam mengatakan, setelah melihat langsung ke lokasi produksi listrik PLTU Tanjungbalai Karimun (2 x 7 MW) mulai dari jeti unloading bahan bakar sampai dengan masuknya bahan bakar ke mesin pembangkit listrik, maka PLTU jenis stocker ini memang mumpuni untuk cofiring biomassa. “Memang, masih ada sarana dan prasarana pendukung yang harus ditingkatkan. Sehingga, proses cofiring di PLTU bisa lebih baik,” paparnya.
Secara bertahap nanti, kata Hokkop, energi hijau melalui biomassa akan lebih berperan dalam menjamin pasokan listrik untuk publik atau masyarakat. Sehingga, dengan semakin tumbuhnya pemakaian bahan bakar biomassa akan berpengaruh positif terhadap circulare pertumbuhan ekonomi kerakyatan dilingkungan wilayah PLTU.
Menurut Hokkop, dengan kondisi mesin PLTU Tanjungbalai Karimun yang mumpuni ini, sangat memungkinkan pelaksanaan cofiring dgn bahan bakar biomassa dari target tahun 2026 sebesar 6000 ton/tahun (8 persen) bisa ditingkatkan hingga +/- 40.000 ton/tahun (50 persen) pada tahun 2027 dan seterusnya. Hal ini mengingat pada tahun 2024 PLTU Tanjungbalai Karimun telah melakukan uji coba cofiring dengan bahan bakar wood chip hingga 100 persen
Pemenuhan pasokan biomassa di PLTU Tanjungbalai Karimun saat ini telah dilaksanakan oleh PT BEST YPK PLN (anak perusahaan YPK PLN/group afiliasi PLN) dari hasil produksi beberapa sumber di beberapa lokasi Kepulauan Riau.
Dikesempatan kunjungan kerja Direktorat Bioenergi PLN EPI ini, Hokkop juga berkunjung ke Pusat Listrik Bahan Bakar Synthetic Gas hybrid Solar Cell milik Karimun Power Plant (KPP) yang melayani kelistrikan di kawasan khusus industri di Tanjungbalai Karimun.
Dimana synthetic gas pada pembangkit KPP ini diproduksi dari bahan baku kayu wood chip melalui proses reaktor gasifier. Sehingga menghasilkan gas synthetic yang ramah lingkungan dan memenuhi syarat untuk bahan bakar mesin pembangkit listrik KPP dengan kapasitas terpasang 2 x 500 KW.
Pada hari Selasa 10 Agustus 2026 pagi hari, Hokkop melanjutkan kunjungan kerjanya di Pulau Kundur di Pembangkit Listrik Synthetic Gas kapasitas terpasang (3 x 500 KW) milik PT PGI yg sudah berotasi sejak tahun 2017 dengan daya mampu rata-rata 1.000 KW.
Beroperasinya Pembangkit Listrik Synthetic Gas di Pulau Kundur ini, menjadi contoh nyata terlaksananya program kemandirian energi mulai dari sisi hulu berupa penyediaan hutan tanaman energi masyarakat setempat hingga hilir berupa pengolahan hasil wood Chip yang menjadi bahan baku pokok proses gasifier produksi Synthetic gas, yang sekaligus menjadi bagian program Dediselisasi di PLN secara bertahap.
Hokkop melanjutkan penjelasannya, melalui program Pembangkit Listtik Synthetic Gas ini merupakan salah satu pilihan yg tepat diimplementasikan di daerah-daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) di wilayah Indonesia yang sekaligus menjadi bagian percepatan program Dediselisasi Nasional.
Program ini sekaligus akan menumbuhkan circular ekonomi masyarakat di daerah-daerah setempat.
Dimana masyarakat setempat menjadi bagian penting yanh akan ikut terlibat dukungan penyiapan hutan tanaman energi yang hasil produksi kayunya bisa terjaga berkesinambungan jangka panjang dan sekaligus terwujudnya bauran energi yang ramah lingkungan di mana limbah dari produksi synthetic hasil ini adalah karbon aktif yg dapat dipergunakan untuk memperbaiki hara kesuburan tanah setempat. (*)
LAPORAN : SANDI PRAMOSINTO
Editor : RATNA IRTATIK