Buka konten ini

Dosen Filsafat STKIP Widya Yuwana Madiun
BARU saja terdengar kisah pilu dari Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang bocah mengakhiri hidup akibat situasi kemiskinan yang membuatnya putus asa. Peristiwa itu mungkin menjadi olok-olok dari sudut pandang agama tentang dangkalnya keputusan suatu generasi yang masih belia. Bisa saja penghakiman secara bertubi dan kejam dialamatkan kepada bocah itu dan keluarganya tentang sempitnya cara berpikir mereka.
Namun, kisah itu menjadi lain sama sekali maknanya jika diletakkan dalam konteks besar keindonesiaan. Kisah pilu tersebut justru menjadi cambuk, alarm, dan sekaligus pengingat tentang betapa miskin dan rentannya kualitas hidup sebagian besar manusia di negeri yang katanya makmur ini, kaya akan berbagai kekayaan alam.
Kontradiktif
Peristiwa tragis tersebut terjadi justru tepat setelah sang pemimpin negara dengan bangga, lantang, serta berapi-api menyampaikan capaiannya lewat program makan bergizi gratis (MBG), makin turunnya angka kemiskinan, dan makin mengaumnya sang macan di kancah dunia dalam suatu pidato di depan seluruh kepala daerah.
Peristiwa itu juga terjadi tepat setelah sang mantan raja berorasi untuk tidak akan menyerah berkeliling ke seluruh pelosok negeri, yang kemudian disusul ahli waris takhta yang menegaskan akan memeras seluruh darahnya untuk memenangkan partainya.
Peristiwa lepasnya nyawa sang bocah Ngada itu juga terjadi tepat setelah ingar-bingar tercokoknya beberapa pejabat dan kepala daerah yang dengan rakus memperkaya diri sendiri dan keluarganya lewat perilaku korup. Setelah semua momentum akbar itu, si bocah menemui Penciptanya dengan berkalung keputusasaan dan kecemasan akan masa depannya serta hidup keluarganya yang makin muram.
Semua manusia di dunia pasti tidak sepaham dengan apa yang dilakukan si bocah. Namun, semua manusia yang berakal sehat tentu akan menempatkan penghakiman personalnya pada konteks yang lebih luas di mana kemiskinan dan ketertinggalan sungguh menjadi lawan yang harus diberangus sebagaimana amanat konstitusi. Yakni, negara diminta melindungi segenap tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan, dan ikut serta dalam perdamaian.
Alih-alih negara melindungi segenap tumpah darah, si bocah Ngada malah menumpahkan darahnya di tanahnya sendiri karena para pengemban kekuasaan hanya melihat kemiskinan sebagai komoditas politik. Alih-alih memajukan kesejahteraan umum, si bocah Ngada menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat jelata memang belum sejahtera ketika membeli alat tulis saja tidak mampu.
Alih-alih mencerdaskan kehidupan bangsa, bocah kecil itu menunjukkan bahwa memang ada yang salah dalam membangun filosofi pendidikan negeri ini, yang seolah-olah MBG dan Sekolah Rakyat dengan anggarannya yang jumbo adalah jawabannya.
Para pakar MBG kemudian mengatakan: Justru MBG adalah cara untuk membantu siswa miskin mendapatkan gizi yang layak. Dan lagi-lagi bocah kecil itu menunjukkan bahwa yang lebih penting justru adalah akses, fasilitas, dukungan, serta pekerjaan untuk orang tuanya supaya bisa menghidupinya dengan layak.
Perlawanan
Peristiwa tragis si bocah Ngada adalah perlawanan dalam diam dari seorang rakyat jelata. Perlawanan yang dilakukan justru bukan oleh kaum berpendidikan tinggi, kaum cerdik pandai, teknokrat, pembuat kebijakan, atau cendekiawan dengan sederet capaian yang seharusnya bisa bersuara lebih lantang.
Sebenarnya sudah keras, jelas, dan lantang pula mereka berbicara dengan berbagai analisis dan data. Namun, di negeri yang begitu memuja kuasa, suara lantang para cerdik pandai itu pun dianggap subversif. Demo mahasiswa dianggap biang rusuh dan pengkritik pun dibungkam. Bahkan, saluran kebudayaan berupa stand-up comedy yang kritis diperkarakan sampai ke ranah hukum.
Salah satu narasumber acara di satu stasiun televisi mengatakan bahwa kritik yang benar harus diutarakan secara santun dengan menyertakan solusi di dalamnya. Dan bocah kecil Ngada itu mungkin adalah jawaban si narasumber tersebut. Bocah itu mengkritik sekaligus memberikan solusi dengan mengakhiri hidupnya. Bocah itu mengkritik negerinya secara santun dengan tidak menyakiti siapa pun dan mati adalah solusinya. Sungguh tragis!
Kritik bocah kecil tersebut langsung menghujam ke jantung kekuasaan dan mengalahkan semua data kuantitatif tentang sederet keberhasilan menekan angka kemiskinan, kesuksesan MBG, dan keberhasilan lainnya secara telak. Bocah itu menunjukkan bahwa angka-angka BPS tidak sebangun dan sejalan dengan apa yang terjadi dalam keseharian. Bocah itu secara kualitatif meruntuhkan ukuran kuantitatif yang selalu dipermainkan dan dipuja sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Inilah perlawanan dan tamparan sunyi dari pelosok Ngada untuk negeri. Jika peristiwa ini terjadi di suatu negeri yang etika dan peradabannya maju, pastilah akan ada banyak pemangku kepentingan yang merasa malu dan akhirnya mengundurkan diri. Tetapi, apakah benar rasa malu masih ada di negeri yang katanya berbudaya luhur ini? Kita berduka untuk sosok kecil ini, lebih-lebih untuk negeri yang kita cintai ini. (*)