Buka konten ini

BANYAK orang merasa puas saat mengambil pakaian dari laundry karena aromanya yang harum dan teksturnya yang terasa licin. Sensasi segar tersebut kerap dianggap sebagai tanda kebersihan maksimal.
Namun, pakaian yang wangi dan halus usai dicuci di laundry tidak selalu aman bagi kesehatan. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut justru menandakan adanya paparan bahan kimia tertentu yang berpotensi membahayakan tubuh.
Sejumlah jasa laundry, khususnya yang menawarkan layanan cepat, kerap menggunakan pewangi dan pelicin berbahan kimia seperti formaldehida, ftalat, serta pelarut (solvent). Zat-zat tersebut dapat menempel pada serat kain dan berisiko terserap ke dalam kulit, terutama ketika pakaian dikenakan saat tubuh berkeringat.
Dokter Robert Kosasih mengingatkan bahwa paparan bahan kimia dalam jumlah kecil sekalipun dapat menimbulkan dampak serius apabila terjadi berulang dan dalam jangka panjang. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu gangguan pada sel darah hingga meningkatkan risiko kanker darah atau leukemia.
“Risikonya lebih tinggi pada laundry kiloan dengan proses cepat, pakaian sangat wangi dan licin, serta proses pembilasan yang kurang optimal,” ujar dr. Robert Kosasih melalui unggahan di akun Instagram @dr.robertkosasih, Minggu (8/2).
Untuk meminimalkan risiko tersebut, konsumen disarankan lebih selektif dalam memilih layanan laundry. Salah satunya dengan meminta pihak laundry tidak menambahkan pewangi atau pelicin, sehingga pakaian dicuci tanpa tambahan bahan kimia berlebihan.
Alternatif lain, konsumen dapat memilih layanan eco laundry atau green laundry yang umumnya menggunakan deterjen serta pengharum berbahan lebih aman dan ramah lingkungan, serta minim risiko bagi kesehatan.
Pengalaman serupa juga diungkapkan Billy Lantang, seorang praktisi kesehatan sekaligus penyintas kanker darah. Dalam sebuah tayangan di YouTube, Billy menceritakan bahwa dokter yang menanganinya di Singapura menyebut kanker darah yang dialaminya berkaitan dengan paparan zat kimia dari produk yang digunakan sehari-hari.
Menurut Billy, dokter menyampaikan bahwa infiltrasi zat asing ke dalam tubuhnya dipicu oleh penggunaan deodoran yang tetap ia pakai meski menimbulkan rasa gatal. Paparan tersebut berlangsung lama hingga akhirnya berdampak serius pada kesehatan.
Tak hanya dari deodoran, dokter itu juga mengingatkan bahwa pakaian yang baru selesai dicuci di binatu dan langsung dikenakan berpotensi membawa sisa sabun atau pewangi ke dalam tubuh. Oleh karena itu, agar pakaian hasil laundry didiamkan terlebih dahulu di luar plastik selama minimal satu hari. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO