Buka konten ini

Memiliki lahan berbentuk segitiga kerap dianggap menyulitkan dalam perencanaan hunian karena keterbatasan ruang dan tantangan penataan bangunan. Namun, keterbatasan tersebut justru bisa diolah menjadi keunggulan melalui perencanaan desain yang tepat.
PS House membuktikan bahwa lahan segitiga bukanlah hambatan untuk menghadirkan rumah yang nyaman dan fungsional. Melalui konsep desain fasad yang efisien, hunian ini mampu memaksimalkan setiap sudut lahan, menghadirkan tampilan modern sekaligus tata ruang yang optimal, sehingga tetap memenuhi kebutuhan penghuni tanpa mengorbankan estetika maupun kenyamanan.

2. Sebelum memasuki ruang inti, terdapat foyer sebagai ruang transisi di PS House. Foto: Spacemaker Studio
3. Kamar tidur utama memiliki ceiling tinggi dan bukaan lebar dari jendela sehingga terang tanpa memerlukan lampu pada siang hari. Foto: Spacemaker Studio
Rumah di kawasan Jakarta Timur ini berada pada posisi hook sehingga fasadnya memungkinkan untuk ditonjolkan dari dua sisi. Tantangan bagi Spacemaker Studio sebagai arsitek, bangunan itu berdiri di lahan berbentuk segitiga.
Fasad yang menghadap selatan dibuat separuh terbuka dengan kaca reflektif. Dengan begitu, bagian dalam ruangan tidak tampak dari luar. Namun, mampu memberi pencahayaan alami dan memaksimalkan view.
”Dengan mempertimbangkan kenyamanan thermal pada ruangan, besaran bukaan harus dibatasi agar panas yang masuk tidak terlalu banyak,” ujar arsitek Spacemaker Studio Ahmad Fariz Hawari.
Rumah di kawasan Jakarta Timur ini berada pada posisi hook sehingga fasadnya memungkinkan untuk ditonjolkan dari dua sisi. Tantangan bagi Spacemaker Studio sebagai arsitek, bangunan itu berdiri di lahan berbentuk segitiga.
Fasad yang menghadap selatan dibuat separuh terbuka dengan kaca reflektif. Dengan begitu, bagian dalam ruangan tidak tampak dari luar. Namun, mampu memberi pencahayaan alami dan memaksimalkan view.
”Dengan mempertimbangkan kenyamanan thermal pada ruangan, besaran bukaan harus dibatasi agar panas yang masuk tidak terlalu banyak,” ujar arsitek Spacemaker Studio Ahmad Fariz Hawari.
Fariz menuturkan, mengatur orientasi site terhadap arah matahari bukanlah problem utama. Limitasi cahaya yang masuk bisa disiasati dengan kaca reflektif dan penggunaan sirip-sirip kayu sebagai secondary skin.
Tantangan utamanya adalah mencegah ruang mati dan space yang terbuang karena rumah berdiri di lahan berbentuk segitiga. ”Belum lagi harus menyembunyikan tiang struktur bangunan meski bentangan rumah ini sangat lebar. Supaya terlihat clean dan seamless tanpa distraksi tiang-tiang yang menonjol ke dalam atau ke luar,” jelas Fariz.
Menjawab tantangan itu, penataan ruang dibuat seoptimal mungkin. Sebelum memasuki ruang inti, terdapat foyer sebagai ruang transisi. Lantai 1 berkonsep open space. Ruang keluarga, kitchen, dan ruang makan dibuat tanpa sekat yang dikelilingi area terbuka hijau.
Taman yang cukup lega itu memakan 30 persen dari total luas lahan. ”Adanya taman untuk merespons garis sempadan bangunan. Selain untuk estetika, juga berfungsi mendinginkan aliran udara ke dalam rumah,” papar Fariz.
Jendela yang jadi sekat didesain menggunakan pivot window sebagai jalur sirkulasi udara. Di atasnya ditambahkan kanopi kaca untuk mengurangi cipratan air saat hujan. ”Elevasi jendela saya naikkan 40 cm dari permukaan tanah. Jaga-jaga saat hujan air tidak nyiprat ke dalam,” imbuhnya.
Kembali ke bagian dalam, living room di sudut ruang memiliki void yang terkoneksi langsung dengan working space di lantai 2. Posisi void yang tepat di tengah bangunan memudahkan cahaya masuk dari skylight untuk menerangi lantai 1 dan 2. ”Bisa dilihat saat siang. Tanpa menyalakan lampu, ruangan sudah terang. Jadi hemat energi dan biaya operasional,” lanjut Fariz.
Bangunan lantai 2 yang lebih privat difungsikan sebagai kamar anak, master bedroom, walk-in closet, working space, dan kamar mandi. Interiornya dibuat seamless dan netral. Dinding kayu pada master bedroom yang menggunakan material fiber cement board memberi kesan hangat dan relaksasi bagi penghuninya. (***)
Reporter :JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI