Buka konten ini

MORO (BP) – Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, sejak lama dikenal memiliki potensi besar di sektor perikanan. Wilayah ini bahkan menjadi salah satu pintu ekspor langsung hasil perikanan ke luar negeri. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, nilai ekspor ikan dari Moro tercatat mencapai lebih dari Rp1,2 miliar atau tepatnya Rp1.272.560.000.
Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau di Kabupaten Karimun, Yova Apriazir, mengatakan ekspor perikanan dari Moro telah berlangsung sejak lama. Pada 2025, ekspor ikan dari wilayah tersebut ditujukan ke Singapura dan Malaysia.
“Jumlah ekspor ikan dari Moro tahun lalu mencapai 62.800 kilogram atau sekitar 62,8 ton. Nilai ekspornya lebih dari Rp1,2 miliar,” ujar Yova saat dikonfirmasi Batam Pos, Jumat (6/2).
Berdasarkan data yang ada, sepanjang 2025 hanya satu perusahaan yang melakukan ekspor ikan dari Moro, yakni Perusahaan Teow Tiang. Jenis ikan yang diekspor umumnya merupakan ikan campuran, seperti ikan parang, sembilang, tenggiri, dan ikan talang.
“Empat jenis ikan itu yang paling sering diekspor selama 2025,” katanya.
Yova merinci, ikan parang menjadi komoditas paling banyak diekspor dari Moro pada tahun lalu, dengan jumlah mencapai lebih dari 20,4 ton dan harga sekitar Rp22 ribu per kilogram.
Selanjutnya, ikan sembilang juga cukup banyak diekspor dengan volume mencapai 18,8 ton, meski harganya lebih rendah, yakni sekitar Rp11 ribu per kilogram. “Sementara untuk harga yang cukup tinggi, ikan tenggiri mencapai Rp35 ribu per kilogram,” jelasnya.
Selain melayani ekspor perikanan, keberadaan Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau di Kabupaten Karimun juga berperan dalam memberikan rekomendasi BBM bersubsidi bagi nelayan dengan kapasitas kapal tertentu. Selain itu, pihaknya aktif melakukan edukasi dan pembinaan kepada nelayan, khususnya nelayan tradisional di wilayah Pulau Karimun, Moro, Kundur, dan Pulau Alai.
“Pada tahun lalu, kami juga memberikan edukasi dengan menyerahkan pas kecil serta e-book atau bukti kepemilikan kapal kepada nelayan tradisional,” ujarnya.
Menurut Yova, dengan adanya pas kecil dan e-book tersebut, nelayan tradisional akan lebih mudah mendapatkan BBM bersubsidi untuk keperluan melaut.
“Insya Allah, program tersebut akan kembali dilaksanakan pada tahun ini,” tutupnya. (*)
Reporter : SANDI PRAMOSINTO
Editor : GUSTIA BENNY