Buka konten ini

BINTAN (BP) – Menjelang Tahun Baru Imlek 2026, ikan dingkis menjadi komoditas yang paling diburu, terutama oleh warga Tionghoa di Bintan. Permintaan yang tinggi membuat pasokan di Pasar Baru Tanjunguban cepat habis dan harga melonjak tajam.
Pantauan Batam Pos, Jumat (6/2), di sejumlah lapak Pasar Baru Tanjunguban, ikan dingkis sudah ludes terjual sejak pagi.
“Barusan habis,” ujar Cece, salah seorang pedagang ikan.
Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Wandi. Ia mengatakan ikan dingkis yang dijualnya juga telah habis dibeli konsumen. Menurutnya, pembeli umumnya mencari ikan dingkis yang memiliki telur. “Pembeli mencari ikan dingkis yang ada telurnya,” katanya.
Wandi menyebutkan, harga ikan dingkis kini melonjak signifikan. Dari sebelumnya berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, kini mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram.
Ia juga mengungkapkan, sebagian nelayan memilih menjual ikan dingkis ke penampung untuk dipasarkan ke Singapura dengan harga lebih tinggi. Untuk ukuran besar, harga mencapai sekitar Rp250 ribu per kilogram, sementara ukuran sedang berkisar Rp180 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram.
“Tahun lalu bahkan pernah tembus sekitar Rp1,5 juta per kilogram untuk pasar Singapura,” katanya.
Selain tingginya permintaan menjelang Imlek, kenaikan harga juga dipicu oleh menurunnya pasokan ikan akibat angin kencang yang membuat nelayan enggan melaut. Kondisi ini turut berdampak pada kenaikan harga sejumlah jenis ikan lainnya.
Harga ikan sagai kini berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram, sedangkan ikan selar naik menjadi sekitar Rp50 ribu per kilogram.
Pedagang lainnya, Udin, mengatakan ikan dingkis bertelur dijual dengan harga Rp100 ribu per kilogram. Namun, jika pasokan semakin langka, harga bisa melonjak hingga Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per kilogram. “Sejak Januari 2026, suplai dari nelayan berkurang karena cuaca buruk. Itu sebabnya harga ikan ikut naik,” ujarnya. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY