Buka konten ini

KEMATIAN tragis YBR, 10, di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, membuka lapisan persoalan yang lebih dalam dari sekadar kisah pilu seorang anak yang tak mampu membeli buku tulis dan pulpen.
Siswa kelas IV SD itu ditemukan meninggal tergantung di dahan pohon cengkeh setinggi sekitar dua meter di kebun milik neneknya, Kamis (29/1) pekan lalu. Kepergiannya menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar tentang kemiskinan ekstrem, kusutnya administrasi bantuan sosial, hingga kerentanan anak laki-laki yang kerap luput dari perhatian.
YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibunya, MGT, bekerja serabutan sebagai buruh tani. Penghasilannya tak menentu, sekadar cukup untuk menyambung hidup hari demi hari. Sang ayah, YM, telah merantau ke Kalimantan dan setahun terakhir tak lagi mengirimkan uang.
Di rumah sederhana itu, nasi biasanya hanya tersaji pada malam hari. Siang hari, ubi kayu atau talas menjadi pengganjal perut. Kebutuhan sekolah YBR seragam, buku, hingga alat tulis kerap dibantu sang nenek.
Kepala Desa Naruwolo, Yohanes Dionisius Roa, menyebut keluarga YBR masuk kategori miskin ekstrem. Persoalan makin rumit karena MGT masih tercatat ber-KTP Kabupaten Nagekeo, tempat ia pernah tinggal bersama suaminya sekitar sepuluh tahun lalu. Setelah berpisah, ia kembali ke kampung halaman. Namun, administrasi kependudukan tak pernah diperbarui.
“Anak-anaknya masuk dalam kartu keluarga milik nenek korban,” ujar Yohanes kepada Timor Express, Kamis (5/2).
Status kependudukan itu membuat MGT tak tercatat sebagai penerima bantuan sosial di Ngada. Bantuan yang semestinya menjadi penopang hidup tak pernah sampai. Selembar KTP berbeda alamat menjadi penghalang hak yang mestinya diterima.
Di rumah duka, MGT masih terpukul. Ia dan YM pisah ranjang sejak 2014. Sejak itu, beban menghidupi lima anak dipikulnya sendiri. Ia mengaku tak pernah mendengar anaknya mengeluh soal perundungan di sekolah. YBR dikenal ceria dan jarang sakit.
Sebelum ditemukan meninggal, YBR sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat sekolah. Namun, sebagai ibu, MGT tetap membujuknya agar tidak absen. Ia tak pernah menyangka itu menjadi hari terakhir melihat anaknya berjalan ke sekolah.
Kabar duka itu ia terima saat sedang bekerja di kebun. Adik dan keponakannya memberi tahu bahwa YBR ditemukan tergantung. Saat tiba di lokasi, MGT tak kuasa menahan pandangan. Ia pingsan melihat tubuh kecil itu terkulai di dahan pohon.
Sebuah surat pendek dalam bahasa lokal ditemukan di lokasi. MGT meyakini tulisan itu milik putranya. “Dia tidak punya kebiasaan menulis pesan sebelum pergi. Itu satu-satunya peninggalan tulisannya,” katanya lirih.
Peristiwa ini memantik respons pemerintah pusat. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menilai tragedi tersebut mencerminkan persoalan tata kelola bantuan sosial, khususnya terkait penertiban data kependudukan dan basis penerima bantuan.
“Jangan sampai warga miskin kehilangan hak hanya karena perbedaan alamat KTP. Di depan mata, orang bisa kehilangan nyawa gara-gara administrasi selembar kertas,” ujarnya seusai membuka kegiatan pendidikan dasar CPNS di Jakarta.
Sorotan juga datang dari pakar psikologi forensik Reza Indragiri. Ia menilai, kesulitan membeli alat tulis memang kerap terjadi di banyak tempat. Namun, kasus ini menunjukkan ada tekanan yang mungkin lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan.
“Kalau mau buka mata, banyak anak kesulitan alat tulis, bahkan tidak bisa sekolah atau tidak bisa makan. Tapi mereka tidak bunuh diri,” ujarnya, mengingatkan perlunya melihat persoalan ini secara utuh dan mendalam.
Terpisah, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyebut peristiwa tersebut sebagai pengingat agar sistem perlindungan anak di daerah berjalan konsisten melalui kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).
Menurutnya, kerentanan anak laki-laki kerap tak terlihat karena konstruksi sosial yang menuntut mereka tampak kuat dan menahan emosi. Padahal, data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) Kemen PPPA mencatat sepanjang 2025 lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan fisik, psikis, maupun seksual.
“Banyak anak laki-laki memilih diam karena stigma dan rasa takut. Perlindungan anak harus inklusif dan responsif tanpa membedakan jenis kelamin,” tegasnya.
Dari kebun cengkeh di Naruwolo, kisah YBR kini menjadi cermin getir. Tentang keluarga miskin yang terjebak administrasi, tentang anak yang memendam beban, dan tentang negara yang dituntut hadir bukan hanya dalam data tetapi dalam kehidupan nyata warganya.
Bantu Nenek Jual Sayur dan Kayu
DI usia baru 10 tahun, hidup sudah memaksa YBR, untuk mengutip “Sore Tugu Pancoran”-nya Iwan Fals, ”pecahkan karang.” Berkelahi dengan waktu membantu perekonomian keluarga yang sangat kekurangan.
”Untuk membantu memenuhi kebutuhan, anak ini (YBR) selalu menjual sayur dan kayu kepada masyarakat sekitar,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ngada, Nusa Tenggara Timur, Elisius Kletus Watungadha, kepada Timor Express Kamis (5/2).
Sayur itu ditanam sang nenek di sekitar pondok di kebun yang dia tinggai bersama sang cucu. Sedangkan YBR ikut mengumpulkan kayu bakar untuk dijual.
Sedari masih balita, YBR tinggal di pondok sang nenek. Ayah anak bungsu dari lima bersaudara tersebut, YM, merantau ke Kalimantan sejak dia masih di kandungan sang ibu, MGT. (***)
LAPORAN: JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO