Buka konten ini

JAKARTA (BP) – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus memperkuat perannya dalam membangun ekosistem ultra mikro (UMi) yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda strategis tahun 2026 yang dibahas dalam Rapat Kerja Nasional PNM 2026, seiring dengan penguatan sinergi Holding UMi bersama dan Pegadaian.
Transformasi ekosistem UMi dipandang sebagai langkah fundamental untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan perusahaan sekaligus memastikan misi pemberdayaan masyarakat prasejahtera berjalan secara efektif dan terukur.
Dalam konteks ini, PNM tidak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai institusi pemberdayaan yang mendorong peningkatan kapasitas ekonomi kelompok subsisten.
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menjelaskan bahwa hingga saat ini PNM telah menjangkau 60.250 desa dan kelurahan dari sekitar 84.000 desa dan kelurahan di Indonesia. Jangkauan tersebut didukung oleh layanan kepada 22,9 juta nasabah yang secara konsisten mengikuti Pertemuan Kelompok Mingguan bersama account officer PNM sebagai bagian dari pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas.
Menurut Arief, besarnya skala layanan tersebut menuntut penguatan kualitas proses bisnis dan layanan. Setiap tahunnya, PNM menyalurkan pembiayaan minimal Rp1 miliar di setiap desa, yang dampaknya dirasakan langsung oleh keluarga prasejahtera. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembiayaan ultra mikro yang disertai pendampingan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
“PNM tidak hanya berfokus pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial. Komitmen ini terus diperkuat melalui transformasi dan pemodelan ulang proses bisnis agar pemberdayaan dapat berjalan lebih tepat guna dan berkelanjutan,” ujar Arief.
Apresiasi terhadap kinerja PNM juga disampaikan oleh Group CEO Hery Gunardi yang hadir dalam Rakernas tersebut. Ia menegaskan bahwa selama 26 tahun PNM telah menjalankan mandat negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia, khususnya kelompok prasejahtera.
Hery menilai, peran PNM semakin strategis dalam mendorong inklusi keuangan nasional, terutama dengan dukungan digitalisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, penguatan Pertemuan Kelompok Mingguan dinilai menjadi instrumen penting dalam menjaga kedekatan layanan, disiplin pembiayaan, serta efektivitas proses pemberdayaan.
“Digitalisasi dan pertemuan kelompok mingguan perlu terus didorong, serta didukung oleh pengembangan SDM yang berkualitas agar PNM semakin optimal dalam menciptakan dampak,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI