Buka konten ini

LINGGA (BP) – Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek identik dengan cahaya lampu lampion yang menghiasi rumah-rumah dan lorong-lorong jalan. Pemandangan ini membuat suasana permukiman tampak semarak, terutama pada malam hari ketika cahaya merah lampion menerangi lingkungan sekitar.
Ketua Persatuan Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Lingga, Kwetsan, mengatakan pemasangan lampu lampion merupakan bagian dari tradisi untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek.
“Dengan dipasangnya lampu lampion di setiap rumah dan lorong-lorong jalan, suasana Tahun Baru Cina atau Imlek menjadi lebih meriah,” ujarnya, Selasa (3/2).
Selain sebagai hiasan, lampu lampion juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa. Menurut Kwetsan, lampion diyakini membawa hoki atau keberuntungan bagi pemilik rumah.
“Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, pemasangan lampu lampion dipercaya dapat membawa keberuntungan,” jelasnya.
Makna keberuntungan tersebut tidak terletak pada bentuk lampion, melainkan pada warna merah yang mendominasi. Bagi masyarakat Tionghoa, warna merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan harapan baik di tahun yang baru.
“Warna merah bagi kami merupakan simbol keberuntungan atau hoki. Karena itu, lampu lampion identik dengan warna merah,” tambahnya.
Keindahan lampu lampion juga dimanfaatkan warga untuk mengabadikan momen bersama keluarga. Banyak warga yang sengaja berkeliling untuk menikmati suasana Imlek sambil berfoto dan merekam video.
“Saya biasanya mengajak anak dan istri berkeliling melihat lampu lampion, sambil berfoto dan membuat video kenangan bersama keluarga,” ujar Fatur, warga Dabo Singkep.
Bagi sebagian warga, suasana lampion juga membangkitkan kenangan masa kecil yang sulit dilupakan.
Cahaya lampion seakan membawa ingatan kembali ke masa lalu.
“Kalau melihat lampu lampion, langsung teringat masa kecil dulu. Kami bersepeda keliling kampung, bertamu ke rumah warga Tionghoa atau yang biasa kami sebut konyen,” tutupnya. (*)
Reporter : Vatawari
Editor : Gustia Benny