Buka konten ini

BATAM (BP) – Pergerakan harga emas pada awal Februari 2026 menunjukkan volatilitas tinggi dan berdampak langsung pada pasar di Batam. Setelah sempat menembus level Rp3 juta per gram, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) terkoreksi tajam dalam waktu singkat.
Berdasarkan data perdagangan, pada Senin (2/2) harga emas Antam tercatat di kisaran Rp3.027.000 per gram. Namun, sehari kemudian, Selasa (3/2), harga turun Rp183.000 menjadi Rp2.844.000 per gram. Koreksi tersebut menjadi salah satu penurunan harian terdalam dalam beberapa waktu terakhir.
Per 3 Februari 2026, harga emas Antam untuk berbagai pecahan tercatat bervariasi. Pecahan 0,5 gram dijual Rp1.472.000, 1 gram Rp2.844.000, 5 gram Rp13.995.000, 10 gram Rp27.935.000, 25 gram Rp69.712.000, 50 gram Rp139.345.000, dan 100 gram Rp278.612.000. Harga buyback atau pembelian kembali juga ikut terkoreksi seiring penurunan harga jual.
Di Batam, penurunan tajam tersebut memengaruhi perilaku konsumen. Pemilik salah satu toko emas di kawasan Nagoya, Andi Wijaya, 41, mengatakan lonjakan harga pada awal pekan sempat mendorong peningkatan transaksi pembelian.
“Waktu harga di atas Rp3 juta per gram, cukup banyak yang beli karena takut naik lagi. Tapi setelah turun tajam, pembeli jadi wait and see (melihat dan menanti). Mereka menunggu apakah harga masih turun atau sudah stabil,” ujar Andi, Selasa (3/2).
Menurut Andi, fluktuasi harga emas tidak terlepas dari dinamika global. Harga emas dunia sebelumnya sempat mencetak rekor sebelum mengalami koreksi akibat aksi ambil untung (profit taking) investor global.
Ia menambahkan, di tingkat domestik, nilai tukar rupiah mengaruhi harga emas batangan. Sebagai kota industri dan perdagangan dengan aktivitas investasi ritel yang cukup aktif, Batam termasuk wilayah yang responsif terhadap perubahan harga logam mulia.
Secara global, volatilitas harga emas pada awal Februari dipicu kombinasi sentimen kebijakan suku bunga, rilis data ekonomi Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik. Setelah reli panjang pada Januari, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan sehingga memicu tekanan jual di pasar internasional yang berdampak langsung pada harga domestik.
Meski mengalami koreksi tajam dalam jangka pendek, emas masih dipandang memiliki prospek jangka panjang yang ditopang ketidakpastian ekonomi global dan risiko inflasi. Namun, dalam waktu dekat, pergerakan harga diperkirakan masih fluktuatif.
Kenaikan Harga Emas Picu Inflasi
Laju inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kota Batam pada Januari 2026 tercatat sebesar 2,74 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,63. Kenaikan harga emas perhiasan dan angkutan udara menjadi faktor utama pendorong inflasi pada awal tahun ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto mengatakan perkembangan harga berbagai komoditas di Batam pada Januari 2026 secara umum menunjukkan kecenderungan meningkat.
“Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Batam, pada Januari 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,74 persen. IHK meningkat dari 108,68 pada Januari 2025 menjadi 111,63 pada Januari 2026,” ujar Eko, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi y-on-y terbesar. “Tingginya harga emas di pasar global berdampak langsung pada harga emas perhiasan di tingkat konsumen, sehingga memberi tekanan signifikan terhadap inflasi Batam,” katanya.
Selain emas perhiasan, angkutan udara juga memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan. “Kenaikan tarif penerbangan dan meningkatnya mobilitas masyarakat ikut mendorong naiknya indeks harga pada kelompok transportasi,” ujar Eko.
Eko menambahkan, secara kelompok pengeluaran, inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga pada sebelas kelompok. “Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 20,85 persen,” ujarnya.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m), Batam mengalami deflasi sebesar 0,04 persen pada Januari 2026. Deflasi terjadi akibat turunnya IHK dari 111,67 pada Desember 2025 menjadi 111,63 pada Januari 2026.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun secara tahunan Batam mengalami inflasi, secara bulanan terjadi penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan,” kata Eko. (*)
LAPORAN : ARJUNA – RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK