Buka konten ini

ABU DHABI (BP) – Menteri luar negeri (menlu) Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Arab Saudi, dan Qatar mengecam keras pelanggaran berulang Israel terhadap gencatan senjata di Gaza.
”Tindakan-tindakan ini berisiko meningkatkan ketegangan dan merusak upaya yang bertujuan memperkuat situasi kondusif serta memulihkan stabilitas,” demikian diperingatkan para menteri tersebut dalam sebuah pernyataan bersama, Minggu (1/2).
Menurut para menlu, komitmen penuh terhadap fase kedua gencatan senjata sangatlah penting.
Para menlu tersebut mendesak semua pihak untuk sepenuhnya menjalankan tanggung jawab mereka selama periode krusial ini, menahan diri semaksimal mungkin untuk mempertahankan gencatan senjata, menghindari tindakan apa pun yang dapat merusak proses yang sedang berlangsung, serta menciptakan kondisi yang kondusif bagi pemulihan dan rekonstruksi segera.
Para menteri menegaskan kembali pentingnya mendorong terwujudnya perdamaian yang adil dan langgeng yang didasarkan pada hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan membentuk negara, sesuai dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang relevan.
Sebelumnya pada hari yang sama, Ali Abdel Hamid Shaath, kepala Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for the Administration of Gaza/NCAG), badan teknokratik Palestina, menyerukan kepatuhan penuh terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung di daerah kantong tersebut.
”NCAG bersama mitra-mitranya berkomitmen untuk mencegah insiden lebih lanjut dan melindungi warga sipil. Jalan ke depan harus didasarkan pada pengendalian diri, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap kehidupan warga sipil,” kata kepala NCAG itu.
Gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 setelah dua tahun konflik, menyusul mediasi oleh Mesir, Qatar, Turkiye, dan Amerika Serikat.
Hampir 71.800 warga Palestina tewas dan lebih dari 171.500 orang terluka sejak operasi militer Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023, menurut laporan terbaru dari otoritas kesehatan Gaza pada Minggu.
Mereka menambahkan bahwa 26 warga Palestina tewas dan 68 orang lainnya luka-luka dalam 24 jam terakhir, seraya menyebut sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan dan di jalan-jalan saat tim penyelamat dan pertahanan sipil belum dapat menjangkau mereka. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY