Buka konten ini

BATAM (BP) – Perum Bulog Kantor Cabang Batam memastikan harga beras premium yang beredar di pasaran Kota Batam masih sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Tambahan pasokan beras dari luar daerah juga diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira, menegaskan hingga saat ini belum ditemukan harga beras premium yang melampaui ketentuan HET.
“Kalau harga beras premium, sampai sekarang masih sesuai HET. Sudah maksimal HET, tidak ada yang di atas itu,” ujar Guido, kemarin.
Ia menjelaskan bahwa acuan harga beras di pasaran merujuk pada ketetapan Satuan Kerja Ketahanan Pangan (SK2KP) yang dikoordinasikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
Bulog, kata dia, turut aktif melakukan pemantauan harga di lapangan.
“Kalau kami temukan harga di atas HET, baik beras premium maupun medium, langsung kami foto dan kirim ke Disperindag. Mereka kemudian turun ke lokasi,” katanya.
Guido menambahkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan sejak Januari hingga saat ini, belum ditemukan pedagang yang menjual beras di atas HET. Seluruh temuan di lapangan juga tercatat dan terpantau oleh Disperindag.
“Dari Januari sampai sekarang belum ada yang menjual di atas HET,” tegasnya.
Adapun HET beras premium di Batam ditetapkan sebesar Rp15.400 per kilogram. Untuk kemasan 5 kilogram, harga jual berada di kisaran Rp77 ribu. Menurut Guido, kemasan tersebut menjadi yang paling diminati masyarakat.
“Yang paling laris memang kemasan 5 kilogram, karena menyesuaikan kebutuhan dan anggaran masyarakat,” ujarnya.
Pasokan Tambahan Masuk Februari
Terkait pasokan, Bulog memastikan dalam waktu dekat akan ada tambahan beras yang masuk ke wilayah Kepulauan Riau. Pengiriman beras dari Kalimantan dijadwalkan tiba pada 10 Februari 2026.
“Untuk Batam akan masuk sekitar 100 ton beras kemasan 5 kilogram. Sementara ke Karimun juga masuk sekitar 100 ton,” jelas Guido.
Selain itu, pengiriman lanjutan juga direncanakan pada tahap berikutnya. Sekitar 25 Februari, Bulog akan mendatangkan sekitar 600 ton beras ke Batam dan sekitar 200–250 ton ke Karimun sesuai rencana awal. Pasokan tersebut mayoritas dalam kemasan 25 kilogram.
Guido menegaskan Bulog siap menjalankan penugasan pemerintah, termasuk jika diminta menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan beras.
“Pada prinsipnya Bulog selalu siap. Kalau ada penugasan, kami siap kapan saja, tidak hanya di Batam, tetapi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa rapat yang digelar bersama jajaran pusat Bulog pada Minggu (1/2) malam merupakan rapat rutin terkait penyerapan hasil panen. Namun, untuk wilayah Kepulauan Riau, penyerapan relatif terbatas karena minimnya produksi beras lokal.
“Kalau di Kepri hampir tidak ada penyerapan. Kalau ada, pasti kami ambil asalkan harganya sesuai. Tapi sejauh ini belum ada,” katanya.
Bulog, lanjut Guido, tetap siap menyerap hasil panen apabila harga gabah atau beras di tingkat petani jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). “Kalau harga dasar jatuh, kami pasti masuk untuk menyerap,” tutupnya.
Stok Pangan Nasional Mencukupi
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan pokok strategis secara nasional masih aman menjelang Ramadan hingga Idulfitri 2026. Kepastian tersebut disampaikan seiring penguatan program intervensi pangan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
“Sesuai arahan Kepala Bapanas, Bapak Andi Amran Sulaiman, kami terus memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri,” ujar Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas, Maino Dwi Hartono, usai menghadiri Rapat Koordinasi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (29/1).
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, komoditas strategis seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi, serta daging sapi dan kerbau dipastikan mencukupi hingga tiga bulan ke depan.
Untuk komoditas beras, total ketersediaan nasional pada Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 22,2 juta ton. Angka tersebut berasal dari stok awal tahun sebesar 12,4 juta ton ditambah produksi sekitar 9,8 juta ton. Sementara itu, kebutuhan konsumsi diperkirakan sebesar 7,7 juta ton, sehingga masih terdapat surplus sekitar 14,5 juta ton di akhir Maret.
Komoditas daging ayam ras juga diproyeksikan mencukupi dengan total ketersediaan 1,6 juta ton dan kebutuhan konsumsi sekitar 1,01 juta ton. Telur ayam ras diperkirakan surplus 305,8 ribu ton, sedangkan gula konsumsi diproyeksikan surplus sekitar 751,5 ribu ton hingga akhir Maret.
Untuk daging sapi dan kerbau, ketersediaan nasional Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 185,4 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di kisaran 179 ribu ton.
“Selain itu, Bapanas bersama para pemangku kepentingan pangan akan terus menggencarkan program intervensi, seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan penyaluran beras SPHP,” tambah Maino.
Hingga akhir Januari 2026, program GPM telah dilaksanakan sebanyak 264 kali di 106 kabupaten/kota, meningkat 52,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, realisasi penjualan beras SPHP sepanjang Januari 2026 telah mencapai sekitar 63 ribu ton.
Pemerintah memperketat pengawasan harga pangan selama HBKN Ramadan dan Idulfitri melalui Satuan Tugas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan 2026. Pengawasan dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari produsen dan distributor hingga pedagang eceran dan ritel modern.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, menambahkan bahwa pemerintah akan mengakselerasi distribusi pangan sebagai antisipasi potensi gangguan cuaca pada Februari dan Maret.
Kepala Bapanas/Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa seluruh pelaku usaha pangan wajib mematuhi HET serta Harga Acuan Pembelian dan Penjualan demi menjaga stabilitas harga di tingkat produsen maupun konsumen. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK