Buka konten ini

KRISIS air bersih yang belum tuntas teratasi dan masih menyisakan keluhan warga di 18 wilayah stres area akhirnya mendorong BP Batam merombak Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT Moya selaku pengelola air bersih di Kota Batam. Langkah korektif ini ditempuh dengan membentuk satuan tugas (task force) untuk mengkaji ulang skema kerja sama sekaligus menyiapkan pola penanganan yang lebih tegas dan terukur.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan, pembentukan tim tersebut merujuk pada hasil rapat bersama PT Moya yang dipimpin langsung oleh Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, beberapa hari lalu.
Satuan tugas tersebut berada di bawah pembinaan para pejabat di BP Batam. Ketua tim dijabat Denny Tondano, dengan Wakil Ketua I Iyus Rusmana dan Wakil Ketua II Fesly Abadi Paranoan, serta melibatkan seluruh unit kerja terkait.
“Kami bersama-sama mengkaji kembali PKS dengan Moya supaya lebih jelas dan lebih detail,” kata Tuty, Minggu (1/2).
Dalam pembahasan, ditemukan sejumlah kekurangan dalam PKS yang dinilai perlu disempurnakan. Karena itu, BP Batam berencana melakukan amendemen perjanjian yang mengacu pada sejumlah persoalan aktual, baik di sektor hulu maupun hilir.
Di sisi hulu, catatan utama meliputi persoalan waduk hingga kualitas air baku. Sementara di hilir, pembahasan mencakup pembangunan dan penguatan jaringan pipa distribusi.
Amendemen ditargetkan dapat dilakukan tahun ini, setelah melalui pembahasan lebih detail serta koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan kejaksaan untuk memastikan aspek tata kelola dan kepatuhan hukum tetap terjaga.
Tuty mengakui bahwa persoalan utama saat ini berada di 18 wilayah yang dikategorikan sebagai stres area atau lokasi terjauh jaringan pipa yang bermasalah. Di sejumlah titik, warga mengalami air tidak mengalir sama sekali, sementara di lokasi lain air hanya mengalir pada malam hari selama dua hingga tiga jam.
Beberapa kawasan terdampak di antaranya Tanjung Uma, Tiban Lama, Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong, Baloi, hingga kawasan perumahan lainnya.
Untuk penanganan jangka pendek, BP Batam melakukan rekayasa distribusi di beberapa wilayah seperti Tanjung Sengkuang dan Batu Merah. Meski begitu, karena jalur distribusinya terhubung dengan Nagoya dan Bengkong, rekayasa tersebut turut memengaruhi kuantitas air ke wilayah lain.
“Karena itu harus diatur sedemikian rupa supaya semua masyarakat setidaknya mendapatkan air,” ujarnya.
Selain rekayasa distribusi, BP Batam juga melakukan flushing pada jaringan yang terindikasi tersumbat. Di Bengkong, misalnya, ditemukan tiga titik sumbatan yang menjadi penyebab aliran kurang lancar.
Langkah berikutnya adalah pemasangan logger untuk mengatur alur distribusi air ke perumahan-perumahan secara lebih terkontrol. Namun, pelaksanaannya membutuhkan waktu dan proses teknis.
Percepatan Proyek dan Skema 50:50
Dari sisi anggaran, BP Batam tahun ini hanya memiliki Rp141 miliar untuk sembilan proyek yang akan berdampak pada sembilan stres area. Sementara itu, sembilan wilayah lainnya belum terakomodasi dalam anggaran tahun berjalan.
Karena itu, pimpinan BP Batam membuka opsi agar PT Moya dapat menangani sembilan proyek lainnya lebih awal, sehingga seluruh 18 stres area dapat mulai ditangani pada tahun ini dengan skema pembagian peran 50:50 antara BP Batam dan PT Moya.
“Harapannya, seluruh proyek untuk 18 stres area bisa mulai dikerjakan tahun ini, meskipun penyelesaiannya mungkin ada yang bergeser ke tahun depan,” katanya.
Untuk solusi jangka panjang, BP Batam tengah membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Sei Ladi yang akan memperkuat suplai ke Tanjung Uma. Sementara itu, untuk kawasan Tanjung Sengkuang, Batu Merah, dan Bengkong, proyek jaringan akan dilelang pada Februari dan ditargetkan mulai dikerjakan pada Maret, dengan estimasi penyelesaian sekitar Juni hingga Juli.
Sebagai langkah mitigasi, BP Batam juga mengintensifkan distribusi air bersih menggunakan truk tangki. Mekanisme penyaluran kini tidak lagi melalui call center, melainkan berkoordinasi langsung dengan camat, lurah, perangkat RT/RW, dan kepolisian setempat.
BP Batam telah memetakan kebutuhan masing-masing wilayah. Di Tanjung Sengkuang, contohnya, satu RW sempat membutuhkan hingga 17 truk tangki per hari. Setelah dilakukan rekayasa distribusi, kebutuhan berkurang menjadi sekitar 11 truk.
Saat ini, BP Batam memiliki 15 armada truk tangki dan menyewa tambahan 10 unit. Namun, jumlah tersebut dinilai masih perlu ditambah karena luasnya wilayah terdampak.
“Kalau masih kurang, kita tambahkan lagi. Warga tetap kita layani,” ujar Tuty.
Meski pada hari-hari awal distribusi sempat terjadi kekurangan dan ketidakteraturan, koordinasi intensif dengan perangkat wilayah mampu meredam keresahan warga. BP Batam memastikan penanganan 18 stres area menjadi prioritas utama, baik melalui langkah darurat maupun pembenahan sistem distribusi jangka panjang.
Dewan Kawal Tuntutan Warga
Warga Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, meminta agar pasokan air bersih tetap mengalir selama bulan Ramadan hingga Lebaran. Permintaan tersebut disampaikan dalam pertemuan evaluasi pascademonstrasi krisis air yang digelar warga pada 22 Januari lalu.
Pertemuan berlangsung pada Sabtu (31/1) sore dan dihadiri Anggota DPRD Kota Batam daerah pemilihan Batu Ampar–Bengkong, Ruslan Sinaga.
Agenda tersebut bertujuan menampung sekaligus mengevaluasi aspirasi warga terkait persoalan krisis air bersih yang masih dirasakan hingga saat ini.
Ruslan Sinaga mengatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk menindaklanjuti tuntutan warga yang sebelumnya disuarakan melalui aksi demonstrasi. Ia mengakui pemerintah telah merespons cepat, namun masih ada sejumlah poin yang perlu dikawal secara berkelanjutan.
“Intinya, pertemuan itu untuk mendengarkan kembali aspirasi warga dan menindaklanjuti ke depan, termasuk memberikan solusi atas krisis air yang terjadi,” ujar Ruslan kepada Batam Pos, Minggu (1/2) siang.
Dari 14 RW di Tanjung Sengkuang, Ruslan menyebutkan sebagian besar sudah terakomodasi. Namun, ia mengakui masih terdapat wilayah yang aliran airnya belum maksimal, khususnya di daerah dengan posisi lebih tinggi. “Masih ada saluran air yang belum bisa naik ke atas. Untuk mengatasi itu, sementara dilakukan pengiriman air menggunakan mobil tangki,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pengiriman mobil tangki merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah, dalam hal ini Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, kepada masyarakat, dan hal tersebut akan terus dikawal.
Ruslan juga menyampaikan salah satu keluhan utama warga, yakni waktu mengalirnya air yang kerap terjadi pada dini hari sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Menurutnya, warga sangat keberatan dengan kondisi tersebut.
“Itu permintaan warga kemarin malam. Air jangan hidup tengah malam karena sangat menyulitkan. Ini akan saya sampaikan ke pemerintah,” katanya.
Untuk solusi jangka pendek, Ruslan menyebutkan distribusi air melalui mobil tangki masih menjadi andalan. Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa persoalan krisis air bukan masalah baru dan telah terjadi sejak sebelum pemerintahan saat ini.
“Masalah air ini sudah lama. Sudah tiga kali dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP). Hasilnya harus dibawa ke pusat dan melalui proses penganggaran sampai diketok palu,” ujarnya.
Karena itu, Ruslan meminta warga memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ia menyebutkan Kepala BP Batam telah meminta waktu empat hingga lima bulan untuk mencari solusi menyeluruh.
“Kalau dalam empat bulan belum ada jalan keluar, kita akan duduk bersama lagi. Mudah-mudahan tidak sampai lewat dari empat bulan,” harapnya.
Ia juga menegaskan bahwa krisis air tidak hanya terjadi di Tanjung Sengkuang, tetapi juga dirasakan warga di Bengkong dan Tiban. Menurutnya, banyak persoalan teknis yang belum sepenuhnya diketahui masyarakat.
Dalam pertemuan itu, warga secara khusus meminta agar pasokan air selama Ramadan hingga Lebaran tidak terganggu. Ruslan menyatakan komitmennya untuk mengawal permintaan tersebut.
“Itu permohonan warga. Kami akan menyampaikan ke pihak terkait, termasuk BP Batam dan Wali Kota. Kami akan bekerja agar distribusi air bisa maksimal,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua RT 02 RW 11 Tanjung Sengkuang, Rudi, mengatakan bahwa saat ini distribusi air tangki mencapai sekitar 80 tangki per hari yang dibagi rata ke 14 RW terdampak.
“Jumlahnya berbeda-beda. Ada RW yang mendapat sembilan tangki, ada juga yang tujuh tangki per hari,” ujarnya.
Sebagai tokoh masyarakat, Rudi menyampaikan apresiasi kepada Ruslan Sinaga yang hadir langsung dalam evaluasi pascademonstrasi. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, Polres, dan Polsek yang telah mengawal pendistribusian air tangki ke wilayah mereka.
Rudi berharap selama bulan puasa hingga Lebaran nanti pasokan air tidak kembali terhenti, mengingat air bersih menjadi kebutuhan utama warga.
“Air sangat dibutuhkan saat bulan puasa. Kami mohon jangan sampai mati,” harap dia. (***)
Reporter : ARJUNA – M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK