Buka konten ini

BATAM (BP) – Krisis air bersih di wilayah Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, hingga kini belum teratasi. Sejak pengelolaan air beralih ke Air Batam Hilir (ABH), warga mengaku semakin kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Selama berbulan-bulan, masyarakat terpaksa membeli air dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga air bahkan mencapai Rp15 ribu per drum.
Ketua RT 1/RW 4 Tanjung Uma, Priyono, mengatakan, pasokan air di lingkungannya sudah lama tidak mengalir. Kondisi tersebut memaksa warga membeli air dari daerah yang masih memiliki aliran air.
“Kalau untuk kebutuhan harian, kami beli ke warga lain yang airnya masih mengalir. Harganya Rp15 ribu per drum,” ujar Priyono kepada Batam Pos, Jumat (30/1) siang.
Priyono mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada ABH maupun BP Batam. Namun hingga kini, belum ada solusi konkret yang benar-benar dirasakan warga.
“Saya sudah beberapa kali mengadu ke ABH dan BP Batam, tapi belum ada penyelesaian,” katanya.
Ia menyebut BP Batam sempat turun ke lokasi terakhir pada Desember 2025 lalu. Namun, kunjungan tersebut dinilai belum diikuti langkah nyata.
“Ada yang datang, tapi cuma lihat-lihat saja. Tidak ada pergerakan.
Kami ini butuh solusi,” ucapnya. Menurut Priyono, krisis air bersih hampir merata dirasakan warga Kelurahan Tanjung Uma. Ironisnya, distribusi air menggunakan mobil tangki juga tidak menjangkau seluruh wilayah.
“Kalau yang di darat, mobil tangki masih bisa masuk. Tapi kami yang tinggal di pelantar setelah pasar, mobil tidak mau masuk,” ungkapnya.
Sebagai informasi, pasokan air bersih untuk wilayah Tanjung Uma bergantung pada Waduk Sei Ladi.
Menanggapi keluhan tersebut, Humas Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan penyelesaian secara menyeluruh. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah penambahan kapasitas air sebesar 50 liter per detik (LPS) di Dam Sei Ladi.
“Untuk penyelesaian secara global, saat ini sedang didorong dan sudah ada kabar baik. Akan dilakukan penambahan 50 LPS di Sei Ladi,” kata Ginda.
Selain penambahan sumber air, ABH juga akan membangun serta merevitalisasi infrastruktur pendukung, termasuk jaringan perpipaan.
“Penambahan sumber air harus diiringi perbaikan jaringan. Jadi sumber dan infrastrukturnya harus sinkron dan diremajakan,” jelasnya.
ABH juga akan melakukan penelusuran menyeluruh terhadap jaringan perpipaan di kawasan permukiman Tanjung Uma guna mendeteksi kemungkinan sumbatan atau kebocoran.
“Kami akan melakukan flushing jaringan. Kalau ditemukan sumbatan atau kebocoran, akan segera diperbaiki,” ujarnya.
Menurut Ginda, jaringan perpipaan di Tanjung Uma tergolong kecil dan tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
“Jaringannya kecil, sementara jumlah warga terus bertambah. Akibatnya, pasokan air menjadi tidak mencukupi,” katanya.
Selama proses perbaikan berlangsung, ABH berkomitmen membantu warga melalui suplai air menggunakan mobil tangki dengan berkoordinasi bersama RT dan RW setempat.
“Selama pekerjaan berjalan, kami tetap bantu pengiriman mobil tangki sampai kondisi air kembali normal,” ujarnya.
Ia menyebut penambahan kapasitas air dan perbaikan infrastruktur ini merupakan hasil koordinasi antara BP Batam dan Badan Usaha SPAM, yang direncanakan mulai berjalan sekitar Agustus tahun ini.
“Tujuannya agar pasokan air kembali normal dan berkelanjutan,” katanya.
Warga Sengkuang Titip Harapan ke Aparat
Keluhan warga terkait krisis air bersih di wilayah Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, kembali mencuat. Kesulitan mendapatkan air bersih yang dialami hampir setiap hari mendorong warga menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Polresta Barelang.
Dialog digelar di Ruang Kapolresta Barelang, Kamis (29/1), dan dihadiri ketua RT, RW, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari sejumlah RW di Tanjung Sengkuang.
Kapolresta Barelang, Kombes Anggoro Wicaksono, mengatakan pertemuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap persoalan masyarakat.
“Pertemuan ini kami laksanakan untuk mendengar langsung keluhan warga sekaligus mencari solusi atas persoalan air bersih di Tanjung Sengkuang,” ujarnya.
Anggoro menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Air Batam Hilir (ABH) dan PT Moya. Polresta Barelang berkomitmen mengawal penyelesaian persoalan distribusi air bersih agar penanganannya berjalan berkelanjutan.
Dalam forum itu, warga mengeluhkan pasokan air yang sering hanya mengalir dengan debit kecil dan waktu yang tidak menentu. Warga berharap distribusi air dapat dilakukan secara rutin, terutama pada siang hari.
Ketua RW 02 Tanjung Sengkuang, Modiliwang, mengatakan air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar masyarakat.
“Kalau air tidak ada, semua aktivitas warga terganggu. Kami berharap air bisa mengalir antara pukul 05.00 sampai 12.00 WIB,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan tokoh masyarakat RW 12, Abdul Latif. Ia menyoroti kondisi pasokan air yang semakin krusial menjelang Ramadan.
“Kami berharap selama Ramadan nanti air bisa mengalir lancar karena sangat dibutuhkan untuk ibadah dan aktivitas sehari-hari,” katanya.
Menanggapi hal itu, Kapolresta Barelang mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi kondusif dan tidak mudah terprovokasi. (*)
Reporter : M. SYA’BAN – EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK