Buka konten ini

APAKAH Anda pernah mendengar istilah trigger finger? Jika Anda pernah merasakan nyeri disertai bunyi saat meluruskan jari tangan, ada kemungkinan Anda mengalami trigger finger atau jari pelatuk. Trigger finger merupakan kondisi kelainan pada jari tangan yang ditandai dengan penebalan pada selubung tendon fleksor. Akibat penebalan tersebut, penderita merasakan gerakan jari menjadi terkunci pada jari yang terkena.
Penyebab trigger finger belum diketahui secara pasti dan kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja. Insiden trigger finger meningkat pada pasien yang memiliki penyakit komorbid, seperti diabetes, amiloidosis, sindrom lorong karpal (carpal tunnel syndrome/CTS), asam urat, penyakit tiroid, serta rheumatoid arthritis. Kasus trigger finger juga lebih sering dijumpai pada wanita dibandingkan pria.
Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko adalah aktivitas yang menggunakan gerakan tangan berulang, seperti mengetik, menulis, memasak, serta pekerjaan yang banyak menggenggam alat. Apabila kondisi ini tidak ditangani, tentu dapat mengganggu pekerjaan maupun aktivitas sederhana sehari-hari.
Trigger finger dapat mengenai semua jari. Namun, ibu jari, jari manis, dan jari tengah merupakan jari yang paling sering mengalami kondisi ini. Pada tahap awal, pasien biasanya mengeluhkan jari berbunyi tanpa disertai rasa nyeri saat digerakkan. Seiring waktu, keluhan dapat berkembang menjadi nyeri yang terlokalisasi, mulai dari telapak tangan hingga sendi-sendi jari.
Pasien juga dapat mengeluhkan kekakuan sendi hingga jari tidak dapat ditekuk maupun diluruskan. Gejala klasik trigger finger adalah jari menekuk dan terkunci. Pasien sering menyadari adanya bunyi “klik” saat berusaha membengkokkan jari. Ketika mencoba membuka kepalan tangan, jari yang terkena dapat bertahan dalam posisi bengkok. Dengan usaha lebih lanjut, jari akhirnya dapat diluruskan secara mendadak atau disebut sebagai snapping.
Terdapat beberapa pilihan penanganan u ntuk kasus trigger finger. Tatalaksana konservatif meliputi mengistirahatkan tangan serta pemberian obat antiinflamasi untuk mengurangi nyeri. Penanganan lain yang dapat dilakukan adalah injeksi kortikosteroid pada area selubung tendon yang mengalami penebalan.
Kekambuhan dalam jangka waktu enam bulan dilaporkan terjadi pada sekitar 30 persen kasus trigger finger, terutama pada pasien usia muda dan penderita diabetes. Jika terjadi kekambuhan, pasien mungkin memerlukan injeksi ulang. Tindakan operasi juga diindikasikan pada kasus trigger finger yang kambuh berulang. Pembedahan dilakukan dengan membuat sayatan pada selubung tendon agar tendon dapat bergerak secara bebas.
Trigger finger merupakan kondisi penebalan dan pengerasan pada sarung tendon sehingga tendon fleksor tidak dapat bergerak dengan bebas. Gejala klinis yang muncul meliputi nyeri hingga jari terkunci saat digerakkan. Terapi trigger finger dapat berupa tatalaksana konservatif hingga pembedahan. Jika Anda mengalami keluhan-keluhan tersebut, disarankan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. (***)