Buka konten ini

BATUAMPAR (BP) – Realisasi investasi Kota Batam yang menembus sekitar Rp69 triliun sepanjang 2025 mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Batam Investment Gala yang digelar di Ballroom Marriott Hotel, Harbour Bay, Batam, Kamis (29/1) malam.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menyampaikan gala dinner tersebut menjadi momentum pemberian apresiasi dari Kementerian Investasi/BKPM dan Kementerian UMKM, dengan dukungan BRI, kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan BP Batam atas capaian investasi yang dinilai signifikan.
“Apresiasi ini tidak hanya ditujukan kepada pemerintah daerah, tetapi juga kepada para pelaku usaha. Investasi merupakan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha,” ujarnya.
Secara nasional, Batam masuk dalam lima besar kabupaten/kota dengan realisasi investasi tertinggi. Untuk kategori Penanaman Modal Asing (PMA) tingkat kota, Batam berada di peringkat ketiga. Sementara dalam kategori kota otonom, Batam menempati peringkat pertama dalam realisasi investasi.
Capaian tersebut menjadi endorsement sekaligus penyemangat bagi Pemko Batam, BP Batam, dan pelaku usaha untuk menghadapi 2026 yang diprediksi penuh tantangan, baik dari sisi investasi maupun perekonomian global. “Semangat ini harus tetap terjaga agar pertumbuhan ekonomi Batam stabil,” kata Todotua.
Dari perspektif Kementerian Investasi, sektor manufaktur diyakini tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan Batam. Hal itu ditopang posisi strategis Batam yang memiliki sekitar 17 kawasan industri serta status sebagai kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ).
Dalam konteks perdagangan internasional, tarif ekspor ke Amerika Serikat berada di kisaran 19 persen, sementara ke Eropa telah mencapai 0 persen. Kondisi ini dinilai mampu memperkuat daya saing produk manufaktur Batam di pasar global.
Selain manufaktur dan fabrikasi, industri perkapalan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Industri elektronik tetap menjadi sektor unggulan, disusul pertumbuhan pesat industri data center dan sektor digital. Dengan posisinya sebagai hub logistik strategis, Batam diproyeksikan tetap menjadi magnet investasi di sektor-sektor tersebut.
“Sektor-sektor ini memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan pembentukan ekosistem ekonomi, termasuk yang didukung oleh UMKM,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Helvi Yuni Moraza, menekankan pentingnya penguatan peran UMKM sebagai penopang ekonomi nasional. Mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto, UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dan berkontribusi 61–62 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Bagaimana menaikkan kelas UMKM? Pertama, melalui pembinaan lewat kolaborasi pemerintah pusat dan daerah. Kedua, dari sisi usaha, kita perlu mensinergikan mereka dengan pengusaha besar,” ujarnya.
Menurutnya, Batam sebagai pusat investasi dengan banyak pelaku usaha besar memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan yang kuat dengan UMKM. Pemerintah mendorong agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dipersiapkan dan dirangkum dalam ekosistem yang terintegrasi sehingga mampu bekerja sama dengan industri besar.
“Yang mendukung dan memperkuat investasi adalah ekosistem yang ada. Di situlah UMKM berperan,” pungkasnya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO