Buka konten ini

DPS LAZ Batam, Dosen IKPIA Perbanas Institute Jakarta
ISRA Mi’raj diyakini oleh mayoritas ulama terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian atau sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi pada tahun wafatnya istri Nabi Muhammad saw., Siti Khadijah, dan paman beliau Abu Thalib, yang selama ini menjadi tumpuan dan pelindung dalam menjalani hari-hari berat dakwah. Dalam suasana penuh duka yang oleh para sejarawan disebut sebagai ‘âmul huzni, Allah SWT menghibur Rasul-Nya melalui peristiwa Isra Mi’raj sebagai spiritual journey, sebuah perjalanan suci, mulia, dan penuh mukjizat.
Perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa merupakan perjalanan dari dan menuju zona kebersihan fisik serta kesucian hati dan pikiran. Sementara itu, perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsa menuju Sidratil Muntaha merupakan pendakian spiritual menuju pendekatan dan kedekatan diri dengan Allah SWT. Dalam momen Isra Mi’raj inilah diturunkan kewajiban shalat fardhu lima waktu. Pertanyaannya, apakah shalat yang kita kerjakan hanya sekadar kegiatan ritual untuk menggugurkan kewajiban, ataukah mengandung pelajaran yang perlu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari?
Perintah shalat lima waktu merupakan manifestasi transformasi mental dan spiritual.
Shalat yang ideal dan bermakna adalah shalat yang transformatif, bukan sekadar ibadah tanpa makna, melainkan ibadah yang dapat diterjemahkan dan diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Shalat yang transformatif akan berdampak baik bagi pelakunya maupun lingkungan sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut [29]: 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” Dengan kata lain, shalat seharusnya membuahkan kesalehan, kebaikan, kemanfaatan, serta kemaslahatan sosial.
Shalat transformatif menjadi benteng pertahanan moral yang menjauhkan seorang mukmin dari berbagai kemaksiatan, sekaligus sarana untuk meningkatkan kualitas spiritual. Para ulama bahkan menyebut shalat sebagai mi’raj seorang mukmin, yakni sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui shalat, seorang mukmin melakukan pendakian spiritual dengan kesucian hati dan pikiran untuk mencapai kedekatan maknawi dengan Allah SWT. Dengan shalat yang khusyuk dan fungsional, seorang mukmin membangun keseimbangan jasmani dan rohani, fisik dan mental spiritual, disiplin hidup bersih dan sehat, disiplin waktu, disiplin ibadah, disiplin berjamaah, serta disiplin berintegritas moral. Seluruh bacaan, gerakan, dan perbuatan dalam shalat sarat dengan pelajaran perubahan menuju standar mutu kehidupan yang ideal dan bermakna.
Sebelum melaksanakan shalat, seseorang disyaratkan berada dalam keadaan suci, bukan hanya bersih dari kotoran dan najis, tetapi juga suci secara maknawi, lahir dan batin. Takbir dengan mengangkat kedua tangan—yang menjadi bacaan dengan frekuensi terbanyak, yakni 94 kali dalam shalat wajib setiap hari—mengajarkan sikap rendah hati dan menjauhi kesombongan. Karakter ini menyelamatkan manusia dari murka Allah dan membebaskannya dari api neraka. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi” (HR. Muslim No. 91).
Berdiri tegak dalam shalat mengajarkan keteguhan pendirian, ketangguhan menghadapi persoalan, dan soliditas dalam perjuangan. Saat berdiri, pandangan mata ditundukkan sebagai simbol kerendahan hati. Bacaan surah Al-Fatihah yang dibaca sebanyak 17 kali sehari mengandung spiritualitas tauhid, tahmid, tasbih, dan ta’zhim seorang hamba kepada Zat Yang Mahasuci, sekaligus doa agar diberi petunjuk menuju jalan hidup yang lurus dan benar.
Nidhamuddin Al-Naisabury, seorang ulama Persia abad pertengahan, meneliti bahwa dalam Surah Al-Fatihah tidak ditemukan tujuh huruf hijaiyah tertentu. Ketujuh huruf tersebut, menurut penelitiannya, banyak digunakan dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan kondisi neraka Jahanam dan para penghuninya. Dengan diwajibkannya membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, besar kemungkinan Allah SWT berkehendak membebaskan orang-orang yang menunaikan shalat dengan baik dan benar dari tujuh pintu neraka.
Ketika rukuk, seorang mukmin dilatih untuk memandang ke tanah sebagai pengingat asal-usul dan akhir kehidupan. Merunduk dan menundukkan pandangan menyadarkan manusia akan semakin dekatnya kematian. Sujud—yang dilakukan sebanyak 34 kali dalam shalat fardhu sehari semalam—mendidik seorang mukmin untuk memiliki karakter rendah hati, patuh, serta menyadari kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Allah SWT berfirman, “Dari tanah itulah Kami menciptakan kamu, kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan membangkitkan kamu sekali lagi” (QS. Thaha [20]: 55).
Sebagian ulama menafsirkan bahwa gerakan rukuk menunjukkan ta’dhim seorang hamba kepada Rabb-nya. Dua kali sujud menggambarkan proses penciptaan manusia dari tanah, duduk di antara dua sujud melambangkan kehidupan dunia, sujud kedua melambangkan kembalinya manusia ke tanah (dikuburkan), dan berdiri kembali dari sujud menggambarkan kebangkitan pada hari akhir.
Gerakan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri—sebanyak 10 kali—mengedukasi pentingnya sikap peduli, budaya hidup damai, toleransi, serta mengutamakan keselamatan dan kemaslahatan bersama. Bahkan Allah SWT mencela orang-orang yang menjalankan shalat namun abai terhadap kesulitan yang dialami sesama. Dalam QS. Al-Ma’un [107]: 7 disebutkan, “…dan enggan (memberi) bantuan.” Salam merupakan bentuk sapaan yang menebarkan kedamaian dan ketenteraman. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seseorang masuk surga hingga ia beriman, dan tidaklah ia beriman hingga saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling menyayangi?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sebarkanlah salam di antara kalian.”
Melalui Isra Mi’raj dan kewajiban shalat lima waktu, umat Islam diajarkan untuk menjaga keseimbangan antara perjalanan duniawi yang horizontal dan perjalanan ukhrawi yang vertikal. Perjalanan horizontal mengedukasi pentingnya kesucian niat dan tujuan agar manusia tidak tersesat dalam lintasan waktu, budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Prinsip utama dalam menjalani kehidupan dunia adalah menjaga kesucian hati dan pikiran, karena hal tersebut mampu membebaskan manusia dari sifat hewani, hawa nafsu, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Menjadi orang saleh tidak ditempuh dengan cara menyendiri dan memutus hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan. Jika kesalehan hanya dapat dicapai dengan menjauhi kehidupan dunia, niscaya Nabi Muhammad saw. tidak akan turun dari Gua Hira. Kesalehan justru dapat diraih dengan menebarkan kemanfaatan seluas-luasnya sesuai tuntunan ilahi. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia di antara kalian adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia” (HR. Thabrani No. 5787).
Semoga shalat yang kita dirikan tidak hanya menjadi ritual ibadah semata, tetapi juga menghadirkan dampak positif bagi kehidupan pribadi dan lingkungan sosial secara luas. Wallahu a’lam bish-shawab. (***)