Buka konten ini

BATAM (BP) – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sekitar 8 persen yang berujung pada penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu kekhawatiran publik. Tekanan pasar ini terjadi di tengah melonjaknya harga emas yang menembus Rp3 juta per gram serta melemahnya nilai tukar rupiah.
Namun, pelaku dan pengamat ekonomi di Batam menilai gejolak pasar saham nasional tersebut belum berdampak langsung dan sistemik terhadap perekonomian daerah.
Pakar ekonomi sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Suyono Saputra, menegaskan bahwa koreksi tajam IHSG dalam beberapa hari terakhir masih bersifat sementara dan lebih dipicu oleh faktor eksternal.
“IHSG yang terpuruk dalam beberapa hari terakhir, saya pikir belum berdampak sistemik terhadap Batam,” ujar Suyono saat dimintai tanggapan Batam Pos, Kamis (30/1).
Menurutnya, tekanan di pasar saham terutama dipicu oleh kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang diumumkan secara mendadak.
Hal tersebut memicu reaksi berlebihan dari investor dalam jangka pendek.
“Pasar saat ini hanya bereaksi. Situasi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Otoritas bursa dan OJK juga sedang berupaya menstabilkan keadaan agar tidak berdampak buruk dalam jangka panjang,” jelasnya.
Suyono menilai struktur ekonomi Batam yang bertumpu pada sektor riil, seperti industri manufaktur, logistik, galangan kapal, dan investasi langsung, membuat daerah ini relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar keuangan dibandingkan wilayah yang sangat bergantung pada pasar modal.
“Posisi Batam cukup unik. Emiten yang berasal dari Batam sejauh ini juga belum terpengaruh secara signifikan. Bahkan, sejumlah perusahaan masih melakukan ekspansi dan membangun proyek-proyek baru,” katanya.
Ia mengakui, meskipun alarm ekonomi nasional patut diwaspadai, Batam justru memiliki daya tahan yang lebih baik selama aktivitas industri dan investasi tetap berjalan.
Terkait lonjakan harga emas yang mencapai Rp3 juta per gram, Suyono menyebut fenomena tersebut sebagai cerminan kehati-hatian investor dalam mencari instrumen aman (safe haven), bukan tanda kepanikan ekonomi secara menyeluruh.
“Kenaikan harga emas menandakan adanya pergeseran aset dan sikap kehati-hatian investor. Ini bukan berarti ekonomi runtuh,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat bergantung pada stabilisasi kebijakan global dan nasional dalam waktu dekat. Jika kepercayaan pasar kembali pulih, tekanan di pasar keuangan diperkirakan akan mereda.
Meski dampak terhadap Batam belum terasa signifikan, Suyono mengingatkan pemerintah daerah agar tetap bersikap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
“Pemerintah Batam perlu memastikan iklim investasi tetap kondusif, menjaga kepercayaan pelaku usaha, serta mempercepat realisasi belanja dan proyek strategis agar ekonomi lokal tetap bergerak,” ujarnya.
Ia menegaskan stabilitas ekonomi daerah dapat menjadi bantalan penting apabila gejolak ekonomi nasional berlangsung lebih lama.
“Selama sektor riil Batam dijaga dengan baik, dampak gejolak pasar keuangan masih dapat diredam,” tutupnya. (*)
Reporter : M SYAKBAN
Editor : RATNA IRTATIK