Buka konten ini

PENURUNAN tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sekitar 8 persen pada Kamis (29/1) memicu kewaspadaan pelaku industri, termasuk di Batam. Tekanan jual yang masif bahkan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham guna meredam kepanikan pasar.
Gejolak pasar saham ini menjadi perhatian Himpunan Kawasan Industri (HKI) Batam. Koordinator Wilayah HKI Batam, Adhy Prasetyo Wibowo, menilai pergerakan IHSG kali ini berlangsung terlalu cepat sehingga dampaknya terhadap sektor industri belum dapat dipastikan.
“Penurunan IHSG ini terjadi singkat dan sangat cepat. Karena itu, dampak riilnya ke industri belum bisa terlihat saat ini,” kata Adhy saat dikonfirmasi, Kamis (29/1).
Menurutnya, bila tren pelemahan berlanjut dan tidak diiringi sentimen positif, pelaku industri berpotensi mengambil sikap wait and see sebelum melakukan investasi maupun ekspansi. Langkah tersebut dinilai wajar sebagai upaya menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpas tian pasar keuangan.
Meski demikian, Adhy menegaskan hingga kini belum ada dampak langsung terhadap operasional industri di Batam. Aktivitas pabrik dan kegiatan investasi masih berjalan normal.
“Sejauh ini belum terlihat pengaruhnya. Kegiatan industri masih aman, tetapi tentu kami tetap waspada,” ujarnya.
HKI Batam berharap pemerintah pusat dan otoritas pasar modal segera mengambil langkah konkret untuk menenangkan pasar dan memulihkan kepercayaan investor. Menurut Adhy, koordinasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri menjadi kunci agar gejolak pasar saham tidak merembet ke sektor riil.
“Kami optimistis pemerintah memiliki solusi yang tepat agar kondisi ini tidak mengganggu iklim investasi, khususnya di Batam,” ucapnya.
Senada dengan HKI Batam, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam juga meminta pelaku usaha agar tidak panik menyikapi pelemahan IHSG. Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, menegaskan bahwa anjloknya IHSG tidak memiliki pengaruh langsung terhadap investasi riil di Batam.
“Tidak ada pengaruh langsung antara penurunan IHSG dengan investasi yang masuk ke Batam. Ini dua hal yang berbeda,” kata Rafki.
Ia menjelaskan, investasi di pasar saham tergolong investasi portofolio yang sangat dipengaruhi sentimen dan faktor psikologis investor. Sementara itu, investasi yang masuk ke Batam, seperti pembangunan pabrik, kawasan industri, dan ekspansi usaha, termasuk kategori foreign direct investment (FDI) yang lebih dipengaruhi faktor struktural.
“FDI ditentukan oleh kepastian regulasi, infrastruktur, stabilitas kebijakan, tenaga kerja, serta kemudahan perizinan. Jadi tidak serta-merta terpengaruh naik turunnya IHSG,” jelasnya.
Rafki menambahkan, sektor industri di Batam relatif tidak terpapar langsung oleh fluktuasi pasar saham. Realisasi investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah sejauh ini masih terjaga.
“Tidak ada tekanan ekonomi langsung ke Batam akibat pelemahan IHSG ini,” ujarnya.
Ia menilai koreksi IHSG saat ini bersifat sementara, dipicu oleh menurunnya kepercayaan sebagian investor terhadap pasar saham domestik. Namun, Rafki optimistis kondisi tersebut akan membaik seiring pulihnya kepercayaan pasar.
“Kita tidak perlu panik. Hal seperti ini lumrah dan sudah sering terjadi,” katanya.
Sementara itu, di tingkat nasional, otoritas pasar modal bergerak cepat merespons tekanan pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan merevisi ketentuan free float atau porsi saham yang beredar di publik menjadi minimal 15 persen, dari sebelumnya 7,5 persen. Kebijakan ini berlaku bagi emiten baru maupun perusahaan yang telah tercatat di BEI.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyebutkan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut atas masukan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti transparansi kepemilikan saham di Indonesia.
“OJK memandang masukan MSCI sebagai hal positif. Ini menunjukkan MSCI tetap ingin memasukkan saham Indonesia dalam indeks global,” kata Mahendra di Jakarta.
Selain menaikkan batas free float, OJK bersama self-regulatory organization (SRO) juga akan menyempurnakan perhitungan kepemilikan saham serta meningkatkan transparansi kepemilikan di atas dan di bawah 5 persen. Seluruh penyesuaian ditargetkan rampung sebelum Maret 2026.
Di sisi lain, BEI kembali memberlakukan trading halt pada Kamis (29/1) pukul 09.26 WIB setelah IHSG turun hingga 8 persen. Perdagangan dibuka kembali setengah jam kemudian untuk menjaga perdagangan tetap berlangsung tertib dan wajar.
Meski tekanan pasar mulai mereda usai konferensi pers OJK, sentimen global masih membayangi. Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia dari market weight menjadi underweight, sehari setelah MSCI menyoroti isu transparansi pasar.
Dalam laporannya, Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif mencapai USD 2,2 miliar atau sekitar Rp34 triliun. Bahkan, jika Indonesia benar-benar diturunkan dari status emerging market menjadi frontier market, dana keluar berpotensi melonjak hingga USD 7,8 miliar atau sekitar Rp123 triliun.
Meski risiko tersebut dinilai kecil, peringatan tersebut menambah tekanan terhadap pasar saham nasional. Namun, bagi pelaku industri di Batam, kehati-hatian tetap diimbangi optimisme.
“Industri tetap fokus pada operasional dan rencana produksi. Kami yakin stabilitas akan kembali terjaga,” ujar Adhy Prasetyo menutup pernyataannya. (***)
Reporter : EUSEBIUS SARA – ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK