Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam membantah kabar adanya sampah yang tidak diangkut hingga lima hari di kawasan pusat kota, khususnya di sepanjang Jalan Raja M Tahir dan deretan pertokoan Greenland, Batam Center.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Batam, Iqbal Feliansyah, menegaskan informasi tersebut tidak benar. Ia memastikan pengangkutan sampah di kawasan jalan protokol dan pusat aktivitas ekonomi tetap dilakukan setiap hari oleh petugas kebersihan.
“Tidak ada sampai lima hari. Sampah di pusat kota itu setiap hari diangkut. Kalau ada yang bilang sampai lima hari, itu tidak benar,” kata Iqbal, Kamis (29/1).
Ia mengakui, dalam beberapa kesempatan memang terjadi keterlambatan pengangkutan. Namun, keterlambatan tersebut bersifat sementara dan tidak berlangsung berhari-hari.
“Paling hanya terlambat kesiangan atau kesorean. Kalau pun ada kendala teknis, misalnya kendaraan angkut sedang perbaikan, itu maksimal dua hari sekali, tidak mungkin sampai lima hari,” jelasnya.
Iqbal menjelaskan, kawasan Jalan Raja M Tahir hingga Batam Center merupakan area prioritas DLH karena berada di jalur protokol serta menjadi pusat aktivitas kuliner dan perdagangan. Karena itu, wilayah tersebut masuk dalam jadwal pengangkutan rutin setiap hari.
“Lokasinya di pinggir jalan utama dan kawasan kaki lima. Sampahnya kami angkut setiap hari. Kalau terlihat menumpuk, itu karena faktor waktu pengangkutan, bukan karena tidak diangkut,” katanya.
Meski demikian, Iqbal menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan pelaku usaha atas ketidaknyamanan yang sempat terjadi. Ia menegaskan DLH Kota Batam tengah melakukan pembenahan layanan agar pengangkutan sampah berjalan lebih optimal.
“Kami DLH Kota Batam mohon maaf atas kondisi yang terjadi. Saat ini kami sedang dalam proses perbaikan pelayanan. Terima kasih atas perhatian dan masukan dari masyarakat,” ucapnya.
Sebelumnya, tumpukan sampah dilaporkan berserakan dan menimbulkan bau menyengat di kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir. Sampah rumah makan dan pertokoan terlihat memenuhi trotoar, sehingga mengganggu kenyamanan pengunjung.
Pantauan di lokasi pada Rabu (28/1) sore, sampah plastik, sisa makanan, hingga kardus bekas tampak berserakan di sepanjang trotoar. Kondisi ini menuai keluhan dari para pelaku usaha setempat.
Salah seorang pemilik warung, Irna Wati, mengaku khawatir situasi tersebut berdampak pada usahanya. Ia menyebut para pedagang rutin membayar iuran kebersihan sebesar Rp150 ribu per bulan, namun pengangkutan sampah dinilai kerap terhenti tanpa kejelasan.
“Kami sebagai pemilik warung tidak enak dengan pengunjung. Makan ditemani bau sampah,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Yusril, juru parkir di kawasan tersebut. Menurutnya, tumpukan sampah sudah terjadi hampir lima hari terakhir.
“Sudah hampir lima hari sampah menumpuk dan tidak diangkut mobil sampah,” ujarnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO