Buka konten ini

PASAR apartemen, perhotelan, dan hunian di Jakarta, Surabaya, dan Bali menunjukkan ketahanan sekaligus pertumbuhan selektif sepanjang 2025. Kondisi ini terjadi di tengah iklim ekonomi dan investasi yang masih berhati-hati.
Permintaan tetap bergerak, terutama untuk properti dengan lokasi strategis dan konsep relevan. Pengelolaan profesional juga makin menjadi faktor penentu pasar.
Laporan Colliers mencatat sektor hunian dan akomodasi masih menjadi penopang utama pasar properti di kota besar. Pertumbuhan ini didorong pemulihan aktivitas pariwisata dan bisnis yang mulai stabil.
Kebutuhan hunian juga berkembang seiring dinamika perkotaan yang terus berubah. Faktor ini memberikan kontribusi besar terhadap pasar properti yang ada.
”Memasuki tahun 2026, prospek pasar properti menunjukkan arah yang lebih positif. Dengan pasokan yang terkendali dan permintaan yang berangsur pulih, properti yang terutama berlokasi strategis dan dikelola secara profesional akan mencatatkan permintaan lebih tinggi dan kondisi pasar yang lebih seimbang,” ujar Kepala Pemasaran dan Komunikasi Colliers Indonesia Yulia Miranti dalam laporan Colliers yang dikutip Selasa (27/1).
Apartemen: Permintaan Selektif, Fokus Kualitas
Di Jakarta, pasar apartemen sepanjang 2025 menunjukkan perbaikan permintaan meski pasokan baru relatif terbatas. Proyek yang rampung tercatat hanya sekitar setengah dari realisasi pasok tahun sebelumnya.
Jakarta Selatan tetap menjadi kontributor utama dalam segmen apartemen. Minat pembeli cenderung stabil dan lebih dipengaruhi kepastian penyelesaian proyek serta reputasi pengembang.
Pengaruh fluktuasi harga tampak lebih kecil dibanding kedua faktor tadi. Sementara itu, di Surabaya, pertumbuhan permintaan apartemen masih bergerak moderat.
Pembeli pilihan cenderung unit siap huni, terutama karena pengalaman keterlambatan proyek sebelumnya. Apartemen berlayanan masih diminati sebagai alternatif hunian sementara dan akomodasi medis.
Dukungan apartemen berlayanan ini menopang pasar di tengah laju pertumbuhan yang terbatas. Berbeda dengan kota lain, pasar apartemen di Bali terus berkembang seiring kuatnya sektor pariwisata.
Kawasan seperti Canggu dan Uluwatu menjadi pusat pertumbuhan properti di Bali. Proyek di sana mengedepankan konsep gaya hidup, kesehatan, dan kebugaran.
Pengembang semakin mengandalkan revitalisasi bangunan eksisting untuk mempertahankan lokasi premium. Strategi ini juga mempercepat waktu penyelesaian proyek.
Perhotelan: Tantangan Domestik, Dorongan Wisata Asing
Di Jakarta, kinerja perhotelan masih mendapat tekanan sepanjang 2025 akibat menurunnya aktivitas pemerintah, terutama segmen MICE. Meski demikian, permintaan dari segmen korporasi dan wisatawan individu mulai membaik.
Pelaku industri turut mempercepat diversifikasi sumber pendapatan di luar segmen pemerintah. Pasar hotel Surabaya menghadapi kondisi serupa dengan pemulihan bertahap pada segmen bisnis dan perjalanan korporasi.
Berbagai acara nasional seperti konser dan turnamen olahraga membuka peluang baru bagi perhotelan Surabaya. Kolaborasi dengan agen perjalanan daring berperan besar menjaga tingkat hunian hotel.
Di Bali, perhotelan menghadapi dinamika yang berbeda dibanding kota lain. Penurunan permintaan domestik dari segmen pemerintah berlawanan dengan peningkatan wisatawan mancanegara.
Persaingan dengan vila yang menawarkan harga lebih kompetitif turut menekan okupansi hotel di Bali. Pelaku industri merespons dengan paket terintegrasi dan pengalaman menginap bernilai lebih.
Hunian: Stabil dan Bertumpu Lokasi Strategis
Pasar hunian di kota-kota utama tetap stabil sepanjang 2025. Di Jakarta, hunian ekspatriat mencatat kinerja konsisten dengan dukungan pasok terbatas.
Permintaan datang dari perusahaan multinasional dan lembaga diplomatik. Properti dengan kualitas baik dan fasilitas modern diperkirakan menjaga kekuatan harga.
Secara keseluruhan, Colliers menilai pasar apartemen, perhotelan, dan hunian di Jakarta, Surabaya, dan Bali bergerak dengan pendekatan selektif dan strategis. Memasuki 2026, prospek pasar diperkirakan membaik seiring permintaan yang berangsur pulih.
Properti yang berlokasi strategis dan dikelola profesional berpotensi mencatatkan kinerja lebih kuat dan berimbang. Kondisi ini membuka peluang positif bagi para pelaku pasar properti di tiga kota besar. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI