Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Mal-mal kelas atas di Jabodetabek menunjukkan kinerja positif dan mampu menarik ekspansi bisnis. Pasar Jabodetabek menunjukkan pemulihan bertahap dengan kinerja didukung oleh mal kelas atas. Pusat perbelanjaan di segmen ini mampu menarik ekspansi peritel melalui pembukaan gerai baru dan peluncuran produk.
Mal kelas menengah dan bawah masih menyesuaikan diri, terutama dalam menyempurnakan bauran penyewa dan fasilitas. Proses penyesuaian ini penting agar pasar tetap kompetitif dan relevan dengan kebutuhan konsumen.
Kepala Pemasaran dan Komunikasi Colliers Indonesia Yulia Miranti dalam laporan Colliers menyebut perilaku belanja konsumen memengaruhi dinamika ritel. Sepanjang 2025, konsumen lebih selektif dalam pengeluaran dan fokus pada kebutuhan sehari-hari. Ini mendorong pengelola mal memperkuat posisinya sebagai destinasi gaya hidup berbasis pengalaman melalui sektor makanan dan minuman sebagai penopang utama.
Di Surabaya, pasar ritel bergantung pada kelas mal dan kemampuan beradaptasi terhadap preferensi konsumen. Mal yang berorientasi keluarga paling tangguh dengan stabilnya arus pengunjung dari kebutuhan harian, F&B, hiburan, dan gaya hidup.
Sebaliknya, pusat perbelanjaan yang lambat beradaptasi mulai tertinggal dalam persaingan. Hal ini menjadi peringatan bagi pengelola mal agar terus menyesuaikan diri.
Pasar ritel Bali tetap sehat karena pemulihan arus wisatawan. Mal berbasis gaya hidup serta destinasi wisata mencatat tingkat okupansi stabil, dengan permintaan didominasi peritel yang menawarkan pengalaman seperti F&B, fesyen, dan hiburan.
Pengelola pusat perbelanjaan di Bali cenderung menjaga tingkat keterisian lewat skema sewa fleksibel tanpa menaikkan tarif secara agresif. Strategi ini menjaga kestabilan pasar ritel Bali.
Colliers menilai anggaran ketat, perubahan perilaku konsumen dan penyewa, serta ketidakpastian global mendorong pelaku pasar menerapkan strategi konservatif sepanjang 2025. Namun, prospek pasar properti diperkirakan membaik di 2026 dengan pasokan terkendali dan permintaan yang pulih.
Properti ritel dan perkantoran yang strategis dan profesional, serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar akan mencatat permintaan tinggi. Hal ini diprediksi menciptakan pasar yang lebih seimbang ke depan.
Di sisi lain, sepanjang 2025, sektor ritel dan perkantoran di Jakarta, Surabaya, dan Bali tetap tahan di tengah kondisi ekonomi dan investasi yang hati-hati. Aktivitas pasar berjalan stabil dengan strategi yang lebih selektif, berfokus pada efisiensi serta lokasi yang strategis.
Di Jakarta, Colliers dalam rilisnya mengungkap pasar perkantoran mencatat pemulihan yang jelas terutama pada semester dua 2025. Aktivitas sewa didominasi perpanjangan kontrak, namun minat relokasi dan ekspansi mulai meningkat seiring membaiknya sentimen bisnis dan investasi bertahap.
Penyewa cenderung memilih dengan mempertimbangkan lokasi, kualitas gedung, teknologi, dan biaya sewa yang kompetitif. Hal ini menjadi kunci dalam mempertahankan permintaan di pasar perkantoran Jakarta.
Sementara itu, Colliers menemukan perkantoran Surabaya diuntungkan oleh minimnya tambahan pasokan baru yang diperkirakan berlangsung hingga 2028. Kondisi ini meredakan tekanan persaingan dan mendorong pemilik gedung fokus pada tingkat hunian.
Fleksibilitas ruang, biaya kompetitif, serta kesiapan unit menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan penyewa di Surabaya. Hal ini memperkuat posisi pasar perkantoran di kota tersebut.
”Dalam jangka pendek, pasar masih berpihak pada calon investor dan penyewa, untuk mendapatkan gedung dengan lokasi yang strategis, kualitas, teknologi dan pengelolaan bangunan yang baik,” ujarnya yang dikutip Selasa (27/1). (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI