Buka konten ini

PERTEMUAN tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, tahun ini menjadi ruang penting bagi penguatan agenda kelautan Indonesia.
Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siry, menjelaskan pertemuan yang dihadiri ribuan peserta dari ratusan negara, termasuk kepala negara, pemimpin politik, dan CEO global tersebut menjadi momentum krusial. Pasalnya, tahun ini isu air dan laut mendapat sorotan khusus melalui pendekatan yang dikenal sebagai Blue Davos.
“Tema yang diangkat itu adalah Spirit of Dialogue, yang ini adalah menekankan untuk dialog lintas negara dan lintas sektor di tengah ketegangan geopolitik,” ujar Hendra saat konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Rabu (28/1).
Hendra menjelaskan, dalam kerangka Blue Davos, isu air ditempatkan sebagai fondasi keberlanjutan global. Tekanan terhadap ekosistem perairan kian nyata, mulai dari peningkatan suhu laut, risiko banjir yang menjangkau miliaran penduduk dunia, hingga menyusutnya sumber air tawar.
Di sisi lain, nilai ekonomi ekosistem perairan dinilai sangat besar, namun investasi di sektor ini masih relatif kecil. Fokus tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama, yakni pengelolaan dan akses air tawar, ketahanan pangan biru, serta perlindungan laut dan penguatan ekonomi biru.
”Ini juga kita harapkan nanti juga ada peningkatan apa namanya salah satu upaya untuk bagaimana investasi di bidang ekonomi biru juga lebih meningkat lebih tinggi gitu,” jelasnya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memanfaatkan forum ini untuk memperkuat diplomasi ekonomi biru. Delegasi Indonesia mengikuti sejumlah agenda utama, termasuk forum bertema percepatan ekonomi biru yang mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, lembaga riset, pelaku usaha, hingga sektor keuangan global.
Selain itu, KKP juga menggelar kegiatan sampingan untuk memperkenalkan Ocean Impact Summit (OIS), forum internasional yang akan diselenggarakan di Bali pada Juni mendatang. Ajang ini diharapkan menjadi wadah pertemuan lintas negara, sains, dan sektor swasta dalam membahas dampak serta peluang sektor kelautan.
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Humas dan Komunikasi Media, Doni Ismanto, menyebut OIS sebagai forum bertaraf internasional yang tengah dipersiapkan secara intensif.
“Ocean Impact Summit ini karena ini adalah event bertaraf internasional nanti akan dihadiri oleh banyak kepala negara-kepala negara dari luar serta pejabat-pejabat dari NGO internasional dan sebagainya di Bali,” kata Doni.
Di sela rangkaian kegiatan WEF, KKP juga memanfaatkan Paviliun Indonesia untuk mempromosikan konsep pangan biru kepada audiens global. Literasi mengenai ragam sumber protein laut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman tentang potensi kelautan Indonesia.
Penguatan kerja sama internasional menjadi bagian penting dari langkah tersebut. Ketua Tim Kerja Sama Multilateral KKP, Desri Yanti, menjelaskan pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan WEF sebagai bentuk kolaborasi dalam penyelenggaraan OIS.
“Dengan bekerja sama dengan World Economic Forum harapannya bahwa Indonesia dalam penyelenggaraan Ocean Impact Summit ini dapat menggunakan partnership dengan WEF ini untuk meningkatkan kredibilitas kegiatan OIS ini secara global,” ujar Desri. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI