Buka konten ini

DI tengah hiruk-pikuk kawasan metropolitan Jakarta, sebuah rumah tua di Cipete, Jakarta Selatan, hadir dengan sentuhan jadul yang hangat dan membumi. Hunian bernama Umah Senja ini dirancang sebagai tempat pulang yang nyaman bagi pasangan senior, menghadirkan kembali kenangan masa lampau lewat detail arsitektur yang sederhana namun sarat makna.

Umah Senja dirancang sebagai rumah masa tua yang membumi di tengah kehidupan metropolitan Jakarta. Desainnya mengakomodasi kebutuhan pasangan senior yang mendambakan rumah nyaman dengan sentuhan kehangatan masa lampau.
Hunian yang terletak di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, itu hadir dengan konsep unik. Desainnya eklektik, banyak terinspirasi dari arsitektur rumah Sri Lanka yang diramu dengan nuansa seni Kota Jogjakarta. Sederhana, namun berkarakter.
”Klien menginginkan rumah yang berkesan ’tua’, nyaman, dan familier, bukan seperti rumah baru. Ini cukup menantang karena biasanya klien lain lebih menyukai nuansa modern-tropis,” ungkap arsitek Studio SAYA Estevantra Sun.
Kesan jadul terpancar kuat bahkan sejak fasadnya. Elemen-elemen seperti kanopi awning warna-warni, teralis besi pada jendela dan pintu, kerai kayu, plafon kayu melamic, hingga lantai tiles motif teraso menghadirkan kembali ingatan masa kecil. ”Kami ingin mewujudkan rumah yang mengingatkan akan rasa rindu terhadap kampung halaman, rumah kakek-nenek,” lanjutnya.
Di balik pagar, sisa lahan dijadikan area teras dan taman yang menerus hingga sisi samping bangunan. Posisi lahan hook memungkinkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami maksimal dengan tidak menempel pada bangunan pembatas. ”Keberadaan taman menghadirkan pencahayaan dan penghawaan alami serta menjadi view bagi ruang dalam rumah,” ujar Yeriel Johan yang juga arsitek Studio SAYA.
Penataan ruang pada rumah dua lantai tersebut terbilang sederhana. Sebab, kebutuhan ruangnya tak banyak. Semua aktivitas terfokus pada ruang keluarga dan ruang makan. Area itu terletak di bagian sudut bangunan dan dikelilingi oleh taman.
”Secara teknis, kami mencoba mengoptimalkan kenyamanan dengan membuat banyak bukaan ke arah taman sehingga pencahayaan dan penghawaannya memadai. Teras sepanjang sisi samping sebagai extension dari ruang utama,” sambung Yeriel Johan.
Kemudahan dan keamanan akses menjadi faktor penting. Karena itu, kamar tidur untuk penghuni senior ditempatkan di lantai dasar agar mudah dijangkau. Tanpa harus naik turun tangga. ”Di lantai 2 berisi lounge kecil, satu kamar tidur, dan kamar mandi,” imbuhnya.
Kemudahan perawatan bangunan juga diperhatikan agar tidak merepotkan. Untuk itu, diterapkan beberapa prinsip arsitektur vernakular, misalnya penggunaan bahan-bahan lokal. ”Adaptasi terhadap iklim tropis lewat penggunaan atap pelana, teritis lebar, keberadaan teras, dan ventilasi silang pada ruang-ruang utama,” bebernya.
Teras Dua Sisi
Posisi lahan pada kavling hook dengan garis sempadan bangunan (GSB) di dua sisi dimanfaatkan untuk menghadirkan teras dan taman yang cukup luas. Tak hanya di bagian depan, tapi hingga samping rumah.
Material Lokal
Penggunaan bahan-bahan lokal seperti genting terakota, kerai kayu, dan batu andesit menciptakan bangunan yang selaras dengan lingkungan. Bahan lokal juga dapat beradaptasi dengan iklim setempat.
Fitur Ramah Lansia
Tersedia fitur-fitur untuk memudahkan aksesibilitas penghuni. Misalnya, ramp pada entrance dan kamar mandi yang disematkan beberapa railing untuk pegangan. Dimensi area sirkulasi juga dipastikan bisa mengakomodasi penggunaan kursi roda jika diperlukan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI