Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Gagasan robot humanoid sebagai rekan kerja manusia bukan lagi sekadar wacana futuristik. Perkembangan terbaru di Tiongkok menunjukkan bahwa transisi tersebut berpeluang terjadi lebih cepat dan dalam skala lebih besar dibandingkan negara lain, menandai pergeseran penting dalam peta persaingan teknologi dan tenaga kerja global.
Dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di tepi Sungai Huangpu, ratusan robot humanoid dipamerkan melalui berbagai simulasi kerja dan atraksi fisik. Ada yang menari, mengangkat kotak, hingga bertinju, sementara sejumlah unit tampak tidak beroperasi karena sedang mengisi ulang daya. Pameran ini mencerminkan ambisi Tiongkok membawa robot humanoid keluar dari laboratorium menuju lingkungan kerja nyata.
Dilansir dari Wired, Selasa (27/1), fenomena tersebut menunjukkan perbedaan pendekatan mendasar antara Tiongkok dan Barat. Jika di Amerika Serikat pengembangan robot humanoid masih berfokus pada demonstrasi terbatas dengan biaya tinggi, di Tiongkok robot diposisikan sebagai produk industri massal yang terintegrasi dengan ekosistem manufaktur nasional.
Meski kemampuan robot humanoid saat ini masih memiliki keterbatasan—terutama karena sebagian unit masih dikendalikan manusia melalui pengendali jarak jauh dan belum memiliki ketangkasan tangan setara manusia, arah pengembangannya dinilai tidak terhambat. Para analis menilai keterbatasan tersebut bersifat sementara dan tidak mengurangi potensi dampak strukturalnya terhadap ekonomi global.
Bank of America memperkirakan bahwa pada 2035 pengiriman robot humanoid dunia akan mencapai 10 juta unit per tahun. Sementara itu, Morgan Stanley memprediksi pada 2050 sebanyak satu miliar robot akan beroperasi secara global, dengan sekitar 302,3 juta unit di antaranya berada di Tiongkok.
Keunggulan Tiongkok terlihat jelas pada Unitree, perusahaan robotika berbasis Hangzhou. Saat robot Optimus milik Elon Musk masih terbatas pada demonstrasi berjalan, robot Unitree telah mampu melakukan sprint, tendangan kungfu, hingga salto akrobatik. Dari sisi harga, Unitree juga jauh lebih kompetitif. Humanoid G1 dijual sekitar USD 13.500 atau setara Rp226,1 juta (kurs Rp16.750 per dolar AS), sementara model R1 dibanderol 39.999 yuan atau sekitar Rp96,3 juta (kurs Rp2.409 per yuan).
Pendiri Unitree, Wang Xingxing, menyatakan optimismenya secara terbuka. Dalam pidatonya di WAIC, ia mengatakan, Momen ‘ChatGPT’ bagi robot akan datang ketika robot bisa masuk ke ruangan asing, mengambilkan sebotol air untuk seseorang, atau merapikan ruangan secara mandiri hanya dari satu perintah sederhana. Ia menambahkan, perkembangan tersebut berpotensi terjadi dalam satu hingga tiga tahun pada skenario tercepat, atau maksimal tiga hingga lima tahun.
Namun, tidak semua pihak berbagi optimisme serupa. CEO Ghost Robotics, Gavin Kenneally, menilai keunggulan Unitree terutama berasal dari kecepatan pengembangan produk dan kekuatan rantai pasok. “Apa yang mereka lakukan adalah memperbarui dan menyempurnakan produk dengan sangat cepat dengan memanfaatkan manufaktur dan rantai pasok Tiongkok,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa biaya komponen inti robot di negara tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pesaing Barat.
Sementara itu, di Beijing, fokus pengembangan robot humanoid diarahkan pada penguatan kecerdasan dasar agar robot mampu memahami ruang dan tindakan fisik. Beijing Academy of Artificial Intelligence (BAAI) mengembangkan Robobrain 2.0, model robotika sumber terbuka yang menggabungkan kemampuan bahasa. Presiden BAAI, Zhongyuan Wang, menegaskan bahwa robot perlu memahami dunia fisik, bukan sekadar bahasa.
Di sisi lain, kekhawatiran justru mengemuka dari pelaku industri di Amerika Serikat. CEO Sunday Robotics, Tony Zhao, mengakui tantangan yang dihadapi perusahaannya. “Kecepatan pengembangan—di situlah Amerika Serikat kalah,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY