Buka konten ini

DI tengah anomali ekonomi global yang ditandai ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, serta tekanan terhadap pasar ekspor, kondisi ekonomi Batam dinilai masih relatif kuat. Namun, fondasi tersebut tetap menyimpan kerentanan struktural, terutama akibat tingginya ketergantungan pada ekspor dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kota Batam, Suyono Saputra, bersama akademisi ekonomi sekaligus mantan dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Akhirman, menilai momentum pertumbuhan ekonomi Batam harus dijaga dengan kebijakan yang tepat. Pertumbuhan tidak cukup hanya bergantung pada arus investasi, tetapi perlu diimbangi dengan penguatan struktur ekonomi dan peningkatan kualitas SDM.
Suyono menilai, secara fundamental ekonomi Batam masih cukup solid dalam menghadapi dinamika global. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan.
“Secara fundamental ekonomi Batam relatif kuat. Namun, tetap harus waspada. Jika ekonomi global, terutama negara tujuan ekspor utama Batam, mengalami turbulensi berat, dampaknya pasti akan terasa,” ujar Suyono.
Ia menjelaskan, kinerja ekspor Batam sangat bergantung pada pasar utama seperti Singapura, China, dan Amerika Serikat. Perlambatan ekonomi di negara-negara tersebut berpotensi langsung menekan pertumbuhan Batam.
Menurut Suyono, capaian investasi industri hingga saat ini masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Batam. Sektor konstruksi serta jasa perdagangan turut memperkuat momentum tersebut.
“Momentum ini harus terus dijaga. Kuncinya ada pada layanan perizinan yang semakin cepat, pasti, dan efisien,” tegasnya. Meski demikian, ia mengingatkan agar pertumbuhan investasi tidak semata dilihat dari angka, melainkan juga dari kualitas serta dampaknya terhadap masyarakat, khususnya penciptaan lapangan kerja.
Ketergantungan Ekspor Jadi Risiko Struktural
Suyono menilai tantangan struktural terbesar ekonomi Batam ke depan tetap berada pada sisi ekspor dan ketergantungan pada negara tertentu.

“Harus diakui, investasi utama kita masih berasal dari Singapura dan negara-negara terafiliasi seperti Amerika Serikat dan China. Saat ini memang belum terlihat perlambatan signifikan, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan,” katanya.
Ia menegaskan, diversifikasi pasar ekspor dan sektor ekonomi menjadi keharusan, bukan sekadar pilihan.
Lebih lanjut, Suyono menyoroti paradoks ekonomi Batam. Di satu sisi, investasi terus tumbuh, tetapi di sisi lain tingkat pengangguran masih relatif tinggi.
“Dampak utama investasi seharusnya adalah penciptaan lapangan kerja. Jika investasi naik tetapi pengangguran tetap tinggi, ini harus dianalisis lebih dalam,” ujarnya.
Menurutnya, perlu ditelusuri apakah investasi yang masuk lebih bersifat padat modal, padat teknologi, atau terjadi pergeseran menuju otomasi industri. Ia menekankan, BP Batam dan Pemerintah Kota Batam perlu melakukan analisis serius terhadap arah investasi tersebut.
Suyono merekomendasikan agar pemerintah menjaga ritme pertumbuhan sektor industri pengolahan sebagai tulang punggung ekonomi Batam.
“Industri selalu mencari lokasi dengan insentif paling kompetitif. Selain status kawasan perdagangan bebas (FTZ), Batam perlu memperkuat insentif nonfiskal, kepastian hukum, perizinan, infrastruktur logistik, serta kualitas SDM dan tenaga kerja,” tegasnya.
SDM Harus Mengejar
Sementara itu, Akhirman menilai pertumbuhan ekonomi Batam saat ini cukup impresif karena berada di atas rata-rata nasional.
“Dalam konteks global, investasi Batam masih mampu mengimbangi pertumbuhan ekonomi nasional dan negara sahabat. Ini merupakan peluang besar,” ujarnya.
Menurut Akhirman, pembangunan Batam sejatinya sudah terbuka dan inklusif. Tinggal bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan peluang tersebut secara optimal. Ia menyebutkan, posisi Batam yang berada di antara Singapura dan Malaysia membuat dinamika investasi dan bisnis menjadi sangat kompetitif.
“Batam ini kawasan perbatasan. Tantangannya besar, tetapi peluangnya juga besar jika dikelola dengan tepat,” katanya.
Investasi dan Peningkatan SDM Lokal
Akhirman menilai investasi turut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas SDM lokal, salah satunya melalui program pelatihan tenaga kerja yang dibiayai dari retribusi tenaga kerja asing.
“Tinggal mau atau tidak dimanfaatkan. Anak muda, para sarjana, memiliki banyak pilihan lembaga pelatihan kerja di Batam untuk meningkatkan kompetensi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri agar lulusan benar-benar terserap oleh pasar kerja.
Risiko Jangka Panjang jika Reformasi Terlambat
Menurut Akhirman, pertumbuhan ekonomi tanpa reformasi struktural berisiko menghambat pembangunan jangka panjang.
“Jika tidak ada keseimbangan antara pertumbuhan industri dan kualitas SDM, laju pembangunan akan terhambat. Pemerintah Batam yang baru harus memastikan keduanya berjalan seiring,” katanya.
Ia menilai Batam mulai bergerak menuju industri padat modal serta ekonomi berbasis teknologi dan pariwisata.
“SDM harus siap beralih dari padat karya ke padat modal. Selain industri, sektor pariwisata, pusat perbelanjaan modern, teknologi informasi, dan kuliner khas Batam juga perlu dikembangkan,” ujarnya.
Pengangguran Jadi Alarm Serius
Meski ekonomi Batam tumbuh tinggi, Akhirman mengingatkan angka pengangguran terbuka masih berada di kisaran puluhan ribu orang.
“Ini yang masih menjadi kekhawatiran. Investasi tinggi, tetapi pengangguran juga tinggi. Idealnya, keduanya harus seimbang,” tegasnya.
Menurutnya, pendidikan formal saja tidak cukup. Generasi muda perlu dibekali pelatihan kerja dan kompetensi khusus agar mampu bersaing di pasar kerja Batam yang semakin kompetitif. (*)