Buka konten ini

MUSIM kemarau yang melanda Kabupaten Bintan mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih warga. Di Kampung Sungai Jeram, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara, sejumlah warga terpaksa membeli air karena sumur mereka mulai mengering.
Salah seorang warga, Heni Setiowati, mengatakan air sumur di rumahnya menyusut sejak sebulan terakhir. Kondisi itu memaksanya membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sudah sebulan air sumur menyusut,” kata Heni.
Ia mengaku harus membeli sekitar 1.000 liter air setiap pekan dengan harga Rp70 ribu. Air tersebut digunakan untuk keperluan mencuci dan kebutuhan rumah tangga lainnya, sementara untuk minum, ia membeli air galon. “Buat cuci baju dan keperluan lainnya. Kalau untuk minum, beli air galon,” ujarnya.
Heni menyebutkan, kondisi serupa juga dialami setidaknya tiga rumah lainnya di lingkungan tersebut. Mereka berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah selama musim kemarau berlangsung.
“Kami berharap ada bantuan air dari pemerintah daerah selama musim kemarau,” kata Heni.
Kekeringan juga melanda warga Perumahan Yudha Oktaviary di Kelurahan Sungai Lekop, Kecamatan Bintan Timur. Ketua RT 05 RW 03 Kelurahan Sungai Lekop, Setiawan, mengatakan hampir satu bulan terakhir sumur warga mengering.
Menurutnya, sekitar 85 persen dari 154 rumah di perumahan tersebut terdampak kekeringan. Kondisi geografis wilayah yang berbukit dan berbatu menjadi kendala dalam penyediaan sumur bor.
“Wilayah kami perbukitan dan berbatu. Bantuan sumur bor tidak bisa menjangkau karena terkendala batu granit yang sangat besar,” kata Setiawan.
Ia mengaku prihatin melihat sebagian warganya yang tidak mampu membeli air bersih dengan harga Rp70 ribu per ton.
“Kasihan melihat warga yang tidak sanggup membeli air,” ujarnya.
Setiawan juga menyebutkan, sebelumnya pihak kelurahan telah melakukan pendataan warga untuk menjadi pelanggan PDAM. Namun hingga kini belum ada informasi lanjutan terkait realisasinya.
“Kami berharap ada bantuan air dari pemerintah untuk warga yang terdampak kemarau,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam. Warga setempat, Luyo, mengatakan desanya belum terjangkau layanan SPAM sehingga masih mengandalkan air sumur.
Saat kemarau, ia harus membeli air sebanyak 1.000 liter dengan harga Rp70 ribu, yang biasanya hanya cukup untuk satu pekan.
“Biasanya pemakaian untuk satu minggu. Setelah habis, mau tidak mau beli air lagi,” kata Luyo.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bintan, Ramlah, mengatakan pihaknya belum dapat memenuhi seluruh permintaan bantuan air bersih dari masyarakat. Hal itu disebabkan BPBD Bintan saat ini masih fokus pada penanganan kebakaran lahan yang marak terjadi belakangan ini.
“Saat ini yang menjadi fokus kami adalah penanganan kebakaran lahan,” katanya.
Selain itu, BPBD Bintan juga menghadapi keterbatasan sarana, prasarana, serta personel.
“Sarana dan prasarana yang ada di Bintan masih terbatas,” ujar Ramlah.
Ia berharap masyarakat dapat memahami kondisi tersebut dan memberikan dukungan kepada pemerintah daerah. (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto
Editor : GUSTIA BENNY