Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menambah cakupan layanan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada tahun ini. Tidak lagi sebatas skrining, peserta yang terdeteksi sakit akan langsung mendapatkan penanganan agar kondisinya membaik.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, tujuan CKG kini ditingkatkan.
Program ini tak hanya mendeteksi penyakit, tetapi juga memastikan peserta memperoleh pengobatan. “Tujuan utama kami adalah seluruh masyarakat Indonesia sehat,” ujarnya, Kamis (22/1).
Pada 2025, program CKG telah menjangkau sekitar 70 juta orang. Namun, Budi menegaskan, keberhasilan program tidak diukur dari jumlah skrining semata. “Yang terpenting adalah seberapa sehat masyarakat Indonesia,” katanya.
Tahun ini, target peserta CKG dinaikkan menjadi 136 juta orang. Masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan akan segera mendapatkan penanganan. Budi memastikan, bukan hanya pemeriksaan yang diberikan secara gratis. Upaya pencegahan dan pengobatan juga tidak dipungut biaya, khususnya bagi penderita hipertensi, diabetes, dan kolesterol.
“Obat langsung diberikan. Layanan ini berlaku selama 15 hari pertama setelah pemeriksaan,” jelasnya. Untuk pemeriksaan lanjutan, layanan tetap gratis bagi warga yang menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi memaparkan capaian pelaksanaan CKG 2025. Menurut dia, pemeriksaan telah dilakukan di seluruh 38 provinsi.
“Kami sudah memeriksa 70 juta masyarakat Indonesia. Dari total 10.300 puskesmas, sebanyak 10.225 telah menyelenggarakan CKG,” ujarnya. Puskesmas yang belum melaksanakan program tersebut berada di wilayah dengan tantangan geografis berat.
Endang menyebutkan, pada awal pelaksanaan peserta CKG didominasi perempuan.
Pada Maret, partisipasi perempuan mencapai 64 persen, sedangkan laki-laki 35 persen. Namun, kondisi itu membaik pada akhir tahun.
“Pada Desember, partisipasi menjadi 54 persen perempuan dan 45 persen laki-laki,” katanya.
Dari sisi wilayah, persentase pemeriksaan tertinggi tercatat di Gorontalo, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. “Gorontalo sudah memeriksa lebih dari setengah jumlah penduduknya,” jelas Endang.
Sebaliknya, capaian terendah terdapat di Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya. Sementara dari sisi jumlah, pemeriksaan terbanyak dilakukan di Pulau Jawa.
“Jawa Tengah paling tinggi dengan 14 juta orang, disusul Jawa Timur 13 juta, dan Jawa Barat 10 juta,” paparnya.
Temuan Petugas
Endang juga menyoroti berbagai temuan kesehatan dari hasil CKG. Mulai dari bayi dengan berat lahir rendah, kelainan bawaan, hingga masalah gizi dan kesehatan gigi pada anak.
Pada kelompok usia sekolah dan remaja, satu dari lima anak ditemukan memiliki tekanan darah di atas normal. Prevalensi gigi berlubang pun mencapai hampir separuh. Sementara pada kelompok dewasa, satu dari tiga peserta mengalami obesitas sentral, serta ditemukan jutaan kasus hipertensi dan diabetes.
“Hipertensi ini silent killer karena bisa berujung pada penyakit jantung dan stroke,” ujarnya. Pada kelompok lansia, lebih dari separuh peserta tercatat memiliki tekanan darah di atas normal. (***)
LAPORAN : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK