Buka konten ini

PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing tak lantas meredam denyut bisnis properti di Kota Batam. Di tengah tren masyarakat yang mulai melirik emas sebagai instrumen lindung nilai, Real Estate Indonesia (REI) Batam memastikan minat terhadap hunian, khususnya segmen menengah ke bawah, masih relatif stabil pada awal tahun ini.
Ketua REI Batam, Robinson Tan, mengatakan stabilnya pasar properti Batam ditopang oleh karakter konsumen yang didominasi pembeli rumah untuk kebutuhan tempat tinggal, bukan semata-mata investasi.
“Mayoritas anggota REI Batam menjual ke end user. Jadi pembelian rumah lebih didorong kebutuhan, bukan untuk spekulasi atau investasi jangka pendek,” ujar Robinson, Jumat (23/1).
Menurutnya, pola tersebut membuat segmen menengah ke bawah tetap tangguh di tengah dinamika ekonomi. Sementara segmen menengah ke atas, yang sebagian pembelinya berorientasi investasi, berpotensi terdampak oleh pergeseran minat ke instrumen lain seperti emas, meski sejauh ini belum signifikan.
“Segmen atas mungkin ada pengaruh karena orientasi investasinya, tapi secara keseluruhan dampaknya belum terasa,” katanya.
Robinson menambahkan, kondisi pasar properti Batam hingga awal tahun ini masih relatif sama dengan tahun sebelumnya. REI Batam masih mencermati pergerakan pasar hingga kuartal pertama untuk melihat arah permintaan ke depan.
“Pasarnya masih seperti tahun lalu. Kami pantau kuartal pertama ini untuk melihat bagaimana respons masyarakat,” ujarnya.
Terkait fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, Robinson menegaskan belum ada laporan dari anggota REI Batam mengenai dampak langsung terhadap penjualan properti.
“Sejauh ini belum ada laporan penurunan penjualan akibat kurs,” katanya.
Ia menegaskan, apabila terjadi penyesuaian harga jual properti, faktor utamanya bukan pelemahan rupiah, melainkan kenaikan biaya produksi, seperti harga material bangunan dan upah minimum.
“Kenaikan harga, kalau ada, lebih karena biaya material dan UMK yang naik. Itu penyesuaian normal, bukan karena kurs,” jelas Robinson.
Hingga kini, REI Batam juga belum melihat adanya lonjakan harga properti yang dipicu langsung oleh dinamika nilai tukar.
“Sementara ini belum terlihat lonjakan harga karena faktor kurs,” tutupnya.
Pengembang Optimistis
Secara nasional, pengembang properti optimistis kondisi ekonomi di awal 2026 akan membaik. Hal ini akan berimbas pada penjualan unit yang bisa terserap maksimal oleh pasar. Bahkan, sebagian pengembang meluncurkan produk di akhir tahun agar bisa start lebih awal untuk penjualan di awal tahun.
Direktur Ciputra Group, Agung Krisprimandoyo menjelaskan, banyak pengembang yang melihat perputaran uang pulih pada Oktober tahun lalu. Sentimen pemerintah dari sisi fiskal dan moneter pro belanja mampu membuat sektor swasta mulai bergerak lagi.
”Memang hingga Juni (2025), pasar properti anjlok. Namun, saat ini sudah mulai membaik. Di proyek-proyek Ciputra sendiri, kami rasa realisasi penjualan bisa sampai 80 persen dari target,” jelasnya, belum lama ini.
Bukan hanya rumah tapak, pengembang lain juga meyakini penjualan hunian vertikal bakal terkerek. Dengan momentum dan strategi kinerja akan terus tumbuh hingga tahun depan.
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi menjelaskan, masa paceklik yang dialami industri properti sudah berakhir. Hal tersebut dikarenakan banyak kebijakan pemerintah yang dirasa bakal mendorong pergerakan industri. Misalnya pernyataan mengenai insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) yang akan diperpanjang hingga 2027.
”Yang paling penting, suntikan dana Rp200 triliun ke bank itu benar-benar membantu kami. Karena cost of fund bank akan turun dan hasilnya bunga KPR juga menjadi rendah,” jelasnya di Surabaya belum lama ini.
Di Batam sendiri, geliat pertumbuhan sektor properti juga terus moncer. Sejumlah properti baik itu landed house maupun vertical building tampak terus bertumbuh di sejumlah wilayah, baik itu di Nagoya dan Jodoh maupun di Batam Center. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK