Buka konten ini

BATAM (BP) – Minat sejumlah pelaku usaha Malaysia terhadap sejumlah sektor unggulan di Batam kembali menguat. Pemerintah Kota (Pemko) Batam, Rabu (21/1), menerima kunjungan delegasi Dewan Pemasaran dan Perdagangan Malaysia Antar Bangsa (Malaysia International Marketing and Trade Council/MIMTC) di Kantor Wali Kota Batam.
Mewakili Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota, Li Claudia Chandra, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Batam, Yusfa Hendri menyambut langsung rombongan delegasi yang dipimpin Zuber bin Hj Bakri.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Malaysia menyampaikan ketertarikan terhadap sektor industri manufaktur, perdagangan komoditas unggulan, serta jasa pendukung industri yang berkembang pesat di Batam.
“Pertemuan ini merupakan langkah awal yang sangat positif. Pemerintah Kota Batam membuka ruang seluas-luasnya bagi kolaborasi perdagangan yang saling menguntungkan. Kami berkomitmen memberikan kemudahan bagi pelaku usaha Malaysia yang ingin mengeksplorasi potensi pasar di Batam,” ujar Yusfa.
Zuber bin Hj Bakri menyebut Batam sebagai pintu masuk strategis untuk memperluas jaringan pemasaran produk dan jasa Malaysia di Indonesia. Kedekatan geografis, konektivitas pelabuhan, serta status kawasan perdagangan bebas dinilai menjadi faktor penarik utama.
“Batam memiliki posisi yang sangat strategis. Kami melihat peluang kerja sama yang dapat meningkatkan volume perdagangan bagi kedua pihak,” katanya.
Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemko Batam turut memaparkan potensi daerah, mulai dari industri pengolahan, logistik, hingga pengembangan sektor jasa. Diskusi juga menyinggung upaya penyederhanaan rantai pasok antarwilayah guna menekan biaya distribusi dan meningkatkan efisiensi perdagangan.
Meski demikian, ketertarikan investor dan pelaku usaha Malaysia tersebut juga memunculkan pertanyaan terkait dampaknya terhadap pelaku industri lokal. Masuknya produk dan jaringan distribusi baru berpotensi memperketat persaingan, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM) yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam rantai pasok industri besar.
Di sisi lain, kolaborasi lintas negara ini dinilai dapat membuka peluang kemitraan dan perluasan pasar bagi pelaku usaha Batam jika dirancang dengan skema yang inklusif. Integrasi perdagangan lintas batas berpotensi memperluas akses ekspor produk Batam ke Malaysia sekaligus memperkuat jejaring industri di kawasan Selat Malaka.
Penguatan kerja sama tersebut juga menuntut kepastian regulasi dan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah daerah dan otoritas kawasan. Tanpa kepastian perizinan, kemudahan logistik, serta perlindungan bagi pelaku usaha lokal, peluang perdagangan bilateral dikhawatirkan tidak berjalan optimal atau bahkan timpang. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK