Buka konten ini
Latiza Alexandra Setia, bocah 10 tahun asal Batam, sukses mengharumkan nama daerah setelah meraih empat piala pada ajang Indonesia’s Modern Bridal Fashion Show Case–Mega Wedding and Lifestyle Singapore 2026 di Singapura. Hal ini membuktikan bahwa keterlambatan tumbuh kembang sewaktu dini tidak menghalangi anak bersinar gemilang.

DI balik sorot lampu panggung dan gaun pengantin modern yang anggun, seorang anak perempuan asal Batam berdiri dengan senyum tenang. Namanya Latiza Alexandra Setia. Dari Singapura, bocah 10 tahun itu pulang membawa empat piala sekaligus, mengharumkan nama daerah dalam ajang Indonesia’s Modern Bridal Fashion Show Case–Mega Wedding and Lifestyle Singapore 2026.
Minggu siang (18/1), Latiza tampak santai mengenakan kaus merah muda. Tak ada kesan gugup saat ia ditemui Batam Pos di rumahnya. Ia duduk di sisi kedua orang tuanya, sesekali tersenyum, seolah tak sedang menyimpan cerita besar tentang empat piala yang baru saja dibawanya pulang dari luar negeri.
Latiza menjadi satu-satunya perwakilan dari Batam dalam ajang yang diikuti 47 peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut. Meski berlabel nasional, panggungnya digelar di Singapura dan bekerja sama dengan Mega Express International. Bagi Latiza, ini merupakan pengalaman pertamanya tampil di luar negeri.
Empat prestasi yang diraih Latiza bukan perkara kecil. Ia menyabet Grand Prix Champion People’s Choice Award, First Place Icon of the Year, Best Photographic Model, dan Best Participant. Empat piala itu mungkin akan menghiasi lemari rumahnya. Namun bagi Latiza dan keluarganya, kemenangan sejati adalah keberanian melangkah, mengalahkan cemas, dan tumbuh dengan percaya diri.
“Sejak kecil, fokus kami bukan juara. Yang kami kejar itu tumbuh kembang anak dan kepercayaan dirinya. Juara itu bonus,” ujar sang ibu, Wenny, mendampingi Latiza.
Perjalanan Latiza dimulai jauh sebelum gemerlap panggung. Saat balita, Wenny menyadari putrinya mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Latiza terlambat berjalan dan mengalami keterlambatan bicara (speech delay).
“Waktu itu kami mencari terapi yang tepat. Tujuannya bukan supaya dia tampil, tetapi supaya saraf motoriknya berkembang dan dia punya rasa percaya diri,” tutur Wenny.
Hingga usia lima tahun, Latiza masih menunjukkan kecemasan sosial. Namun orang tuanya memilih pendekatan yang berbeda. Mereka tidak memaksa, tidak membandingkan dengan anak lain. Setiap aktivitas selalu diawali satu pertanyaan sederhana: Latiza mau atau tidak.
“Kalau dia capek atau tidak mau, ya kami berhenti. Pola asuh sekarang harus fleksibel,” kata Wenny.
Dunia modeling justru menjadi salah satu terapi yang cocok. Dari sana, Latiza perlahan tumbuh menjadi anak yang lebih proaktif. Ia menikmati panggung tanpa merasa terbebani. Di Batam, Latiza sudah mengikuti berbagai lomba, membangun jam terbang sejak usia dini.
Wenny pun turut mendukung dengan keahliannya. Ia kerap menyulap gaun Latiza agar tampil lebih menarik dan berbeda.
“Meski sudah bagus dari desainer, biasanya saya tetap ubah sedikit. Saya ingin usaha saya menyatu dengan dia saat lomba,” ungkapnya.
Ketika kesempatan tampil di Singapura datang, Wenny kembali bertanya kepada putrinya. “Kamu siap? Latihannya banyak, waktunya panjang,” kenangnya. Latiza menjawab siap.
Persiapan menuju ajang internasional itu relatif singkat, sekitar satu hingga dua minggu. Namun Latiza sudah memiliki bekal kepercayaan diri untuk tampil maksimal.
Ajang di Singapura berlangsung selama dua hari. Pada 8 Januari digelar sesi pemotretan, sementara grand final berlangsung pada 9 Januari. Meski menjadi pengalaman pertamanya tampil di luar negeri, Latiza mampu melewati seluruh rangkaian acara dengan baik.
“Alhamdulillah bisa membawa pulang empat piala. Latiza sudah memberikan yang terbaik,” ujar Wenny.
Akademik Tetap Prioritas
Tak hanya bersinar di panggung mode, Latiza juga menorehkan prestasi akademik. Saat ini duduk di kelas IV SD, ia tercatat sebagai juara kelas sejak kelas II.
“Awalnya saya juga ragu, apakah Latiza bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi alhamdulillah, dia bisa. Bahkan juara kelas,” ujar Krisna, ayah Latiza.
Bagi Krisna, pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Modeling hanyalah salah satu sarana tumbuh kembang.
“Anak tetap punya hak untuk berkembang, apa pun kondisinya,” katanya.
Ia mnegaskan, keluarga tidak pernah memasang target prestasi berlebihan. Yang utama adalah proses tumbuh dan kemampuan bersosialisasi.
“Kami mengejar pengalaman. Proses bertumbuh itu yang paling penting,” ujarnya.
Jika Latiza terlihat lelah atau kehilangan minat, mereka memilih berhenti. “Kalau dia tidak mau, ya sudah. Kami lihat kondisinya. Intinya kami berusaha memberi yang terbaik,” kata Krisna.
Selain modeling, Latiza juga menekuni musik dengan les piano serta hobi menggambar. Namun, orang tuanya tetap membatasi ambisi.
“Kami tidak memaksakan. Selama Tiza (panggilan Latiza) senang, kami lanjutkan,” ujarnya.
Latiza mengaku pernah merasa minder saat melihat peserta lain. “Pernah insecure (tidak percaya diri),” katanya pelan. Namun perasaan itu justru memacunya untuk tampil lebih baik.
Kini, Latiza semakin nyaman berada di panggung. Ia bisa tampil sendiri, menikmati setiap proses, tanpa tekanan.
Saat ditanya cita-cita, Latiza tersenyum lebar. Ia menyebut banyak hal: pianis, pelukis, YouTuber. Namun, satu yang paling membuatnya bersemangat adalah menjadi dokter kecantikan.
“Biar perempuan kelihatan cantik,” ujarnya polos, disambut tawa kedua orang tuanya.
Latiza lahir di Batam pada 29 April 2015. Saat ini, ia berada di bawah naungan agensi modeling Zema Aplus Batam—dengan bakat, dukungan keluarga, dan kepercayaan diri yang terus bertumbuh. (***)
LAPORAN : YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK