Buka konten ini

Hepatitis merupakan penyakit yang kerap tidak disadari penderitanya karena sering kali tidak menimbulkan gejala di awal. Padahal, jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik, hepatitis dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis yang berbahaya.

MENURUT Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Gastro Entero Hepatologi RS Awal Bros Batam, dr. Ninda Septia Yuspar, Sp.PD-KGEH, FINASIM, secara umum hepatitis adalah peradangan pada hati. Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus maupun faktor non-virus.
“Hepatitis adalah radang kronis pada hati. Penyebabnya bisa karena virus, seperti hepatitis A, B, dan C, atau non-virus seperti autoimun, efek samping obat-obatan, maupun penyakit tertentu yang memicu peradangan hati,” jelas dr Ninda dalam siaran Live Instagram bertema “Jangan Anggap Sepele! Yuk Kenali Hepatitis”.
Di Indonesia, jenis hepatitis yang paling banyak ditemukan dan bersifat kronis adalah hepatitis B dan hepatitis C. Kedua jenis ini dapat menular melalui darah, hubungan seksual, serta dari ibu ke bayi saat persalinan.
“Penularan hepatitis B di Indonesia cukup banyak terjadi dari ibu ke anak. Karena itu, skrining pada ibu hamil dan vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir sangat penting untuk memutus rantai penularan,” ujar dr. Ninda.
Ia menambahkan, dalam praktik sehari-hari, pasien hepatitis B dan C masih cukup sering ditemui di Batam. Namun banyak dari mereka baru mengetahui status hepatitisnya secara tidak sengaja, misalnya saat medical check up, donor darah, atau pemeriksaan kehamilan.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan hepatitis adalah gejalanya yang kerap tidak terasa di awal. “Kebanyakan penderita hepatitis terlihat sehat. Tidak ada keluhan khusus. Karena itu, banyak yang baru tahu ketika sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium,” katanya.
Padahal, jika tidak terkontrol, hepatitis kronis dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti sirosis hati dan kanker hati.
Dr. Ninda menjelaskan, hepatitis B dan C yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi sirosis hati, yaitu kondisi kerusakan hati kronis. Gejalanya antara lain perut membesar karena penumpukan cairan, tubuh mudah lelah, hingga gangguan perdarahan.
“Pada sirosis hati, bisa terjadi perdarahan saluran cerna, seperti muntah darah atau buang air besar berwarna hitam,” ungkapnya.

Komplikasi lainnya adalah tumor atau kanker hati. Kondisi ini biasanya ditandai dengan nyeri perut atau benjolan di area hati dan memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti USG atau CT scan.
Karena hepatitis sering tidak menunjukkan gejala, dr. Ninda menekankan pentingnya deteksi dini, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti memiliki anggota keluarga dengan hepatitis, pernah menjalani transfusi darah, atau memiliki riwayat tindakan medis tertentu.
“Hepatitis itu penyakit yang selalu ada di sekitar kita. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, komplikasi serius bisa dicegah,” tutupnya.
dr. Ninda menjelaskan bahwa hepatitis, terutama hepatitis B dan C, dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis jika tidak ditangani dengan baik.
“Pada kondisi kronis, hepatitis bisa menyebabkan sirosis hati hingga kanker hati. Karena itu, deteksi dini sangat penting,” ujarnya.
Salah satu komplikasi berat akibat sirosis hati adalah varises esofagus, yakni pelebaran pembuluh darah di kerongkongan. Kondisi ini berbahaya karena dapat pecah dan menyebabkan muntah darah atau buang air besar berwarna hitam.
“Jika ditemukan varises esofagus, terapi yang dilakukan biasanya ligasi varises untuk mencegah perdarahan,” jelas dr. Ninda.
Sementara pada kanker hati, penanganan disesuaikan dengan ukuran dan tingkat keganasan tumor (grading). Terapi dapat berupa pengangkatan tumor, tindakan TACE, ablasi, hingga kemoterapi. Namun, pada kondisi lanjut, perawatan bersifat paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Menurut dr. Ninda, angka harapan hidup pasien sangat bergantung pada kondisi saat datang berobat.
“Sirosis hati yang masih terkontrol memiliki harapan hidup lebih baik. Namun jika sudah tidak terkontrol, tentu harapan hidup lebih kecil. Meski begitu, kami tetap berupaya memberikan terapi terbaik sesuai kondisi pasien,” katanya.
Hepatitis B dan C Berbeda
Ia menjelaskan, hepatitis C kini memiliki peluang sembuh lebih tinggi karena terapi yang semakin agresif dan efektif. Berbeda dengan hepatitis B yang pengobatannya sangat bergantung pada kondisi sistem imun pasien.
“Tidak semua hepatitis B langsung diobati. Ada yang cukup dipantau setiap enam bulan dengan pemeriksaan seperti FibroScan untuk menilai kepadatan dan peradangan hati,” jelasnya.
Namun, pada hepatitis B atau C yang sudah berkembang menjadi sirosis, pengobatan bisa berlangsung seumur hidup.
Penularan hepatitis B paling sering terjadi secara vertikal dari ibu ke anak, selain melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bersama, termasuk pada penyalahgunaan narkoba.
“Hepatitis tidak menular melalui makan bersama atau kontak biasa. Penularan terjadi melalui darah dan cairan tubuh,” tegas dr. Ninda.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan bagi anggota keluarga pasien hepatitis.
“Jika seseorang terdiagnosis hepatitis B, sebaiknya pasangan, anak, dan saudara kandung ikut diperiksa. Jika hasilnya negatif, segera lakukan vaksinasi untuk memutus rantai penularan,” ujarnya.
Vaksin hepatitis B juga menjadi solusi bagi pasangan yang hendak menikah. Menurutnya, hepatitis tidak menghalangi pernikahan selama pasangan yang sehat telah divaksin dan memiliki kekebalan.
Hepatitis kronis sering kali tidak menunjukkan gejala sama sekali. Banyak pasien baru mengetahui dirinya terinfeksi setelah bertahun-tahun, bahkan saat sudah terjadi kerusakan hati.
“Berbeda dengan hepatitis akut yang bisa menimbulkan lemas, mual, muntah, dan kuning. Hepatitis kronis sering ‘diam-diam’ merusak hati,” kata dr. Ninda.
Pemeriksaan hepatitis dilakukan melalui tes darah, seperti HBsAg untuk hepatitis B dan anti-HCV untuk hepatitis C. Medical check-up setahun sekali sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau riwayat keluarga hepatitis.
Vaksinasi Jadi Kunci Pencegahan
Untuk mencegah hepatitis B, vaksinasi menjadi langkah paling efektif. Vaksin hepatitis B diberikan sejak bayi baru lahir, terutama pada bayi dari ibu yang terinfeksi hepatitis B.
“Vaksin hepatitis B hanya diberikan pada orang yang belum terinfeksi. Jika seseorang sudah positif hepatitis B, maka vaksin tidak diperlukan, yang dibutuhkan adalah pemantauan dan pengobatan,” jelas dr. Ninda.
Bagi orang dewasa yang pernah mendapat vaksin di masa kecil, kekebalan tubuh masih bisa diperiksa melalui tes laboratorium. Jika kadar antibodi menurun, dokter dapat mempertimbangkan vaksin ulang.
Untuk pencegahan, dr. Ninda menegaskan bahwa vaksinasi dan pola hidup sehat adalah kunci utama. “Tidak ada pantangan makanan khusus. Yang penting pola hidup sehat, olahraga teratur, dan menghindari alkohol serta penggunaan jarum suntik bergantian,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan bahwa hepatitis dapat dikendalikan bila terdeteksi sejak dini.
“Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi berat seperti sirosis dan kanker hati,” pungkasnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY