Buka konten ini

PELEMAHAN tajam nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing dalam sepekan terakhir justru membawa berkah bagi sektor pariwisata Batam. Di tengah fluktuasi kurs, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kota Batam menunjukkan tren peningkatan, khususnya wisman dari Singapura dan Malaysia.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam mencatat, arus wisatawan lintas negara tetap terjaga. Kondisi ini sejalan dengan melemahnya rupiah yang membuat Batam semakin kompetitif di mata wisatawan asing, khususnya dari negara-negara tetangga.
Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI), nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) tercatat di level Rp16.964,40 per USD (kurs jual) dan Rp16.795,60 (kurs beli). Sementara dolar Singapura (SGD) berada di kisaran Rp13.168,05 (jual) dan Rp13.031,97 (beli). Adapun ringgit Malaysia (MYR) tercatat pada level Rp4.184,61 (jual) dan Rp4.137,87 (beli).
Sekretaris PHRI Batam sekaligus pemilik Biz Hotel Nagoya, Teddy, mengatakan pelemahan rupiah sejak awal tahun berdampak langsung pada meningkatnya kunjungan wisatawan lintas batas ke Batam. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan tingkat hunian hotel.
“Dengan nilai tukar rupiah yang melemah, segmen tamu lintas negara meningkat. Dari pantauan sejumlah hotel, kenaikannya berkisar 20 hingga 25 persen secara year on year dibanding Januari 2025,” ujar Teddy saat dihubungi Batam Pos, Kamis (22/1) sore.
Menurut Teddy, wisatawan asal Singapura masih mendominasi kunjungan ke Batam.
Namun, lonjakan signifikan juga terlihat dari wisatawan Malaysia.
“Masih didominasi Singapura, tetapi kenaikannya cukup signifikan. Bahkan ada satu hotel yang mencatat tamu asal Malaysia naik lebih dari 30 persen dibanding Januari tahun lalu,” katanya.
Peningkatan tersebut mulai terasa sejak pekan pertama Januari 2026. Untuk data kumulatif kunjungan wisatawan secara keseluruhan, PHRI Batam masih menunggu rilis resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
“Di Biz Hotel sendiri, okupansi naik sekitar 30 persen. Untuk sementara, kami baru bisa menyampaikan dalam bentuk persentase,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardi Winata, membenarkan pelemahan rupiah tidak mengganggu arus kunjungan wisatawan.
Sebaliknya, Batam justru diuntungkan dengan posisinya sebagai kota MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions).
“Batam ini kota MICE. Banyak pertemuan bisnis, kegiatan pemerintahan, organisasi, komunitas, hingga reuni yang digelar di sini,” kata Ardi.
Ia menjelaskan, kekuatan Batam terletak pada dukungan infrastruktur pariwisata yang lengkap. Saat ini, Batam memiliki 238 hotel dengan fasilitas memadai dan strategis.
“Hotel-hotel kita sangat mendukung. Pilihan after meeting juga beragam, mulai dari kuliner, golf, bersepeda, wisata religi ke masjid dan vihara, hingga wisata bahari seperti Bengkong Laut,” jelasnya.
Dalam konsep kota MICE, lanjut Ardi, aktivitas pasca pertemuan menjadi faktor penting. Batam dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut secara komprehensif.
“Setelah meeting, orang mau ke mana? Di Batam semuanya ada. Itu sebabnya Batam menarik sebagai kota pertemuan. Hal ini juga sejalan dengan 15 program prioritas Wali Kota Batam dalam mendorong investasi dan pengembangan destinasi MICE,” tegasnya.
Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, Ardi memastikan arus wisatawan ke Batam tetap terjaga. Bahkan, berdasarkan pemantauan sementara, tren kunjungan meningkat.
Nilai mata uang asing lebih tinggi dari rupiah menjadi salah satu alasan mereka pilih Batam tempat pelesiran. Dengan modal beberapa dolar atau ringgit saja, sudah bisa menikmati banyak hal di Batam.
“Pantauan kami, kunjungan wisatawan meningkat. Untuk angka detailnya, nanti akan dirilis secara resmi oleh BPS,” pungkasnya. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO