Buka konten ini

NIAT pemerintah melindungi industri plastik hulu lewat bea masuk anti-dumping (BMAD) dan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) justru dikhawatirkan dapat menekan manufaktur hilir. Pelaku industri mengingatkan, tarif yang tidak disesuaikan dengan kondisi pasokan dalam negeri berpotensi menggerus daya saing produk nasional.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, menekankan pentingnya evaluasi BMAD dan BMTP secara menyeluruh. Menurut dia, ketidakseimbangan tarif antara bahan baku dan produk jadi dapat mendorong masuknya barang impor sekaligus melemahkan basis manufaktur nasional.
“Kami mendorong kajian yang lebih komprehensif agar kebijakan yang diambil benar-benar seimbang bagi kepentingan industri nasional,” ujar Adhi, Kamis (22/1).
Sorotan serupa datang dari Asosiasi Kemasan Indonesia (Rotokemas). Perwakilannya, Ferry Bunarjo, menyinggung pasokan LLDPE C6 yang banyak dipakai industri kemasan. Dia menilai komunikasi pasar antara produsen hulu dan industri pengguna masih minim, meski pasokan domestik kerap disebut mencukupi.
“Kami tidak pernah mendapat penawaran pasokan, tapi kebijakan BMTP diajukan. Ini menunjukkan kebutuhan riil industri hilir belum dipetakan dengan baik,” katanya.
Ferry juga mengingatkan, hampir seluruh bahan baku kemasan kini telah dikenai berbagai instrumen trade remedies. Sebaliknya, produk jadi impor belum menghadapi tarif setara. Akibatnya, biaya produksi naik dan berpotensi mendorong kenaikan harga pangan serta kebutuhan sehari-hari.
Dari sektor elektronik, Kepala Bidang Regulasi Gabungan Perusahaan Industri Elektronika dan Alat-alat Listrik Rumah Tangga (Gabel), Harry Wibowo, menyatakan industri pengguna pada prinsipnya mendukung penguatan produksi dalam negeri. Namun, kapasitas dan ragam produk hulu dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri.
“Kami akan sepenuhnya memakai produk dalam negeri ketika sudah sesuai kebutuhan industri. Selama belum tersedia, impor masih dibutuhkan,” ujarnya.
Sejumlah asosiasi mencatat, bahan baku plastik menyumbang porsi besar dalam struktur biaya produksi: 30–50 persen pada industri makanan dan minuman, 60–80 persen pada industri kemasan, 5–20 persen di sektor elektronik, serta 20–40 persen di industri daur ulang. Dengan komposisi itu, kenaikan harga bahan baku dinilai langsung memangkas daya saing produk nasional. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO