Buka konten ini

DAVOS (BP) – Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk menguasai Greenland, Denmark, memicu kemarahan luas di Eropa. Para pemimpin negara, kepala pemerintahan, hingga tokoh politik Benua Biru ramai-ramai mengecam sikap Trump dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss.
Ketegangan mencuat setelah Trump berulang kali menegaskan keinginannya mengambil alih Greenland, wilayah otonom Denmark yang kaya sumber daya mineral dan memiliki posisi strategis secara militer. Bahkan, Trump mengumumkan ancaman pengenaan tarif baru sebesar 10 hingga 25 persen terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa yang menentang rencana tersebut.
Reaksi keras datang dari Inggris. Legislator senior Parlemen Inggris sekaligus pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, menyebut Trump bertindak layaknya gangster internasional. Dalam pidatonya di parlemen, Davey bahkan menuding Trump sebagai presiden Amerika Serikat paling korup sepanjang sejarah.
“Presiden Trump bertindak seperti seorang gangster internasional,” kata Davey, seperti dikutip BBC.
Davey menilai Trump menggunakan tekanan ekonomi untuk mengintimidasi sekutu Amerika Serikat di Eropa yang tergabung dalam NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), sekaligus menginjak-injak kedaulatan negara lain. Menurut dia, sikap agresif Washington justru akan menguntungkan Rusia dan China sebagai dua rival utama AS.
Dari Davos, Presiden Prancis, Emmanuel Macron menegaskan Eropa tidak akan tunduk pada tekanan dan menolak kebangkitan imperialisme atau kolonialisme gaya baru.
“Ini bukan waktunya imperialisme baru,” tegas Macron.
Macron juga mengkritik ancaman tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara yang mendukung Denmark mempertahankan Greenland. Uni Eropa, kata dia, siap merespons secara tegas jika Washington benar-benar melanjutkan tekanan ekonomi tersebut.
Meski mendapat kecaman dari berbagai penjuru, Trump tetap bersikukuh. Ia menyebut Greenland sangat penting bagi keamanan Amerika Serikat dan NATO, terutama di tengah mencairnya es Arktik serta meningkatnya persaingan strategis dengan Rusia dan China.
“Anda akan segera mengetahuinya,” kata Trump saat ditanya seberapa jauh ia akan melangkah demi mendapatkan Greenland.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney turut memperingatkan Trump bahwa tatanan global yang selama ini dipimpin Amerika Serikat tengah menuju keretakan. Dalam pidatonya di Davos, Carney menyebut dunia kini memasuki era persaingan kekuatan besar, di mana negara kuat menggunakan ekonomi sebagai alat paksaan.
“Ini bukan masa transisi, melainkan keretakan,” ujar Carney.
“Kanada berdiri bersama Greenland dan Denmark serta mendukung hak mereka untuk menentukan masa depan sendiri.”
Trump dijadwalkan berpidato di Davos dan menggelar sejumlah pertemuan dengan para pemimpin Eropa. Namun, ambisinya terhadap Greenland telah menciptakan salah satu krisis hubungan Washington–Eropa terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara itu, Rusia yang selama ini kerap dituding memiliki kepentingan terhadap Greenland, akhirnya angkat bicara. Dikutip dari TASS, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menampik anggapan bahwa negaranya berniat merebut Greenland dari Denmark.
“Saya yakin Washington sangat menyadari bahwa Rusia maupun China tidak memiliki rencana seperti itu. Itu bukan agenda kami,” ujar Lavrov.
Ia bahkan menyebut mayoritas warga Rusia sebelumnya tidak mengetahui keberadaan Greenland hingga isu tersebut ramai disorot. Lavrov menilai persoalan Greenland merupakan isu yang seharusnya dibahas dalam kerangka NATO.
“Ini adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh NATO. Kita akan melihat bagaimana masalah ini diselesaikan,” katanya.
Dari Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun mendesak Amerika Serikat agar berhenti menjadikan “ancaman China” sebagai dalih untuk mengejar ambisi geopolitik. Trump, menurut Guo, kerap mengaitkan isu Rusia dan China dalam berbagai konflik, termasuk Greenland.
Padahal, berdasarkan laporan intelijen Denmark yang dirilis pekan lalu, sudah lebih dari satu dekade tidak ada kapal China yang melintas di sekitar Greenland. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK