Buka konten ini

Dosen Living Qur’an FAI Universitas Nurul Jadid; Peneliti di iKMAS Universiti Kebangsaan Malaysia
ISRA Mikraj dirayakan saban tahun. Para penceramah bercerita tentang pengalaman Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha, tempat batas pengetahuan. Bagaimanapun, peristiwa itu adalah cerita favorit kaum sufi yang merindukan perjumpaan dengan Tuhan. Namun, setelah ’’berjumpa’’ Tuhan, Nabi memilih untuk turun ke bumi, bukan bermastautin di langit, yang juga mirip dengan cerita Zarathustra.
Tetapi, pernahkah moral cerita tersebut membekas di benak umat? Lalu, adakah pengetahuan mistik itu merembes pada perbuatan sehari-hari? Doa pertanyaan yang layak direnungkan.
Kini, orang modern acap melupakan langit dan mengutamakan bumi. Ekonomi telah menjadi tumpuan semua manusia. Ekspresi-ekspresi kebudayaan, sosial, politik, dan budaya adalah kehendak untuk mengaut kekayaan materi. Mereka sedang berburu ’’celeng’’ untuk menemukan makna hidup. Tak pelak, materialisme yang menyangkal spiritualitas dan menempatkan benda sebagai tujuan hidup tumbuh subur. Ironisnya, banyak orang yang menentang paham itu, tetapi mereka justru memanjakan hedonisme.
Berdasar fenomena tersebut, seharusnya Isra Mikraj tidak hanya merayakan hari besar Islam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai melalui kisah. Anthony J. Sanford dan Chaterine Emmott dalam buku Mind, Brain and Narrative menegaskan, cerita memungkinkan pembaca untuk mengalami secara hidup konteks fiksi maupun nonfiksi. Bagaimanapun, kaum muslim bisa memahami bagian-bagian kisah magis dari kisah Nabi dan pada waktu yang sama cerita tersebut mendorong keadaan emosional dan respons moral mereka secara efektif.
Imanensi-Transendensi
Meski penonjolan pertemuan Nabi dan Tuhan begitu kuat, peringatan itu mengandaikan dua dimensi, yaitu bumi dan langit. Dalam perjalanan spiritual tersebut, Nabi memperoleh pelajaran tentang masa lalu dan masa mendatang. Itu berarti hari ini umatnya harus menimbang apa yang bisa menyelamatkan orang Islam, yang berhubungan dengan Tuhan (ibadah) dan hubungan dengan manusia (muamalah).
Ketika keseimbangan tersebut menjadi pijakan, umat tentu tidak lagi menghabiskan waktu dengan pemenuhan material, tetapi juga spiritual. Sementara pada waktu yang sama, umat juga menjaga hubungan harmonis antara sesama dan kelompok yang berbeda.
Gambaran lain yang juga perlu disimak, kehidupan bermewah-mewah adalah salah satu gaya hidup yang merusak kejiwaan pelaku dan lingkungannya. Penggambaran yang ditunjukkan pada Nabi di langit ketujuh itu berlaku pada abad ke-7, yang tentu saja telah menunjukkan kesesuaiannya dengan keadaan hari ini. Betapa kemewahan adalah bentuk kegagalan manusia paling konkret dalam menikmati kehidupan.
Padahal, Nabi Muhammad mengajarkan kesederhanaan sebagai kesalehan. Bukan hanya itu. Kakbah yang menjadi penanda bagi arah kiblat adalah bangunan yang tidak megah. Hanya sebuah kotak dan titik kecil di bumi yang luas. Apa lacur, justru di tanah Arab itulah kemewahan dipamerkan sedemikian rupa, baik kepemilikan mobil mewah maupun istana.
Kiasan
Dalam ceramah peringatan Isra Mikraj, cerita kenaikan Nabi bukan sekadar tentang seorang makhluk yang bisa menembus langit ketujuh, tetapi juga tentang pesan kemanusiaan yang harus membumi. Sebab, Nabi tidak memilih tinggal di sana, tetapi kembali ke bumi untuk menjaga hidup manusia, alam. Betapa ketimpangan antara menjaga kemanusiaan dan kealaman begitu kentara hari ini. Banyak muslim yang bersikap ramah kepada sesama manusia, tetapi begitu bengis pada hutan dengan melakukan pembalakan sehingga mendatangkan kerusakan dan banjir.
Tentu, gambaran azab yang ditimpakan pada orang-orang yang tidak melaksanakan perintah Tuhan dan suka berbuat zina sangat mengerikan. Bahkan, pada 1980-an, banyak komik yang menggambarkan adegan penyiksaan secara visual. Mungkin, penggambaran seperti itu mengandaikan hierarki moral Lawrence Kohlberg pada tahap awal, di mana seseorang melakukan sesuatu karena takut dihukum. Tentu saja, kesadaran moral tersebut cocok untuk pembelajaran akhlak anak-anak meski pada waktu yang sama nilai-nilai tersurat harus ditanamkan agar mereka bisa melangkah ke tahap selanjutnya.
Akhirnya, pengalaman ibadah Nabi harus dilihat sebagai pencarian kerelaan Tuhan. Dengan berniat ikhlas, hakikatnya seorang muslim melakukan ibadah sebagai kewajiban tanpa mengharapkan balasan surgawi apalagi keuntungan materi. Harus diakui, Tuhan adalah maha pemberi rezeki (al-Razzaq). Namun, pada waktu yang sama, ajaran Nabi mengutuk pemborosan. Lagi pula, rezeki itu bermakna luas. Bukan hanya kebutuhan fisik yang terbatas, melainkan juga psikis yang tidak terhingga. (*)